Agustus 2018
Biarlah mereka yang berbicara,



Penampilan Teater BETA saat mengadakan EXPO ditingkat fakultas



Adik kecil yang sedng menunggu ibunya bekerja mengambil dus bekas makanan mahasiswa baru



Volunteer Tim Kreatif Selebrasi pom-pom dan MOB




Penampilan dari UKM Bandung Karate Club (BKC) 



Terlihat mahasiswa baru sedang membuang sampah 



Anak kecil yang sedang membantu ibunya bekerja mengumpulkan dus di samping Audit 2 Kampus III UIN Walisongo



Selfie zaman now




Pom- pom berserakan di samping Audit 2 Kampus III


*Kumpulan Foto karya Fatimatur Rohmah dan Zamrud Naura Orchida
Potret keragaman budaya dalam acara Pengenalan Budaya Akdemik Kemahasiswaan (PBAK) 2018


Tim Pencak Silat Setia Hati (PSHT) Walisongo sedang menampilkan kreasi kesenian di hadapan mahasiswa baru 2018.


Kesenian Barongan yang menjadi ciri khas daerah Blora ikut meramaikan acara PBAK


Temanggung yang terkenal dengan Kesenian Jaran Kepang

Kendal dengan suguhan tari Kendal Beribadat yang menyejukkan mata setiap orang yang memandangnya

Tari Kretek dari Kudus Kota Kretek 

Selebrasi pom-pom PBAK 2018

Atraksi PSHT UIN Walisongo 2018


Ikatan Mahasiswa Magelang (IKAWAMA) yang mempersembahkan Tari Topeng Ireng. Menjadi tari khas daerahnya.

*Karya : Fatimatur Rohmah


          
Tim KSR sedang menangani salah satu mahasiswa yang sakit (Dok. Fatim) 

Semarang, Edukasionline- Ketua panitia (PBAK) 2018 Masrur mencatat  bahwa terdapat 53 mahasiswa alami sakit selama rangkaian acara berlangsung. Terhitung  1 mahasiswa dilarikan ke Rumah Sakit Tugu karena mengalami mimisan, 7 diantaranya dirujuk ke Klinik sebab dispersi. Selebihnya 45 mahasiswa didiagnosa mengalami sakit karena sesak nafas,  faktor cuaca, serta disinon.

Terdapat 53 mahasiswa yang sakit, terparah 1 mahasiswa dirujuk ke Rumah Sakit Tugu tutur Masrur pada penutupan acara PBAK, Rabu (29/8).

 Wahyu Ilma, salah satu anggota Korps Sukarela (KSR) menyatakan  kewalahan karena kurangnya jumlah tenaga medis.  Tim KSR hanya menyediakan  30 anggota dan setiap fakultas hanya mendapat jatah 2-4 tenaga kesehatan. “ Jumlah mahasiswa yang sakit terlalu banyak, jadinya dari TIM KSR kewalahan”, ungkap mahasiswa semester 3 tersebut.

Kurang adanya kewaspadaan mahasiswa  akan kondisi kesehatan tubuhnya.  Dirasa menjadi salah satu penyebab banyaknya mahasiswa mengalami jatuh sakit. “Beberapa mahasiswa sakit karena tidak membawa obat pribadi”, tuturnya.

Gadis yang biasa disapa Ilma juga mengeluhkan, para pendamping kelas di setiap fakultas kurang gesit memberikan pertolongan kepada mahasiswa yang sakit.  “Seharusnya pendamping kelas ikut membantu, sehingga kami tidak kewalahan”, keluhnya.

Lanjut Ilma yang berharap akan adanya kerjasama yang solid antara paniti dengan tim KSR dalam menangani mahasiswa yang sakit. “Saya berharap panitia tidak bergantung pada tim KSR” tegasnya.
Edu_On/Ifa
Safic Ali saat diwawancarai oleh tim redaksi (Dok. Fatim)


Semarang,EdukasiOnline –Savic Ali, penulis sekaligus founder Islami.co memberikan orasi dengan tema " Mahasiswa dan Literasi; Sinergitas Diskusi dan Aksi" pada penutupan PBAK, Rabu (29/8) bertempat di lapangan kampus III UIN Walisongo. "UIN Walisongo juga bisa mempengaruhi Indonesia", buka Savic dengan bersemangat. Menurut penulis berusia 44 tahun tersebut , mahasiswa dengan tulisan-tulisan yang bagus akan dapat memberikan pengaruh bagi bangsa.

Kemudian Savic menambahkan bahwa membaca dan menulis sudah menjadi kewajiban bagi seorang pencari ilmu. “Membaca menjadikan mahasiswa lebih pintar dan menulis membuat mahasiswa dapat mengungkapkan gagasannya” imbuhnya.  Pria berbaju putih tersebut juga mengatakan bahwa bukan hanya pintar dan berilmu semata tetapi juga bagaimana ilmu bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Adanya internet dan perpustakaan online, menurut Savic mampu mempermudah literasi mahasiswa. "Dulu susah kalo mau cari buku, sekarang apapun ada diinternet" tuturnya. Ia juga menyebutkan bahwa untuk saat ini minat baca buku di Indonesia tergolong rendah. "Kalo ukuran dunia, literasi baca buku kita itu rendah" ujarnya ketika diwawancarai salah satu kru Edukasi.

Meski begitu, menurut penulis kelahiran Tayu, Kabupaten Pati tersebut, ukuran literasi tidak bisa diukur hanya dengan baca buku ."Orang mau belajar lewat internet juga menunjukkan peningkatan literasi", tegasnya. (Edu_On/Did)


Terlihat resitasi pom-pom tercecer di area audit 2 kampus III (Doc. Prayoga)


Orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) merupakan awal untuk mengenal institusi di mana mahasiswa baru akan berkuliah. Awal ketika ia akan mengetahui bagaimana budaya akademik yang ada, sebelum mengenal lebih jauh tentang institusinya. Setiap tahunnya, ospek terkesan menjadi momen hura-hura. Meski tujuan dari ospek yaitu pengenalan budaya akademik kepada mahasiswa baru tersampaikan, hal-hal yang mengitarinya adalah pemicu munculnya anggapan tersebut.

Dari tahun ke tahun, ospek selalu dibuat menjadi lebih meriah. Panitia selalu berusaha menghadirkan hal baru. Mulai dari rangkaian acaranya hingga hal-hal yang dibebankan kepada mahasiswa baru untuk mereka; penugasan atau yang biasa dikenal resitasi. Seperti yang pernah saya temukan di sebuah tulisan di media sosial. Pada ospek yang diadakan di Universitas Gadjah Mada, panitia membebankan resitasi pom-pom pada mahasiswa baru. Bahkan, dalam tulisan tersebut, ada yang berkomentar bahwa ia harus mengganti pom-pomnya karena tidak sesuai persyaratan.

Resitasi ternyata menjadi persoalan di setiap institusi. Entah karena sulitnya menjangkau keperluan resitasi atau karena kekonyolan yang ditimbulkannya. Ketika ospek bergulir, saya mengingat masa orientasi pada masa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang sesungguhnya memiliki inti kegiatan yang sama. Saya mengingat bagaimana sulitnya menerjemahkan apa yang panitia minta, seperti ‘alat tulis profesi’ dan lain sebagainya. Belum ditambah dengan membuat kartu nama yang cukup untuk menutupi perut dan menganyam tali rafia warna pelangi. Itu merupakan sesuatu yang sulit saya terjemahkan.

Sepertinya, resitasi yang dari tahun ke tahun selalu ‘baru dan kreatif’ tidak membuat mahasiswa baru untuk mengenal institusi mereka dengan mudah. Namun resitasi malah menjadi beban bagi mahasiswa baru. Walaupun tak mengurangi dan mengganggu proses pengenalan yang ada, bukan berarti pembebanan resitasi adalah hal baik. Pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tahun ini, timbul beberapa kejanggalan. Seperti pengadaan resitasi oleh kepanitiaan yang memunculkan upaya monopoli hingga pembebanan resitasi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses pengenalan budaya akademik. Contohnya adalah resitasi pin dan resitasi pom-pom. Meski menimbulkan kontroversi karena pengadaannya yang dimonopoli oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas—tapi pada akhirnya membolehkan pihak lain untuk menjual, adanya resitasi pin cukup masuk akal karena pin tersebut dapat digunakan untuk aksesori. Lalu bagaimana dengan resitasi pom-pom?

Nampaknya pembebanan resitasi malah menjadi momen hura-hura, pemborosan, dan sebuah upaya untuk menunjukkan institusi siapa yang paling meriah. Parahnya, hal itu juga menjadi tunggangan bagi beberapa manusia untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Sewaktu masa orientasi SMA, satu-satunya (atau mungkin salah satunya) kepentingan yang ada dalam masa tersebut adalah membuat siswa baru takut dengan siswa-siswa tua yang mendekati masa akhir dan memiliki wajah ngeri lalu diakhiri dengan maaf-memaafkan pada hari terakhir masa orientasi. Tapi di dunia kampus, tidak sesederhana itu saja. Ada banyak sekali kepentingannya. 

Apalagi mahasiswa baru memiliki beban Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semakin mahal ternyata harus ditambah dengan beban resitasi yang juga tidak murah. Ketika masa SMA, tidak ada beban untuk membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), sehingga pembebanan resitasi bukanlah sesuatu yang cukup menyusahkan. Tetapi pada masa setelahnya, yaitu masa pendidikan tinggi, ada beban UKT yang ternyata tidak masuk akal. Nampaknya DEMA tidak berpikir soal ini jauh-jauh hari sebelum PBAK.

Selain itu, mahasiswa baru juga diminta untuk membawa buku dan menulis artikel. Pada tahun lalu, ketika ospek, saya dan teman-teman juga diminta hal yang sama. Iming-iming akan dibuatkan perpustakaan fakultas, buku-buku yang terkumpul ternyata hanya dibiarkan bertumpuk. Sebuah tindaklanjut yang mengecewakan dan sekaligus sebuah bentuk kejahatan. Pembiaran itu sama hal-nya dengan membakar buku-buku yang menjadikan tidak berguna. Hal itu memunculkan pertanyaan apakah ini hanya upaya membangun citra bahwa ada kepedulian literasi?

Lalu soal penulisan artikel yang sampai saat ini saya pun merasa sukar membuatnya. Saya  yakin bahwa sampai saat ini, saya dan kawan-kawan yang terlibat dalam PBAK tahun lalu tidak paham dengan tema yang disodorkan. Mungkin juga termasuk dengan panitia yang menyodorkan tema. 
Bahkan mungkin saja telah terlupakan. Ketika awal masa PBAK, saya tak berpikiran macam-macam soal ini. Saya menganggap bahwa panitia telah memiliki kompetensi dan paham betul tema itu. Lalu setahun berlalu dan saya tahu bahwa sebagian besar dari mereka nampaknya sama saja seperti kami, yang tak tahu apa-apa soal tema, perihal buku dan tulis-menulis. Meski menyusahkan, ada sisi baiknya sedikit, resitasi penulisan artikel ternyata berguna untuk mengenalkan bagaimanakah karakter dunia akademik. Setidaknya bagi saya sendiri. Meskipun sebenarnya sisi buruknya lebih besar, tugas tersebut dapat menimbulkan tindakan plagiarisme yang merupakan kejahatan terkejam dalam dunia akademik.

Dari ingatan tentang PBAK dan masa orientasi ketika SMA, saya jadi yakin, bahwa resitasi adalah suatu yang tidak penting dalam dunia akademik kampus. Barangkali, jika ada upaya untuk merubah resitasi menjadi suatu hal yang lebih bermanfaat—mengenalkan budaya akademik kemahasiswaan, saya akan mendukungnya.

Lagi-lagi, saya harus mengingatkan kembali, ini adalah sebuah tulisan opini. Semoga tidak ada lagi kesalahpahaman tentang macam-macam tulisan. Terima kasih.

*) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia luring, kata ‘resitasi’ memiliki arti: 1) pembacaan hafalan (pengajian) di muka umum; 2) hafalan yang diucapkan oleh murid-murid di dalam kelas. Adanya penulisan yang jauh dari arti semata-mata menyesuaikan penyebutan dan pemahaman yang ada di UIN Walisongo.


Penulis : A.A. Prayoga
Lukman Hakim sedang menerima kenang-kenangan dari Ketua Dema-U (Dok. Fatim)


Semarang, EdukasiOnline – Ketua umum Keluarga Alumni (Kalam) UIN Walisongo Semarang Lukman Hakim himbau mahasiswa baru (Maba) untuk bijak dalam bersosial media karena perkembangan teknologi yang sangat cepat. Hal itu disampaikan langsung pada acara penutupan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018  di lapangan UIN Walisongo, Rabu (29/09).

“Perkembangan media sosial sangat cepat, banyak yang memberi manfaat juga banyak konten-konten negatif yang menyebar. Jadi mahasiswa harus lebih selektif dalam bersosial media”, jelas lelaki yang sering disapa Lukman.

Dalam Orasi Kemahasiswaan, Lukman memberikan pemahaman mengenai dampak media sosial. “Media Sosial banyak memberikan hal positif bagi pemuda, dapat membuka cakrawala lebih luas dan memberikan wadah untuk berkreasi”, tutur alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo tersebut.

Namun, disisi lain sosial media juga ikut andil memberikan pemahaman negatif, terutama bagi kedaulatan bangsa. “Sosial media juga ikut andil memberikan pemahaman negatif, banyaknya fitnah dan berita hoak yang muaranya untuk mengganti falsafah negara”, tambah lelaki bertubuh tinggi tersebut.

