September 2017

Foto: Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang membuka Workshop Guru Nahdlatul Ulama Menulis di Auditorium MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Semarang, Kamis (28/9/2017)


Semarang, EdukasiOnline-- Para guru yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama diminta produktif menulis dan mempublikasikan karyanya di jurnal dan media massa. "Kalau guru sudah mulai aktif menulis, maka pendidikan Indonesia akan lebih maju," tegas Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang KH Anasom MHum saat membuka Workshop "Guru Nahdlatul Ulama Menulis" di Auditorium MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Semarang, Kamis (28/9/2017).

Kegiatan yang diprakarsai oleh LP Maarif Cabang Kota Semarang dengan UIN Walisongo Semarang ini menghadirkan narasumber Dr Syamsul Maarif MAg (Kapuslitbit LP2M UIN Walisongo), M Rikza Chamami (Dosen) dan Asikin Khusnan (Pengawas Sekolah). Peserta berjumlah 60 guru Nahdlatul Ulama yang memiliki konsentrasi di bidang tulis menulis dari SD/MI hingga SMA/MA. "Kegiatan merupakan karya pengabdian dosen lewat program LP2M UIN Walisongo," kata Anasom.

Menulis, lanjut Anasom, merupakan tradisi para ulama dalam menyebarkan ilmu-ilmunya. Jadi para ulama bisa panjang umur dan terkenang sampai sekarang karena karya tulisnya masih dipelajari oleh para santri. "Maka tradisi menulis harus dikembangkan di semua komponen guru NU agar gagasan-gagasan itu dapat tersampaikan secara luas,"imbuhnya.

Di tengah kesibukan administratif para guru sekolah perlu menyisihkan waktu dalam menulis. "Jangan sampai guru hanya sibuk menulis jurnal sekolah dan menulis rapot saja" singgung Anasom. Potensi menulis itu sangat bermanfaat untuk guru. Sebab dengan menulis, guru akan dapat point untuk administrasi kepangkatan dan akan dapat koin berupa honor menulis.

Guru juga tidak hanya bisa menulis untuk jurnal ilmiah dan koran saja, tetapi bisa menulis buku ajar yang manfaatnya sangat besar. Bahkan ada seorang guru yang aktif menulis buku ajar dengan honor hingga seratus juga. "Itu yang perlu ditiru oleh guru-guru NU Kota Semarang" pungkasnya.

Ketua LP Maarif Cabang Kota Semarang H Asikin Khusnan MSI sangat berharap para guru mampu mendisiplinkan diri dalam menulis karya ilmiah. "Menulis dari mulai yang terkecil dengan best practice pengalaman mengajar di kelas" kata Asikin.

Dari pelatihan ini, Asikin berkomitmen akan menindaklanjuti dengan pembuatan Jurnal Ilmiah Online khusus guru yang dapat menampung gagasan-gagasan para guru. "Kalau LP Maarif sudah punya jurnal ilmiah akan mempermudah kenaikan pangkat guru dan melahirkan iklim akademik di lingkungan sekolah" tegasnya. (Edu_On/Sakur)




doc. Internet

Semarang, EdukasiOnline--  Lpm Justisia Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), pagi tadi, Senin (25/09) membedah jurnal barunya yang berjudul Islam dan Disabilitas. Acara yang di gelar di Aula American Corner perpustakaan pusat UIN Walisongo ini bertujuan menyosialisasikan jurnal Justisia baru  ke-45 yang sudah di terbitkan.

Menyoal jurnal baru ini, Masykur Rozi, Pimred yang menangani jurnal  tersebut menjelaskan akar masalah mengapa LPM Justisia mengambil tema Islam dan Disabilitas adalah tidak adanya keramahan kepada para penyandang disabilitas, terutama di kampus kita, UIN Walisongo.

"Orang-orang telah meminggirkan eksistensi kaum difabel" tuturnya kepada audiens.

Rozi berpendapat bahwa seharusnya orang-orang penyandang disabilitas bukan hanya diberikan keringanan tetapi diberikan jalan agar para penyandang disabilitas mengembangkan potensi dirinya, layaknya orang pada umumnya, 'normal'.

"Orang difabel harus diberi aksesibilitas, baru kemudian rukhsah (keringanan)" pukasnya. (Edu_On/yat)




Foto: (Edu_On/Tim)


Semarang, EdukasiOnline-- Sudah jadi rutinitas dalam penyambutan Mahasiswa baru (maba), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang adakan Orientasi Olahraga Seni, Ilmiah, dan Ketrampilan (Orsenik). Penyelenggaraan  tersebut dimulai pada tanggal 22-24 September 2017 yang diramaikan dengan tim rewo-rewo sebagai suporter bagi para atlet dengan menyuarakan lagu-lagu penyemangat. Minggu, (24/9).

