Cappuccino Menjelang Fajar

Dok. Internet


Jeritan ceret terdengar dari pojok ruang dapur. Seorang lelaki paruh baya yang tengah mengambil gelas bergegas meletakkannya dan menggeser tubuhnya mematikan kompor. Menyeduh kopi tengah malam kelihatannya akan membuatnya terjaga. Kepulan asap dari cangkir putih menebarkan aroma pahit yang menggoda. Dibawanya cangkir itu ke ruang tengah dan diletakannya disamping laptop yang sedang menyala. Setelah duduk diseruputnya kopi pekat itu lalu setengah berdehem. Matanya fokus pada layar laptop yang menyala, jemarinya mulai bergerak menggeser kursor. Berkali-kali ia geser, namun tampaknya belum mendapati yang ia cari.

Sesekali menyeruput isi cangkirnya, ia tak lekang menggeser jari. Hingga kemudian layar laptop itu menampilkan sebuah foto. Jemarinya terhenti, matanya menatap layar lekat-lekat, layar berkedip, memperlihatkan foto seorang perempuan sedang tersenyum kearah kamera. Perempuan berambut hitam lurus dengan binar mata bulat tampak terlihat manis dengan lengkung senyum menunjukkan gigi gingsulnya. Wajahnya yang bulat membuatnya tampak lebih muda dari usianya—baby face. Lelaki itu terdiam menatap layar, jemarinya enggan bergerak, matanya sayu namun tak berkedip seperti menemukan yang telah ia cari sedaritadi.

--

Seorang perempuan manis tampak tersenyum melihat hasil jepretan cameramen disampingnya. Sore itu, taman kota adalah tempat paling tepat bagi setiap pasangan kekasih untuk sekedar menumpahkan rindu. Begitupun dengan Egi, lelaki yang tak pernah lepas dari kamera dalam genggamannya itu kini sedang menikmati senja dengan pujaan hatinya. 

“Gi, nanti habis dari toko buku kita mampir ke kafe biasanya, ya?” ajak perempuan manis itu padanya. Egi mengangguk, sudah sangat hafal dengan kebiasaan perempuan ini. Setiap mereka menghabiskan waktu bersama, perempuan disampingnya tak pernah ketinggalan untuk menghabiskan waktu terakhir mereka di kafe ujung jalan bersama secangkir Cappucino.

Menjelang malam mereka baru keluar dari toko buku berlantai dua kota itu. Dan sesuai rencana mereka sebelumnya, dengan menaiki motor kesayangan Egi mereka melesat ke kafe ujung jalan.

“ Capuccino sama kopi hitam satu ya mas,” kata perempuan itu pada mas kasir yang sudah biasa dilihatnya.

“Baik, Kak. Silakan ditunggu dulu.”

Mereka duduk di meja pojok sebelah jendela, tempat favorit mereka. Disinilah pertama kali mereka bertemu, saat Egi tak sengaja memotret perempuan yang meneguk cappuccino disebelah jendela, dari situ mereka mulai berkenalan. Hingga akhirnya menjadi kekasihnya kini.
Seorang barista menyuguhkan dua cangkir kopi berbeda di atas meja mereka. Perempuan itu menerimanya dan segera minikmati secangkir Cappucinno pesanannya.

“Kamu sudah merasakannya?” tanya perempuan manis itu setelah menyeruput capuccinonya. Pandangannya beralih pada Egi.

“Apa? Kopimu itu?”

“Cappuccino, Egi, itu buatan aku sendiri. Kamu harus merasakannya sebelum aku membuka kedai kopi ku sendiri.”

“Kenapa harus aku ?“

“Aku tak ingin orang lain merasakannya sebelum kamu. Aku membuatnya dengan sepenuh hati. Jadi kamu harus merasakannya.”

“Iya. Nanti aku seduh di rumah,” jawabnya sedikit tak peduli.

Perempuan itu tersenyum. Ia tahu Egi tak akan mencobanya karena seleranya adalah kopi hitam, bukan cappuccino. Namun tetap saja ia harus membuat Egi merasakan Cappuccino buatannya. Nanti sesekali ia akan ke rumah Egi untuk menyeduh Cappuccino favorit yang dibuatnya sendiri agar Egi benar-benar mencobanya.
Tengah malam itu, dalam perjalanan pulang mengantar sang kekasih, Egi dihadang oleh kawanan perampok.

Mereka merenggut paksa tas merah muda milik kekasihnya namun Egi menghalangi. Hingga sebuah pisau kecil dan runcing keluar dari saku salah satu perampok itu dan melukai perut kekasihnya. Perempuan itu terjatuh, tangannya memegang perut yang mengeluarkan banyak darah itu. Egi menatapnya nanar, tak mungkin ia akan membawa perempuan itu menggunakan motornya, namun kendaraan umum sudah tak melintas tengah malam begini. Ia kemudian merogoh ponsel yang ada di sakunya dan memanggil ambulan.

“Tunggu sebentar, kuatkan dirimu. Ambulan akan segera datang,” katanya pada sang kekasih menguatkan. Darah semakin banyak keluar dari perut perempuan itu. Tangannya lemas, ia pingsan terkapar di atas tanah.
Ambulan datang dan segera membawa mereka ke rumah sakit. Egi berusaha menolong nyawa perempuan yang jadi kekasihnya itu, namun semesta berkehendak lain, nyawanya tak tertolong.

--

Lelaki itu menutup laptopnya, merasa menyesal dengan peristiwa beberapa tahun silam. Ia merasa berdosa karena tak bisa menolong nyawa perempuan yang ia cintai itu. Perempuan yang selalu memberinya semangat dan menghabiskan senjanya bersama. Egi melirik jam dinding, pukul tiga hampir pagi, malam akan segera berakhir dan kopi hitma dalam cangkir putihnya telah habis. Ia kemudian berdiri melangkah ke dapur dan hendak membuat kopi lagi. Dibukanya lemari ata tempat menyimpan bubuk kopinya. Tangannya merogoh lemari itu dan tak menemukannya. Sial, bubuk kopinya habis.
Tangannya masih merogoh dan mendapatkan sesuatu. Ah, sepertinya memang masih tersisa untuk malam ini. Dikeluarkannya bubuk kopi itu, dan begitu terkejutnya dia saat melihat benda yang ditemukannya. Bubuk cappuccino pemberian seseorang yang pernah dia cintai masih tersimpan dan kini dalam genggamannya.

Penulis: Fiqya

Posting Komentar

1 Komentar