Dok. Google

David berpikir bahwa, setelah 12 tahun bersama, istrinya tak lagi mencintainya. Dan ia tak menangis atau apapun. Sebab itu ia pergi ke sebuah hotel, memperoleh 45 hari untuk mendapat seorang pasangan dengan ditemani oleh Bob— seekor anjing ‘jelmaan’ kakaknya. Di hadapan manajer hotel, ia berkata:

“Aku ingin jadi lobster. Hidup lebih dari seratus tahun, dan subur seumur hidup. Dan karena aku suka laut.”

Saya mengetahui film ini setelah menonton The Killing of A Sacred Deer (2017). Ulasan-ulasan tanpa nada ketidaksukaan atas film itu mengarahkanku pada film lain arahan Yorgos Lanthimos, The Lobster (2015). Film ini merupakan film keempat arahan Yorgos Lanthimos— setelah Kinetta (2005), Dogtooth (2009), dan Alps (2011). Sebuah film distopia absurd tentang seorang David yang hidup di tengah otoritas yang mengatur kehidupan asmara. Mereka— David dan manusia lain—musti mendapat pasangan jika tak memilikinya, dengan menginap di sebuah ‘hotel’ dan diberi waktu selama 45 hari. Jika tak mendapat, mereka akan diubah ‘secara sukarela’ menjadi hewan pilihannya. Mereka juga diminta berburu manusia lain di hutan. Satu manusia diperoleh oleh penghuni hotel, satu hari tambahan menginap juga diperoleh. Manusia lain ini adalah mereka yang tak ingin berpasangan dan ingin menghabiskan hidup sendirian. Film akan memperlihatkan bagaimana sang tokoh utama, David (Colin Farrell) berusaha hidup di tengah masyarakat dan otoritas yang absurd dan menekan.
Kehidupan yang ada pada The Lobster mengingatkan pada pembagian-pembagian atau klasifikasi identitas terhadap masyarakat yang terjadi saat ini. Hitam-putih, Jawa-sunda, Bertuhan-tak bertuhan. Ada dua pembagian yang dipakai: berpasangan atau tidak berpasangan. Kaum berpasangan berkuasa dan menjadi otoritas dengan kendali di kota, sebaliknya dengan kaum tidak berpasangan yang terasing dan hidup di hutan.

Kaum berpasangan dan yang ingin memiliki pasangan, setidaknya pernah menginap di hotel. Aturan yang ada sangat menekankan pentingnya memiliki pasangan. Bahkan peragaan panggung dibuat untuk itu. Para penghuni pun ‘diharuskan’ mencari pasangan yang persis satu sama lain dalam sifat, fitur tubuh, dan lainnya. Perbedaan tak diterima dalam kehidupan ‘cinta’ yang ada. Namun sangat berlainan dengan kaum tak berpasangan— atau lazim disebut jomlo—yang secara penuh menolak kehidupan ‘cinta’ seperti bercumbu, bersetubuh, dan sebagainya. Kehidupan mereka hanya soal bertahan hidup. Kuburan pun harus digali sendiri oleh si calon penghuni. Ada satu hiburan konyol yang dimiliki oleh kaum ini dan membuat terpingkal-pingkal: berpesta dan menari. Anda harus menontonnya sendiri.

Film ini sungguh apik secara narasi maupun sinematografi. Narasi yang ciamik dan aktor yang mampu memerankannya dengan baik dikemas dengan pengambilan gambar yang sederhana namun memiliki ketajaman yang memperkuat narasi. Hal ini pula yang saya dapatkan dalam film terakhir Yorgos Lanthimos. The Lobster memenangkan Jury Prize di Festival Film Cannes 2015 dan mendapat nominasi Best Original Screenplay pada Academy Awards. Dan ditayangkan dalam sesi Special Presentations di Festival Film Toronto 2015.

The Lobster memberikan suatu kritik terhadap tatanan masyarakat saat ini yang cenderung melihat satu sama lain dalam kacamata afiliasi tunggal, seperti apa yang ditulis Amartya Sen dalam Kekerasan dan Identitas. Dalam masyarakat dan film, terdapat persamaan soal ini. Bedanya, The Lobster memberikan gambaran lebih yang menggelikan. Berpasangan-tak berpasangan. Jadi, Anda ingin hidup di kota atau hutan?

Judul               : The Lobster
Tanggal rilis     : 15 Mei, 16, 22, 28 Oktober 2015 (Berurutan: Cannes; UK & Irlandia; Yunani & Belanda; Perancis)
Sutradara         : Yorgos Lanthimos
Durasi              : 118 menit
Produser          : Element Pictures, Scarlet Films, Faliro House Productions, Haut et Court, Lemming Film, Film4 Productions
Pemeran          : Colin Farrell, Rachel Weisz, Jessica Barden, Olivia Colman, Ashley Jensen, Ariane Labed, Angeliki Papoulia, John C. Relly, Lea Seydoux, Michael Smiley, Ben Wishaw, Roger Ashton-Griffiths, Ewen MacIntosh
Peresensi         : A. A. Prayoga
Share To:

Edukasi Online

Post A Comment: