Trending

Antara Teriakan dan Sunyi: Pers Mahasiswa dan Demokrasi yang Seolah-olah

Deretan lensa kamera yang saling berdesakan, ketika suara pers mahasiswa seolah hilang di tengah keramaian. Ilustrasi: pinterest.com

“Hidup Mahasiswa!” 

“Hidup Rakyat Indonesia!”

“Hidup Perempuan yang Melawan!”

Teriakan itu menggema di halaman kampus. Kepalan tangan terangkat. Suasana panas, emosional, dan penuh semangat. Pada momen tertentu—penerimaan mahasiswa baru, pemilwa kampus, atau demonstrasi—kata-kata itu terasa hidup. Seolah kampus benar-benar menjadi ruang perjuangan, ruang keberanian, dan ruang pembelaan terhadap nilai.

Namun, setelah momen itu berlalu, kampus kembali sunyi. Slogan-slogan menghilang. Yang tersisa hanya rutinitas: kelas, tugas, diskusi kecil, dan percakapan ringan di sudut-sudut kantin. Tidak ada yang salah dengan rutinitas. Akan tetapi, ada pertanyaan yang mengganggu: apakah semangat itu memang hidup, atau hanya terasa nyata saat ada panggung?

Membaca Demokrasi Seolah-olah karya Abdurrahman Wahid, kita dapat merasakan bagaimana demokrasi bisa tetap berjalan secara bentuk, namun kehilangan rohnya. Ada pemilihan, ada forum, ada prosedur. Namun, substansinya tidak selalu hadir. Demokrasi seolah hidup, tetapi sesungguhnya hanya berlangsung sebagai seremoni.

Kampus pun tidak kebal dari gejala itu.

Pemilwa tetap dilaksanakan. Struktur organisasi mahasiswa tersusun rapi. Forum aspirasi dibuka. Semua tampak demokratis secara prosedural. Namun, demokrasi bukan hanya soal adanya mekanisme, melainkan soal keberanian untuk diawasi dan dikritik.

Dalam teori politik modern, pers kerap disebut sebagai the fourth estate—pilar keempat demokrasi. Jika legislatif, eksekutif, dan yudikatif menjalankan fungsi kekuasaan, maka pers menjalankan fungsi kontrol. Ia menjadi mata publik, telinga publik, sekaligus pengingat bagi kekuasaan agar tidak melampaui batas.

Konsep ini tidak hanya berlaku dalam negara, tetapi juga relevan di ruang kampus.

Di dalam kampus, ada eksekutif mahasiswa, ada badan permusyawaratan, ada berbagai lembaga organisasi. Semua itu adalah bentuk kekuasaan dalam skala kecil. Tanpa kontrol yang sehat, kekuasaan sekecil apa pun berpotensi menjauh dari nilai yang ia perjuangkan. Di sinilah pers mahasiswa memegang peran penting.

Pers mahasiswa bukan sekadar peliput kegiatan. Ia bukan hanya pendokumentasi acara atau pengisi konten media sosial. Ia adalah penjaga nalar publik kampus. Ia memastikan bahwa demokrasi kampus tidak berhenti pada prosedur, tetapi bergerak menuju substansi.

Perlu dibedakan antara demokrasi prosedural dan demokrasi substantif. Demokrasi prosedural memastikan adanya pemilihan, forum, dan aturan. Namun, demokrasi substantif memastikan adanya transparansi, akuntabilitas, dan ruang kritik yang aman. Kampus bisa saja rutin menggelar pemilwa setiap tahun, tetapi tanpa kebebasan pers dan keberanian untuk membuka ruang kritik, demokrasi hanya akan berhenti pada seremoni tahunan.

Independensi menjadi kata kunci.

Pers mahasiswa harus menjaga jarak yang sama terhadap semua pihak, baik birokrasi kampus maupun organisasi mahasiswa. Ia tidak boleh menjadi alat legitimasi kekuasaan tertentu. Ia juga tidak boleh hanya keras kepada pihak luar, tetapi lunak kepada lingkungannya sendiri.