Suporter atlet Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) ketika di lapangan banyak mengenakan ikat kepala dengan tulisan “FAKTA MANIA” berwarna dasar hijau. Setelah tim redaksi konfirmasikan pada Faiz Yulfa Septi Anjar selaku ketua panitia Orsenik FITK terkait nama tersebut, Faiz, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pemaknaan fakta mania diambil dari bahasa Itali, “Maniak”  yang  artinya loyalitas, kekompakan dan semangat yang tinggi dalam mendukung atlet di lapangan. “Inginnya Fakta Mania mampu membangun jiwa supportif  dalam mendukung atlet di lapangan,” harapnya.

Namun, faktanya selama acara berlangsung, sebagian Maba yang menjadi tim rewo-rewo meninggalkan tempat perlagaan sebelum perlombaan berakhir, bahkan banyak pula Maba yang tidak ikut berpartisipasi pada agenda Orsenik 2017. Faiz mengaku kecewa terhadap mahasiswa baru yang apatis terhadap kegiatan Orsenik tersebut. “Saya merasa kecewa dengan beberapa mahasiswa baru yang tidak mau meluangkan waktunya untuk mendukung teman-temannya saat bertanding,” eluhnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ahmad Amin Arif, Maba jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah ini menyatakan bahwa hanya beberapa temannya saja yang berpartisipasi dalam agenda Orsenik. “Teman-teman banyak yang mengedepankan kepentingan pribadi,” ujarnya.

Menurut Arif Lukmanul Hakim, anggota BEM-FITK mengungkapkan bahwa kira-kira mahasiswa FITK yang berperan aktif pada Orsenik tahun ini hanya mencapai angka 20% . Angka itu dihitung dari total Maba FITK yang berjumlah sekitar 780 mahasiswa, namun yang berpartisipasi hanya sekitar 200 mahasiswan saja. “Saya tidak tau dimana kontribusi dari 500 Maba yang lain,” katanya.

Dalam hal ini, Toge, sapaan akrab Arif Lukmanul Hakim menjelaskan beberapa alasan yang mendasari sebagian Maba apatis terhadap agenda Orsenik. Pertama, yakni kurangnya koordinasi dari pihak panitia kepada Maba. “Kalau saja Maba diberi pemahaman yang jelas tentang  Orsenik pasti mereka semangat dalam berpartisi” jelasnya.

Kedua, yakni alasan keluarga dan kesibukan kuliah. Sukma Ayu, Maba jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) mengatakan bahwa  alasannya tidak berpartisipasi dalam kegiatan Orsenik adalah  karena ada kepentingan yang menurutnya perlu diutamakan yakni masalah keluarga dan kuliah. “Sebenarnya saya ingin berpartisipasi mendukung para atlet, tapi posisi saya laju dari rumah “ tuturnya. (Edu_On/Sit)


 
doc. Internet

Semarang, EdukasiOnline— Minggu (24/9), menanggapi penentuan juara dengan sistem perolehan  emas terbanyak mendapat berbagai tanggapan dari Mahasiswa Baru (Maba). Sejumlah mahasiswa mengeluhkan sistem penentuan tersebut. Sistem kemenangan yang ditentukan dengan perolehan emas terbanyak dirasa tidak adil. Ketidakadilan tersebut bisa dilihat dari juara 2 dan 3 yang hanya mendapat perak dan perunggu namun tidak terhitung sebagai juara.

Afifah Nurul Maulida, mahasiswi baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) jurusan Menejemen Pendidikan Islam (MPI) menyatakan bahwa hal tersebut dapat merugikan atlet yang tidak mendapat medali emas. Karena menurutnya, usaha para atlet untuk mendapatkan perak dan perunggu menjadi tidak berharga. “Saya rasa ini tidak adil, para atlet sudah berusaha merebutkan juara 3 besar namun yang dihitung hanya juara satu saja,” keluh Afifah, sapaan akrabnya.

Senada dengan yang disampaikan oleh Afifah, Lilis mahasiswi baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) menyatakan bahwa hal tersebut dapat mematikan atlet lain, karena tidak ada penghargaan bagi para atlet yang telah berjuang mendapatkan perak dan perunggu. “Menurut saya, ini bisa mematikan atlet-atlet lain,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Aris ketua panitia Orsenik tahun 2017 menyatakan bahwa hal tersebut adalah upaya untuk meminimalisir kerumitan dalam memasukkan nilai dalam perlombaan Orsenik. “Belajar dari sistem kemarin, jika masih menggunakan sistem poin maka akan terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah timbulnya kecurigaan dari mahasiswa terhadap PJ,” jelasnya. (Edu_On/ Tim)