Sebelum mengakhiri orasi Lukman berpesan kepada semua Maba untuk cerdas dan mampu memahami kepentingan bangsa.  “Saya berharap UIN Walisongo dapat mencetak mahasiswa cerdas dan peduli dengan kepentingan bangsa”, tegasnya. (Edu_On/Ris)

Doc. Edukasi


Semarang, EdukasiOnline –Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) berikan lima materi kepada mahasiswa baru (Maba) 2018 pada rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK),  Selasa (28/8) kemarin. Bertempat di Aula 2 kampus III acara yang dimulai pukul 07.00 WIB diawali dengan penyampaian materi tentang Orientasi Sistem Akademik (Wali-Siadik) dan Perpustakaan Walisongo oleh Sumaidi selaku Kepala Perpustakaan FITK.

Selanjutnya, materi kedua tentang Kefakultasan dan Sistem Perkuliahan disampaikan oleh Wakil Dekan I, Fatah Syukur. Pada materi ini Fatah Syukur banyak memberikan movitasi pada seluruh mahasiswa FITK. “Janganlah jadi pemimpi tetapi kamu harus punya impian”, ungkapnya penuh semangat.

Namun pada materi ketiga  mengenai Etika Ilmiah dan Anti Plagiarisme dibatalkan. Hal ini disebabkan Syamsul Ma’arif selaku pemateri tidak dapat hadir. Saat dikonfirmasi kepada panitia, mereka menyatakan alasan ketidakhadiran pemateri tidak jelas.  “Pemateri  mengonfirmasi tidak hadir tanpa memberikan keterangan “, ungkap  Ela Agustina selaku panitia PBAK.

Meninggalkan materi ketiga, selaku Wakil Dekan III FITK, Wahyudi menyampaikan materi perihal Tata Kelola Ormawa dan Kebijakan Mahasiswa. Sebelum berlanjut ke materi terakhir, panitia menyuguhkan beberapa penampilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pada Expo Fakultas. Terhitung empat UKM dibawah naungan fakultas  memeriahi expo tersebut.

Pada materi terakhir diisi dengan diskusi bersama Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas dan mendatangkan pemantik Sofyan An-Nasr selaku Dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah, dengan tema Pendidikan Alternatif di Era Disrubtion. (Edu_On/Sit)

Dok. Edukasi


Semarang, EdukasiOnlineMenjadi mahasiswa baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo, diharuskan memiliki keteguhan dalam memilih suatu pilihan. Hal tersebut disampaikan oleh Fatah Syukur selaku Wakil Dekan (Wadek) I FITK, Selasa (28/09).”Menjadi mahasiswa FITK kalian harus sukses, karena kalian adalah orang-orang pilihan”, jelas Fatah Syukur dengan santai.

Hal tersebut didasarkan pada banyaknya orang yang mendaftar menjadi mahasiswa UIN Walisongo. “Ada lima belas ribu lebih orang yang mendaftar di UIN Walisongo, tapi yang diterima hanya 784 orang di wilayah FITK”, terang Fatah Syukur di depan mahasiswa baru FITK.

Demi menumbuhkan semangat mahasiswa, Fatah Syukur menyontohkan salah satu Presiden Indonesia yang teguh dalam pilihannya, yaitu K.H. Abdurrahman Wahid. “Gus Dur adalah orang Indonesia yang teguh dengan pilihannya saat menjadi presiden”, papar lelaki yang telah memilki gelar profesor tersebut.

Sebelum acara selesai, moderator mempersilahkan salah satu mahasiswa baru untuk bertanya. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) menjadi orang yang mendapatkan kesempatan tersebut. Kesempatan itu pun dimanfaatkannya dengan mengajukan satu pertanyaan. “Bagaimana cara mempertahankan semangat, ketika banyak orang  yang meremehkan?”, tanya mahasiswi tersebut.

Tanpa meninggalkan senyum di wajahnya, Fatah Syukur pun menjawab dengan lantang.”Yakinlah bahwa semua impian dapat dicapai, dengan berikhtiar dan berbakti kepada orang tua”, tegas Fatah Syukur di akhir materinya. (Edu_On/Ris)



  
Doc. Edukasi
Semarang, EduOnline--Menyambut mahasiswa baru , tahun ini UIN Walisongo menerima sebanyak 4104 mahasiswa baru. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 3800 mahasiswa lebih. Namun, Rektor UIN Walisongo  mengaku belum siap memfasilitasi ruang kelas. Muhibbin mengatakan bahwa sementara akan ada kuliah malam bagi mahasiswa lama akibat kurangnya ruang kelas.