Namun tantangan independensi itu tidak sederhana.

Tekanan terhadap pers mahasiswa sering kali bukan datang dalam bentuk larangan resmi, melainkan dalam bentuk relasi personal. Ada rasa tidak nyaman ketika harus mengkritik teman sendiri. Ada kekhawatiran dianggap tidak solid. Ada ketakutan kehilangan akses informasi. Bahkan, ada anggapan bahwa kritik berarti tidak loyal.

Di sinilah independensi diuji bukan oleh struktur formal, melainkan oleh kedekatan sosial.

Jika pers hanya berani mengkritik pada saat momentum politik memanas, tetapi diam dalam keseharian, maka ia ikut terjebak dalam budaya aktivisme musiman. Jika pers lebih sibuk membangun citra daripada menggali realitas, maka ia kehilangan fungsi kontrolnya.

Namun ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan: etika.

Kebebasan pers bukan berarti kebebasan tanpa tanggung jawab. Justru karena pers memiliki ruang untuk mengkritik siapa pun, ia harus berdiri di atas integritas. Kritik yang lahir dari prasangka hanya akan memperkeruh suasana. Kritik yang tidak berdasarkan data akan kehilangan legitimasi. Adapun kritik yang bermotif personal akan merusak kepercayaan publik kampus.

Di titik ini, pers mahasiswa memikul dua beban sekaligus: menjaga keberanian dan menjaga kejujuran.

Berani saja tidak cukup. Banyak orang berani berbicara, tetapi tidak semua berbicara dengan adil. Sebaliknya, terlalu berhati-hati juga berisiko melahirkan pembungkaman diri. Di antara keberanian dan kehati-hatian itulah pers mahasiswa harus menemukan keseimbangannya.

Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi kritik juga membutuhkan etika.

Jika pers mampu menjaga standar etikanya—akurasi, verifikasi, keseimbangan, dan independensi—maka kehadirannya akan dihormati, bukan ditakuti. Ia tidak menjadi oposisi permanen, tetapi menjadi mitra kritis dalam membangun budaya akademik yang sehat.

Kampus sejatinya adalah ruang publik mini laboratorium demokrasi bagi mahasiswa sebelum terjun ke masyarakat luas. Jika di ruang sekecil kampus saja kritik dianggap gangguan, bagaimana mungkin mahasiswa kelak akan membela demokrasi di ruang publik yang lebih luas?

Demokrasi tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari keberanian berbeda pendapat. Demokrasi tidak tumbuh dari pujian, tetapi dari kritik yang jujur. Dalam semangat pemikiran Gus Dur, demokrasi menuntut keberanian untuk bersikap terbuka, bahkan terhadap pandangan yang tidak nyaman.

Maka slogan “Hidup Mahasiswa” seharusnya tidak hanya hidup saat mikrofon menyala. Ia harus hidup dalam keseharian: dalam keberanian bertanya, dalam kesediaan diawasi, dan dalam kemauan menerima kritik.

Pers mahasiswa memiliki posisi strategis untuk menjaga itu semua. Ia adalah pengingat ketika semangat berubah menjadi formalitas. Ia adalah cermin ketika gerakan berubah menjadi panggung. Ia adalah ruang ketika suara minoritas hampir tenggelam.

Barangkali yang perlu dihidupkan bukan hanya slogan perjuangan, tetapi konsistensi dalam sunyi. Bukan hanya keberanian saat demonstrasi, tetapi integritas saat tidak ada sorotan.

Dan mungkin, demokrasi kampus benar-benar akan hidup bukan karena seringnya kita berteriak, melainkan karena adanya ruang yang jujur untuk saling mengoreksi dan pers mahasiswa berani berdiri di tengah ruang itu.

Penulis: Muhammad Novan Heromando

Editor: Zidni Rosyidah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak