Tanggapan Mahasiswa FITK Soal Uji Coba Perkuliahan Blended Learning

 

Doc. FITK 

Semarang, Lpmedukasi.com - Sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mulai uji coba perkuliahan dengan sistem Blended Learning pada Senin (24/5). 

Terhitung sejak terbitnya Surat Keputusan Rektor (SK) terkait kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Blended Learning dapat menjadi alternatif dalam menghadapi era digital. Pasalnya program tersebut memang menjadi kegiatan belajar yang digemari dan terbukti efektif. Blended learning merupakan perpaduan metode pembelajaran campuran antara luring dan daring.

Azizatun Naili Rohmaniah salah satu mahasiswa baru semester 2 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Mengatakan bahwa dalam perkuliahan perdana sedikit gugup, tetapi sangat senang dan antusias. “Ini adalah kesempatan langka yang tidak diberikan ke semua jurusan, jadi setiap jurusan hanya dipilih satu kelas dan untuk Pendidkan Bahasa Inggris yang dipilih adalah kelas kami, kami sangat senang, sangat antusias, very very excited!,” ungkap Naili.

Naili berharap kedepannya semua mahasiswa UIN Walisongo bisa segera melaksanakan perkuliahan offline. “Tentunya harapannya semua mahasiswa UIN walisongo bisa segera offline. Jadi kita bisa interaksi satu sama lain dan kita bisa bertemu dengan teman sekelas, Prodi, atau kakak tingkat,” tambahnya.

Senada dengan Naili,  Risma Dwi Destiana salah satu mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Ia juga mengungkapkan sangat antusias untuk melaksanakan perkuliahan secara blended learning. “Masalah antusias jangan ditanya lagi. Saya dan teman-teman sangat antusias. Karena kita setahun ini kuliahnya daring dan kenal teman lain hanya lewat foto. Terus ada info mengenai kuliah tatap muka ya  kita sangat antusias.  Kalau boleh di bilangkan dalam bentuk persen ya melebihi dari 100% kali ya,” ujarnya.

Di sisi lain, ketakutan mengenai terpaparnya Covid-19 masih ada. Akan tetapi, rasa takut itu tergerus dengan rasa senang karena bisa melakukan program blended learning. “Masalah takut dari saya pribadi pasti ada. Apalagi penyebaran virus Covid-19 di Semarang masih tinggi. Tapi rasa takut itu sudah tersingkirkan oleh rasa senang. Yang penting, saya harus mematuhi prokes yang ada," jelasnya.

Harapan Risma sendiri, dengan adanya sistem perkuliahan seperti ini, bisa berjalan dengan baik dan menjadi awal pembelajaran normal seperti sedia kala. Sebelum virus Covid-19 menyerang. “Semoga Sistem perkuliahan ini bisa berjalan dengan offline terus, dan kalau bisa bukan hanya blended tapi menyeluruh, karena perbandingan kuliah offline dan online sangat jauh,” tambahnya.

Penulis : Muhas
Editor : Mega

Posting Komentar

0 Komentar