Ditemui usai pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada Senin (27/8), Muhibbin menambahkan alasan kurangnya fasilitas ruangan yaitu adanya jurusan baru di beberapa fakultas. Ditambah lagi beberapa fakultas  baru  belum meluluskan mahasiswa,sehingga dengan terpaksa mahasiswa lama harus rela untuk kuliah malam.  “Karena ada  jurusan baru dan beberapa fakultas belum meluluskan mahasiswa jadinya kuliah malam jadi alternatif untuk saat ini, ” jelasnya.

Saat ini UIN Walisongo masih dalam proses pembangunan delapan  gedung baru guna melengkapi ruang kelas yang masih terbatas.”Saya  yakin mahasiswa bisa bersabar karena  pembangunan sudah dimulai,” imbuhnya.

Untuk pengadaan gedung bagi mahasiswa difabel Muhibbin  juga mencanangkan akan memberikan  perlakuan khusus dalam fasilitas ruang kelas.  “Gedung baru nanti akan ramah untuk mereka yang kekurangan secara fisik,” ujar Muhibbin. Birokrasi  akan memberikan instruksi kepada para Dekan untuk menempatkan kuliah di lantai satu bagi para mahasiswa difabel.  Muhibbin juga menambahkan untuk saat ini  UIN Walisongo  belum mampu memberikan pengadaan beasiswa untuk mahasiswa difabel . “Kan gak semua mahasiswa difabel itu  kurang mampu, ada juga yang kaya,” imbuhnya.

Edu_On/Ida









Doc. Edukasi

Semarang, EduOnline_Pada hari Senin, (27/8) bertempat di Lapangan Kampus III UIN Walisongo Semarang, diadakan acara pembukaan Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) 2018. Acara ini menghadirkan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Moeldoko sebagai pengisi acara. Sayangnya, Moeldoko berhalangan hadir dan diwakilkan oleh Eko Sulistyo (Deputi IV kepala staf kepresidenan). Eko Sulistyo mengatakan dalam orasi ilmiahnya bahwa mahasiswa baru UIN Walisongo harus melawan hoaks dan radikalisme. Hoaks adalah suatu tindakan untuk membuat berita yang tidak benar. Dalam hal ini  banyak ditemukan berbagai  kepentingan bisnis. Di era sekarang, hoaks semakin berbahaya manakala ditumpangi oleh tujuan politik. Sebab hal itu dapat mengadu domba masyarakat.

“Hanya karena satu berita hoaks, masyarakat bisa saling berselisih. Tidak hanya politik cyber, tetapi juga war cyber ”,Tuturnya.

Tidak hanya itu, percakapan-percakapan terorisme serta perekrutannya juga menggunakan platform-platform tertentu. Sehingga, mahasiswa benar-benar harus memahami literasi media.

Selain itu, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo, Syarifuddin Fahmi sendiri memberikan orasi tentang nasionalisme. “kita harus menjaga pancasila, yang telah disepakati leluhur-leluhur kita”, katanya. Ia juga mengatakan bahwa tugas mahasiswa masa kini adalah harus menjadi pemuda yang cerdas. “Pemuda juga harus bisa menjadi cerdas. Cerdas menangkal hoaks,  radikalisme, dan cerdas dalam hal apa pun. Dengan kecerdasan tersebut, mahasiswa dituntut harus bisa berkarya,  dan meningkatkan kreatifitas. Sesuai tagline dari PBAK 2018 yaitu cerdas berkarya. Kreatifitas pemuda sangat diuji “, paparnya. (Edu_On/Nia)





Dokumen LPM Frekuensi

Kepada yang terhormat dan ditunggu kedatangannya, kawan-kawan mahasiswa baru.

Sebelum memulai surat terbuka ini, kuucapkan selamat atas diterimanya kawan-kawan sekalian di universitas terbaiq sepanjang usia tuhan. Kalian merupakan orang-orang pilihan dan beruntung.  Yang dipilih dengan mengesampingkan orang-orang miskin, tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semakin melangit mendekati Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak lupa kusampaikan selamat datang di kampus Islam yang biasa-biasa saja ini. Biasa tidak ada air, biasa tidak terurus, biasa kemalingan motor dan biasa-biasa yang lain.

Kawan-kawan sekalian yang dari tahun ke tahun semakin emessshh sangat, satu langkah untuk menjadi mahasiswa UIN Walisongo sudah kalian lewati. Berupa membayar registrasi kuliah. Kalian tahu, kalian adalah orang yang beruntung, karena apa? Karena mungkin saja, selain kalian, ada calon mahasiswa yang sudah diterima dan tinggal membayar registrasi--disebabkan biaya kuliah yang dianggap murah tetapi kenyataannya mahal-- akhirnya diurungkan niatnya. Meskipun sebenarnya, kata Kemenristek Dikti, tujuan adanya sistem UKT adalah memberi kesempatan orang tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Tapi kenyataan berbicara lain, semakin ke sini, orang-orang tidak mampu harus menelan ludah karena biaya kuliah semakin mahal—akhirnya menunda untuk kuliah. Penentuan biaya kuliah seperti tanpa mempedulikan kondisi keuangan negara dan rakyatnya.

Sebagai bentuk solidaritas kepada kawan-kawan yang belum beruntung, kita doakan agar nanti mereka dapat kesempatan untuk mengikuti jejak kita di perguruan tinggi. Mungkin hanya doa saja yang bisa kita lakukan, karena menanti kakak-kakak Dewan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa—sebagai perwakilan mahasiswa, untuk menyuarakan mahalnya biaya UKT adalah satu cita-cita yang jauh diawang-awang, seperti menanti gebetan membalas pesan WhatsApp panjang-panjang, mimpi. Karena kakak-kakak kita lebih disibukkan dengan persoalan lain, tasyakuran wisuda misalnya.

Kawan-kawan, sebentar lagi kalian akan mengalami ritual yang sudah turun-temurun selalu diselenggarakan sebagai prasyarat menjadi mahasiswa baru. Ritual tersebut adalah Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), yang sebelumnya tidak menggunakan istilah tersebut. Sebelumnya istilah yang digunakan adalah Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK)—jangan bayangkan dengan makanan khas Wonosobo, Jawa Tengah atau Sunda, Jawa Barat (Daerah Pasundan). Inti kegiatannya sama, nanti kalian akan duduk manis, diceramahi oleh orang banyak, diatur-atur oleh kakak-kakak, makan, solat dan kegiatan-kegiatan yang lain—sekadar info, tahun kemarin memecahkan rekor MURI dengan peragaan MOB terbanyak yang menghabiskan dana berjuta-juta. Dengan itu, kuucapkan, selamat menikmati kebosanan yang hakiki. Nikmatilah dengan khusyu’ karena itu hanya satu kali dalam masa studimu di kampus ini.

Dalam kegiatan itu, percayalah, kalian akan berhadapan dengan orang yang asing--orang yang belum pernah kalian temui sama sekali mungkin. Atau suasana yang berbeda jauh, tidak seperti film yang sudah kalian tonton tentang dunia perkuliahan. Tapi percayalah, ada kesamaannya, nanti kalian akan bertemu dengan  kakak-kakak yang hebatnya melebihi batas langit. Bagaimana tidak hebat, mereka adalah manusia pilihan yang dipilih oleh para pejabat kampus. Sudah pasti, manusia-manusia yang kalian hadapi nanti adalah mahasiswa yang kadar intelektualnya melebihi mahasiswa yang lain. Bayangkan saja, kalau di perkuliahan nilai Indeks Prestasi Kumulatifnya (IPK) paling tinggi hanya sampai 4.0, mereka ini mendapatkan nilai lebih dari itu, 4.5 atau bahkan 9.0. Mahasiwa ini, kegiatan tiap harinya adalah  membaca, diskusi, menulis dan sesekali aksi. Empat kegiatan itu tidak pernah absen dalam kehidupan mereka. Jadi, baik-baiklah kalian sama kakak-kakak yang hebat ini.

Untuk itu, ketika kalian mendapatkan tugas yang diberikan, lakukan dan kerjakanlah, jangan sampai tidak melakukan. Jika kalian tidak melalukan itu, berarti kalian melakukan tindakan subversif. Setiap tindakan subversif berarti menantang, dan hal-hal yang ‘menantang’ harus disingkirkan. Ingat, tidak ada manusia yang ingin ditantang, lakukanlah tugas itu dengan sebaik-baiknya. Meskipun tugas yang diberikan terkadang tidak memahamkan dan tidak ada gunanya—bagi kalian mungkin. Percayalah, tugas yang diberikan itu sudah melalui diskusi panjang dan alot selama setahun lebih untuk menentukannya. Demikian itu, tugas itu adalah bentuk kegelisahan kakak-kakak kalian terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Jadi jangan sampai kalian tidak membawa dan mengerjakan tugas tersebut. Mereka menyuruhmu membeli buku bacaan. Belilah, meskipun kalian tidak tahu kejelasannya. Meskipun mungkin kalian juga tidak membutuhkan buku yang sudah kalian beli—ada yang menyediakan buku-bukunya juga, jadi jangan kesusahan untuk membeli. Ingat, apapun yang diinstruksikan harus dilaksanakan.   

