Mei 2017


Desain by: Fahmi as-shidiq

Malam itu, aku dengan sengaja menjebak diri sendiri. Terkurung dalam keramaian, bingar, gigil pendingin ruangan dan asap rokok yang berkelindan menyesakkan dada. Duduk diam di atas kursi kayu pahatan di kafe kecil seberang jalan, aku memperhatikan dua orang ahli masak sigap meracik minuman dan membolak-balik roti diatas pemanggang. Orang-orang masuk melalui pintu di sebelah kiriku. Semakin malam, semakin ramai. Semuanya terbahak. Badan mereka bergoyang mengikuti musik. Dalam keremangan aku bisa melihat jelas berupa-rupa wajah yang ramai ekspresi. Lampu benderang kuning merah menyorot panggung. Lakon malam itu melompat kesana kemari dengan mikrofon di tangan. Melolong meneriakan keasyikan mereka, menyaingi lengking gitar dan gebukan drum yang saling sahut menyahut.
Justru di tengah hingar bingar itu, aku rasanya lebih bisa berpikir jernih dan tenang. Menyingkirkan pikiran picik yang sekian lama didoktrin secara paksa dalam otak. Dalam gelembung kedap bunyi yang kubuat sendiri, suara-suara di kepalakulah yang menjadi paling riuh. Me-reka angan yang belum sempat ku wujud. Mengumpulkan keping kenangan yang tercecer diatas lantai pualam yang ku injak ini.
Tepat ketika sebuah band indie membawakan salah satu lagu dari grup music Drive , gelas berembun berisi es jeruk pesananku datang. Kubus-kubus batu es berenang memenuhi sepertiga gelas kaca itu. Oranye sempurna meski agak masam kurang gula. Mendekati jingga warnanya, seperti saat ketika datang penghabisan siang kepada malam.
“Selamat malam sista, ini pesanan nya. Es jeruk segar special dibuat dengan canda untuk tamu cantik macam sista”, sapa pramusaji laki-laki berbasa-basi, merayu.
“Terima kasih sudah bersedia mengantarkan pesanan sista cantik ini, padahal hanya segelas es jeruk”, balasku dengan tersenyum sembari memandang wajah pramusaji ini. Lumayan, atau malah terlalu lumayan untuk ukuran pramusaji yang bekerja di kafe.
“Ah tak perlu berterima kasih seperti itu. Saya senang dengan pekerjaan ini. Boleh saya duduk menemani sista, saya lihat sista seorang diri saja?”, berani sekali pramusaji ini. Belum lagi ku iyakan perkataanya dia main duduk.
Kucecap sedikit-sedikit es jeruk ini sambil melirik berdus-dus mie instan di meja-meja dekat dapur. Berjejer kaleng-kaleng bir disudut  tiap meja. Ditenggak dalam gelak. Perempuan berambut pendek bob dengan kacamata besar, lelaki botak tinggi berjaket kulit, geng  fashionista dengan dandanan ala model majalah , rombongan bujang di deretan pojok belakang, siswi berseragam putih abu-abu yang tertawa cekikikan, heran aku kenapa jam segini mereka masih berkeliaran. Dan beberapa lelaki yang ngotot akan menduduki meja pesanan orang lain.
“Tamu disini memang heterogen sista. By the way, boleh saya mengetahui nama sista? saya Dika”, ucapannya membuyarkan lamunan sejenak, tangannya minta berjabatan. Tengoklah pramusaji lelaki ini, aihh terlatih sekali menggarap tamu. Jadi ini alasannya kenapa kafe pinggir jalan yang tak terlalu besar ini amat terkenal. Ramai pengunjung, ternyata pegawainya supel dan ramah tamah.
“Ita”, sahutku tanpa membalas jabat tangannya, dia menarik tangannya dan manggut-manggut. Ku rasa dia paham kalau aku merasa tak enak dengan sikapnya.
“Ooo Ita, kamu asli orang sini atau bukan? Kalau saya tebak sepertinya kamu ini anak perantauan, hehehe”
“Anak perantauan? Hem, aku disini kuliah. Benar katamu, aku merantau.”
“Ooo kuliah, jurusan apa Ta?”  Banyak tanya pramusaji ini. Apa dia tidak ada pekerjaan dibelakang.
“Sastra Indonesia. Kamu sendiri lama bekerja disini Dik? Seberapa menyenangkan memangnya?”
“Lumayan, hampir satu tahun. Disini saya banyak mendapat ilmu, banyak kenalan bahkan banyak masalah, hehehe. Ta, by the way jurusan kita sama lho”
“Apa?”  Antara heran dan kaget aku mendengar jawaban Dika. Belum aku menanggapi dia sudah nyerocos lagi, memang banyak omong ini si Dika.
“Iya Ta, saya kuliah juga jurusan sastra tapi aku cuti satu tahun, semester lima. Tidak kelihatan seperti mahasiswa memang ya? Kehidupanku sulit Ta, orang tua bangkrut sedangkan saya masih punya dua adik yang masih sekolah. Sebagai anak sulung mau tak mau saya harus membantu menyelesaikan masalah”, panjang lebar Dika bercerita seakan aku ini sahabat lamanya.
“Emm seperti itu. Dik, kita baru kenal sepuluh menit yang lalu tapi kamu sudah berceita panjang lebar tentang ini itu. Aku merasa sungkan”  Kehabisan kata aku menanggapi omongan Dika. Tak disangka dia berbeda, aku kira dia anak gaul yang hobi nongkrong ditambah dia pandai membawa suasana. Ternyata kehidupannya keras.
 “Dik, lebih baik kamu melanjutkan pekerjaanmu. Aku disini sendiri tak  apa, terima kasih sudah mau bercerita kepadaku.” Tambahku, tak enak rasanya mengobrol lama-lama dengan Dika.
“Wah iya Ta sampai lupa. Terlalu asik ngobrol dengan kamu si, hehehe. Ya sudah saya lanjut kerja. Terima kasih sudah mengijinkan saya duduk sebentar disini. Permisi” Dengan sopan Dika pamit, ku balas dengan senyum dan sedikit anggukan.
Lihatlah, betapa semua ini adalah hiburan bagi kepala.
Setiap cecap, isi kepalaku satu demi satu masuk ke dalam gelas. Berenang dalam es jeruk masam yang tinggal duapertiga.
Semua orang pasti ingin bahagia. Paling tidak, terlihat bahagia. Tapi kadang kebahagiaan, seperti pula kebebasan, rupanya memiliki batas lingkar singgungnya sendiri. Yang bijak selalu bilang, tiadalah bahagia jika untuk itu kita menyakiti orang. Lihat? Ada batas dimana kebahagiaanmu tidak boleh menjadi ketidakbahagiaan orang lain. Toleransi serta tenggang rasa. Seperti di buku cetak PPKn sekolah dasar. Etika bergaul kalau istilahku. Tak boleh sembarang memang jika ingin damai hidup berdampingan bersama orang lain.
 Padahal, kupikir, tak ada kebahagiaan semacam itu. Kita bisa memilih kebahagiaan macam apa yang kita anggap bahagia. Bebas saja. Para pecinta berkata bahagia kesayangannya adalah bahagianya meski itu menyakitkan. Bahagia bagi setiap orang nyata-nyata tak pernah sama. Dua orang yang memutuskan hidup bersama saja selalu punya definisi bahagia yang berbeda. Yang satu bahagia bersama yang lain, namun bisa saja ditimpal sebaliknya. Kebahagiaan seseorang, hampir selalu adalah ketidakbahagiaan bagi orang lain. Akan selalu ada yang tidak bahagia ketika kamu bahagia. Intinya, kita bisa bahagia dengan cara kita sendiri tapi sulit membuat orang lain bahagia dengan cara kita.
Kubus-kubus es meleleh menjadikan es jeruk dingin dan segar. Gelas kacanya dikeringati udara yang mengembun mencair memberi jejak pada meja. Harus ada yang hilang agar yang lain bisa mewujud. Akan selalu ada yang harus meniada demi ada yang lainnya. Bukankah memang hidup ini selalu seperti itu? Cinta bahkan datangnya sepaket dengan jatuh. Memiliki pun sama berdampingan dengan kehilangan. Mencinta lalu membenci, dan tertawa lalu menangis.
Dunia, memang adalah keutuhan yang berpecah serpih menjadi segala yang berubah wujud dan tempat saja. Seperti air yang memang sebegitulah sejak dahulunya. Siklus saja yang membuatnya terlihat berubah, padahal tidak. Segala zat pada akhirnya hanya saling berubah wujud untuk menyesuaikan dengan yang lainnya. Bergantian. Bertukaran. Saat ini ada yang harus menguap demi hujan jatuh di tempat lain. Ada yang harus tak bahagia demi bahagia yang lain. Hanya ada satu zat, dan itulah yang  dapat bergantian. Batas-batas ada agar kita tahu segalanya memang harus ditukar. Sekali lagi, segalanya berdampingan.
Sesap terakhir mengembalikan isi pikiranku ke kepala. Tertinggal sepersekian cairan oranye masam dingin dalam gelas. Aku berterima kasih untuk malam itu kepada entah siapa. Mungkin pada kursi yang kududuki, pada lantai pualam kelabu yang kupijak, pada remang cahaya diruang ini. Kutitipkan lewat beberapa lembar uang dan senyum tulus kepada perempuan berambut panjang dengan make-up lengkap yang menyodorkan bill. Hanya segelas es jeruk pakai bill segala, dasarnya tempat makan cara kota. Dengan seluruh badan yang kuyakin akan berbau asap rokok padahal aku tak merokok, kutinggalkan riuh rendah ruangan. Pintu menutup di belakangku. Lelaki tinggi kurus di depanku membetulkan letak kacamatanya dengan wajah tak kalah masam dari es jeruk  tadi. Aku tersenyum memohon maaf karena membuatnya lama menunggu dan untungnya dia membalas senyumku.
Dia mungkin tak tahu bahwa pikiranku habis berenang dalam segelas es jeruk. Harusnya ia meminum sepersekian sisanya tadi agar aku tak perlu panjang-panjang bercerita lagi.