Kawan-kawan mahasiswa baru yang emesshh, seperti yang sudah diumumkan oleh kakak-kakak yang kerennya sampai tujuh turunan, kalian diharuskan membawa tulisan artikel. Kerjakanlah tugas menulis artikel yang diberikan oleh pejabat kampus yang mulia. Meskipun mungkin kalian tidak memahami tugas tersebut. Maklumilah, yang memberikan tugas adalah intelektual kampus yang warbyasah.  Jadi jika kalian tidak memahaminya itu menjadi suatu hal yang lumrah. Tapi saranku, kalau kalian tidak paham tugas tersebut, tanyakanlah dahulu kepada mereka, ajak mereka berdiskusi tentang tema yang diberikan kepada kalian. Setelah kalian paham apa maksud dari tugas tersebut, minta contoh tulisan yang telah dibuat oleh pemberi tugas. Kalau tidak bisa memahamkan dan mereka juga tidak punya contoh tulisan mereka sendiri, lebih baik kamu jangan mengerjakan—meskipun pertaruhannya, kalian akan diasingkan dan dianggap subversif.  Atau kerjakan tugas tulismu itu dengan copy paste. Kalian cukup mengetikkan kata kunci di Dewa Google, nanti akan dicarikan Dewa Google artikel yang serupa. Setelah itu kalian tinggal copy paste, jadilah artikelmu. Itu lebih baik, berarti kamu termasuk orang yang patuh. Meskipun itu patut disayangkan, karena secara tidak langsung, kalian melakukan tindakan plagiasi, budaya yang sebenarnya diperangi di dunia akademik.

Kalian harus maklum, bagi kakak-kakak super sangar itu, kalian adalah kerbau-kerbau yang bisa diatur dan lahan bisnis paling menjanjikan. Pecayalah, sebenarnya kakak-kakak kalian juga melakukan hal yang sama ketika jadi mahasiswa baru. Akibatnya sampai sekarang menjadi mahasiswa, mereka juga melakukan hal tersebut, dari ketakutan, plagiasi dan sebagainya. Mereka pada awal masuk takut kepada kakak-kakak unyuuu. Ketika di perkuliahan takut pada presensi, dosen dan birokrat kampus. Dengan hadirnya kalian, adalah kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sama. Kalian adalah pelampiasan yang mutlak --sama halnya pelampiasan seorang jomlo yang baru putus dari pacarnya.

Bagi kakak-kakak supermu itu, menakutimu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan merupakan obat mujarab. Layaknya penguasa, kepatuhan adalah hal yang selalu diidealkan. Kalian patuh membeli buku, menulis artikel dan kepatuhan-kepatuhan yang lain. Itu adalah sesuatu yang diinginkan. Barangkali benar kata Soe Hok Gie:

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.

Apabila kalian ketakutan, berarti kakak-kakak unyu itu sukses. Tujuannya telah tercapai yaitu membuat kamu takut. Percayalah, kalian ketika takut bisa dengan mudah diatur. Karena, bagi mereka, ketakutanmu adalah koentji. Semakin kalian takut, semakin mudah kalian untuk diatur. Maka takutlah kalian, dengan begitu, kakak-kakakmu itu akan merasakan kepuasan yang haqieqie. Akan tetapi jika kalian merasa sebagai pemuda, beranilah. Karena kata Pramoedya Ananta Toer, kalian pemuda kalau kalian tidak punya keberanian sama saja dengan ternak, karena fungsi hidupnya hanya beranak diri.

Mengakhiri surat terbuka ini, kusarankan kepada kawan-kawan mahasiswa baru yang dikasihi Tuhan, jika kalian merasa sebagai pemuda generasi penerus bangsa, cobalah melawan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya. Karena menjadi manusia seutuhnya yang merdeka dan berani adalah tjita-tjita. Sesuai kata Multatuli, tugas manusia itu menjadi manusia. Maka, jika kalian diperlakukan seperti kerbau—bukan manusia, alangkah lebih baiknya, kalian lawan mereka yang menganggapmu kerbau itu.

Dari mahasiswa biasa yang belum lulus sampai semester dua digit. AhmadAam


doc. Internet

Membincangkan terkait guru menjadi topik nyentrik yang tak kunjung reda. Guru merupakan figur inspirator dan motivator murid dalam merumuskan sudut pandang masa depanya. Peran guru sangat vital bagi pembentukan jati diri untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh anak didik. Disinilah urgensi melahirkan guru-guru kreatif. Melihat  sarjana-sarjana sekarang yang loyalitas nya belum memenuhi standar keguruan, bahkan kebanyakan guru sekarang kurang antusias jika membicarakan pendidikan negeri ini, mereka hanya akan terlihat antusias ketika membicarakan kesejahteraan guru. Terus dimana letak peran guru untuk  membangkitkan semangat besar dalam diri anak untuk menjadi aktor dalam perubahan dunia di era global.
Melihat seiring berjalanya waktu semakin canggih dunia teknologi membuat posisi guru sedikit tergeser, pasalnya di zaman modern ini guru bukan hanya menjadi satu-satunya sumber informasi, melalui itu anak didik sudah bisa memperoleh informasi secara jelas. Namun tidak bisa dipungkiri peran guru tetaplah hal utama dalam dunia pendidikan, meskipun siswa sudah pandai mencari informasi secara lebih luas. Maka anak didik tetap membutuhkan pendampingan dari guru untuk menjelaskan informasi yang diperoleh. Disisi lain pendidikan juga sebagai media pendewasaan, maka dari itu tidak dapat berlangsung tanpa adanya guru.

Sebab itulah saat ini guru harus mempunyai beberapa kriteria yang pertama yaitu ideal. Ideal di sini mempunyai maksud seorang guru haruslah mempunyai kemampuan pemecahan bagi problem-problem yang berkaitan tentang ilmu pengetahuam, kesenian dan kebudayan. Kedua, inovatif dimana  guru harus mempunyai cara-cara yang mampu merangsang stimulus-stimulus baru yang menjadi arah penyajian kembali, penelaahan kembali yang lambat laun akan menjadi penemuan baru dan timbulnya problem baru. Kriteria selanjutnya ialah kreatif. Guru diharapkan mampu membentuk anak didik menjadi kreatif dengan ide-ide baru, menjadi lebih kritis dan antusias dalam mengikuti semua kegiatan. Hal inilah proses kreatif dalam pembelajaran sangat diperlukan. Namun, seiring berkembangnya teknologi untuk menciptakan suasana kelas seperti itu bukan perkara mudah.  Hal ini kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam menjadi figur di  setiap nilai dan pencapaian kompetensi.

Tahapan yang perlu diterapkan untuk membentuk kreatifitas dalam diri anak didik yaitu, pertama mampu mengakomodasi  gaya belajar siswa, karena setiap siswa bebeda-beda dalam menerima suatu pembelajaran. Ada yang langsung faham hanya membaca, mendengarkan dan ada pula yang baru faham ketika dijelaskan secara detail. Guru hendaknya mampu meramu metode pembelajaran yang mengena ke semua anak didik. Kedua menciptakan suasana yang menggairahkan. Banyak orang beranggapan bahwa metode komikal mujarab guna membangun suasana yang menyenangkan bagi anak didik. Namun, masih banyak metode semisal, menggunakan metode presentasi, diskusi atau lewat media teknologi yang tepat guna. Ketiga, kemampuan menanamkan nilai pada diri siswa. Peran yang sangat penting dari seorang guru mengajar dengan keteladanan. Karena guru adalah figur suri tauladan. Misal guru mampu menerapkan budaya membaca bagi setiap anak didik, penerapan hal baik tersebut akan menumbuhkan stimulus pada anak didik untuk memiliki cara pandang yang positif. Keempat, mampu membangun interaksi, kedekatan dan komunikasi pada siswa.

Contoh kasus kekerasan pada siswa yang dilakukan oleh salah satu guru pada 9 siswa SMK Kesatrian di Purwokerto, Jawa Tengah. Hasil penyelidikan menyebutkan, perihal siswa terlambat masuk ke kelas guru tersebut menegur dengan cara menampar. Kasus itu menjadi salah satu contoh ‘pencemaran nama baik’ dimana gurulah sosok yang harusnya digugu dan ditiru. Kekerasan bukanlah solusi  dalam memberikan efek  jera pada anak didik. Justru akan menjadi trauma yang memvonis bahwa pendidikan diteggakkan lewat kekerasan.  

Setelah cukup banyak mengurai  perihal guru, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menjadi guru bukan hanya mengandalkan gelar kesarjanaanya saja, karena itu hanya simbol formal, yang terpenting bukan simbolnya tapi kedalaman ilmunya dan tanggung jawabnya sebagai figur pengubah sejarah. Tanggung jawab guru memang berat, namun jika guru mampu memahami metode, teknik dan penguasaan pembelajaran dengan baik maka akan mempermudah guru dalam mendidik anak didik. Guru yang mempunyai kemampuan yang baik juga akan menjadi kepuasan tersendiri bagi guru, karena mampu mempersembahkan yang terbaik  untuk anak didiknya.

Sejarah melukiskan identitas di setiap masanya dan guru mewarnai momen sejarah itu.

Penulis: Diah Novi Karisma (Crew Edukasi angkatan 2017)