Penulis: Ardyon Steville

ilustrasi: Edu/ziz


Aku ingin sekali mengganggumu, sekedar menelponmu dan bertanya
“sudahkah kau jatuh cinta sekarang?”
                                                                                    2017




1. Ngantuk
            Izinkan aku berbaring pada kerlingmu yang hangat kembali
2. Berdoa I
            Aku mengulumMu
            Aku menelanMu
            Aku mencuriMu dari binar lilin
            Tapi aku lupa memasukkanMu pada lincah mata adikku
Berdoa II
            Jika pagi menjelang lebih awal doakan aku bisa lelap se lelap-lelapnya

                                                                                                2017


            ;eyang


Rembulan pecah dikali
Menjelma tubuhmu seputih seperas santan
Sekarang dalam koyaknya aku dan dalam buhul doaku

Malamlah
                                                                                                2017





1.
            Seperti nasib yang tidak akan kita miliki, Ul
            Hujan akan menghabisi detak jantung
            Ranting akan runcing dan kita mati dikenang kening sendiri
           
            Kita membakar diri sendiri sekarang
            Menanti demam yang tumbuh di dada kita
            “musim apa sekarang?”
2.
            Aku harus berlayar
            Mataku sekarang pintu. Orang lain berkesiap masuk dengan sesuka hati
            Saat menghadapi badai

            Sekarang aku dermaga di kotaku yang di lupakan
Dan memungkinkan menerima cuaca terburuk nantinya: Topan, angin laut serta kau sebagai  masa silam
3.
            “Istirahatlah sekarang juga. laut sudah labuh
            tanpa jangkar kita tetap berpaut
            Aku akan kembali. Kau sudah menjadi bakteri yang memenuhi otakku”

            Aku merah dan kau marah
“Tidurlah seperti lampu sonar kapal di riak gelombang yang entah kapan kan           menepi”
4.
            Aku pelaut tanpa peta sekarang
            Mengarungi tubuhmu yang berbiak liar didadaku
           
            Di laur geladak
            Musim dingin meruncing menjadi sepi
            Menjadi mata kail yang lancip dan purna

            Tapi jarak telah membelah
            Antara pantai dan kapalku
            Jarak padaku telah menjelang waktu siang yang asing
5.
            “Kapan kau pulang?” teriakmu
             

                                                                                                2017


Penulis Aziz Afifi. 



Pemaparan materi oleh Eko Prasetyo penulis buku "Kitab Pembebasan". (Foto: Edu/Riza)
Semarang, EdukasiOnlineKelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) menggelar bedah buku “ Kitab Pembebasan” karya Eko Prasetyo pada Rabu kemarin (24/5) di American Corner kampus III UIN Walisongo Semarang. Acara ini sendiri menghadirkan penulisnya langsung dan Siti Rofi’ah, Dosen Fakultas Syari’ah sekaligus peneliti di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA).

Dalam berjalannya diskusi, Eko mengungkapkan keprihatinannya karena dunia Islam saat ini sangat tertinggal dalam hal keilmuan jika dibandingkan orang barat. Bahkan, ilmuan-ilmuan Islam seperti Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rush, Al khawarijmi dan lainnya tidak begitu dikenal oleh kalangan pemuda sekarang. “Hilangnya kekuatan politik Islam membuat wilayah Islam dalam cengkraman kolonial,” ujar pria yang merupakan lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Yokyakarta ini.

Hal ini diperjelas oleh Eko dengan menggambarkan keadaan di Indonesia saat ini, banyaknya ustadz-ustadzah dadakan di pertelevisian yang menurutnya dalam menyampaikan dakwah tanpa referensi yang jelas. “Ironis memang, semua pertanyaan dengan mudah dijawab oleh mereka (Ustadz-ustadzah dadakan) tanpa menunjukkan referensinya,”jelasnya. Ia juga menambahkan, keadaan tersebut terjadi akibat tuntutan kepercayaan oleh masyarakat yang membuat nilai pengetahuan menurun.

Agama alat Pembebasan

Menyinggung masalah maraknya penindasan kaum pinggiran dan ketimpangan ekonomi yang masih terjadi sampai saat ini.  Eko menegaskan dalam bukunya bahwa, seharusnya agama atau aspek spiriatual itu sendiri haruslah berimplikasi pada tindakan sosial, agar agama muncul sebagai pembebasan. “Semua aktivitas nabi adalah agenda kemanusiaan atau pembebasan, jarang sekali individualis dalam artian mementingkan dirinya sendiri,”tuturnya.

Selain itu, Eko juga menambahkan, sebenarnya semua nabi itu melawan kemapanan karena keberpihakannya pada kaumnya atau masyrakat. “Semua nabi itu seperti kita para aktivis, selalu melawan kemapanan,”ungkapnya. 

Ia juga mengatakan jika munculnya mu’jizat  itu karena keadaan nabi yang telah mengambil resiko paling tinggi. “Seperti nabi Musa yang melawan pemerintahan kemudian dikejar-kejar sampai pinggir lautan, lalu apa yang terjadi, mu’jizat itu muncul,” imbuhnya.

Sementara itu, Rofia’ah cukup mengapresiasi buku yang berjudul “Kitab Pembasan” ini karena mampu membuka wacana dan perspektif baru yang memiliki misi pembebasan. “Di dalam buku ini kita tidak lagi diajak membahas agama hanya dalam segi hitam-putih, halal-haram,” tuturnya.

 Ia juga berharap pendekatan progresif agama sebagai pembebas haruslah dimunculkan, karena menurutnya dalam menafsirkan Al Qur’an tidaklah sesempit masalah halal dan haram saja. “ Islam harus dijadikan alat pembebasan dan datang sebagai rahmat semesta alam,” pungkasnya. (Edu_On/Riz)


 
Suparman Syukur saat memberikan sambutan di acara bedah buku "Kitab Pembebasan" karya Eko Prasetyo. (Foto: Edu/Riza)
Semarang, EdukasiOnline—Wakil Rektor III UIN Walisongo Suparman Syukur cukup mengapresiasi kegiatan bedah buku “Kitab Pembebasan” karya Eko Prasetyo yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo di Amirican Corner Kampus III UIN Walisongo Semarang, Rabu (24/5). 

Kita sangat mengapresiasi yang sebesar-besarnya atas kajian dan pengembangan tentang apapun yang bekaitan dengan Al Qur’an,” tuturnya ketika menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara tersebut.

Dalam sambutannya, Suparman juga menyinggung terkait banyaknya kesalah fahaman dalam memahami serta memaknai Al Qur’an. “Bagaimana kita mampu memahami Al Qur’an kalau kita tidak tahu petunjuk-petunjuk dalam Al Qur’an,” jelasnya.

Diakhir sambutan, Separman mengajak seluruh sivitas akademik untuk ikut serta dalam kajian serta pemahaman yang mendalam tentang Al Qur’an, supaya konflik antar sesama muslim tak lagi terjadi. “Kita yang berada di perguruan tinggi perlu mendidik dan ikut serta atas carut marutnya konflik antar sesama muslim,” pungkasnya. (Edu_On/Riz)