Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Surat Terbuka untuk Mahasiswa Baru Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

8/21/2018
Dokumen LPM Frekuensi

Kepada yang terhormat dan ditunggu kedatangannya, kawan-kawan mahasiswa baru.

Sebelum memulai surat terbuka ini, kuucapkan selamat atas diterimanya kawan-kawan sekalian di universitas terbaiq sepanjang usia tuhan. Kalian merupakan orang-orang pilihan dan beruntung.  Yang dipilih dengan mengesampingkan orang-orang miskin, tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semakin melangit mendekati Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak lupa kusampaikan selamat datang di kampus Islam yang biasa-biasa saja ini. Biasa tidak ada air, biasa tidak terurus, biasa kemalingan motor dan biasa-biasa yang lain.

Kawan-kawan sekalian yang dari tahun ke tahun semakin emessshh sangat, satu langkah untuk menjadi mahasiswa UIN Walisongo sudah kalian lewati. Berupa membayar registrasi kuliah. Kalian tahu, kalian adalah orang yang beruntung, karena apa? Karena mungkin saja, selain kalian, ada calon mahasiswa yang sudah diterima dan tinggal membayar registrasi--disebabkan biaya kuliah yang dianggap murah tetapi kenyataannya mahal-- akhirnya diurungkan niatnya. Meskipun sebenarnya, kata Kemenristek Dikti, tujuan adanya sistem UKT adalah memberi kesempatan orang tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Tapi kenyataan berbicara lain, semakin ke sini, orang-orang tidak mampu harus menelan ludah karena biaya kuliah semakin mahal—akhirnya menunda untuk kuliah. Penentuan biaya kuliah seperti tanpa mempedulikan kondisi keuangan negara dan rakyatnya.

Sebagai bentuk solidaritas kepada kawan-kawan yang belum beruntung, kita doakan agar nanti mereka dapat kesempatan untuk mengikuti jejak kita di perguruan tinggi. Mungkin hanya doa saja yang bisa kita lakukan, karena menanti kakak-kakak Dewan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa—sebagai perwakilan mahasiswa, untuk menyuarakan mahalnya biaya UKT adalah satu cita-cita yang jauh diawang-awang, seperti menanti gebetan membalas pesan WhatsApp panjang-panjang, mimpi. Karena kakak-kakak kita lebih disibukkan dengan persoalan lain, tasyakuran wisuda misalnya.

Kawan-kawan, sebentar lagi kalian akan mengalami ritual yang sudah turun-temurun selalu diselenggarakan sebagai prasyarat menjadi mahasiswa baru. Ritual tersebut adalah Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), yang sebelumnya tidak menggunakan istilah tersebut. Sebelumnya istilah yang digunakan adalah Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK)—jangan bayangkan dengan makanan khas Wonosobo, Jawa Tengah atau Sunda, Jawa Barat (Daerah Pasundan). Inti kegiatannya sama, nanti kalian akan duduk manis, diceramahi oleh orang banyak, diatur-atur oleh kakak-kakak, makan, solat dan kegiatan-kegiatan yang lain—sekadar info, tahun kemarin memecahkan rekor MURI dengan peragaan MOB terbanyak yang menghabiskan dana berjuta-juta. Dengan itu, kuucapkan, selamat menikmati kebosanan yang hakiki. Nikmatilah dengan khusyu’ karena itu hanya satu kali dalam masa studimu di kampus ini.

Dalam kegiatan itu, percayalah, kalian akan berhadapan dengan orang yang asing--orang yang belum pernah kalian temui sama sekali mungkin. Atau suasana yang berbeda jauh, tidak seperti film yang sudah kalian tonton tentang dunia perkuliahan. Tapi percayalah, ada kesamaannya, nanti kalian akan bertemu dengan  kakak-kakak yang hebatnya melebihi batas langit. Bagaimana tidak hebat, mereka adalah manusia pilihan yang dipilih oleh para pejabat kampus. Sudah pasti, manusia-manusia yang kalian hadapi nanti adalah mahasiswa yang kadar intelektualnya melebihi mahasiswa yang lain. Bayangkan saja, kalau di perkuliahan nilai Indeks Prestasi Kumulatifnya (IPK) paling tinggi hanya sampai 4.0, mereka ini mendapatkan nilai lebih dari itu, 4.5 atau bahkan 9.0. Mahasiwa ini, kegiatan tiap harinya adalah  membaca, diskusi, menulis dan sesekali aksi. Empat kegiatan itu tidak pernah absen dalam kehidupan mereka. Jadi, baik-baiklah kalian sama kakak-kakak yang hebat ini.

Untuk itu, ketika kalian mendapatkan tugas yang diberikan, lakukan dan kerjakanlah, jangan sampai tidak melakukan. Jika kalian tidak melalukan itu, berarti kalian melakukan tindakan subversif. Setiap tindakan subversif berarti menantang, dan hal-hal yang ‘menantang’ harus disingkirkan. Ingat, tidak ada manusia yang ingin ditantang, lakukanlah tugas itu dengan sebaik-baiknya. Meskipun tugas yang diberikan terkadang tidak memahamkan dan tidak ada gunanya—bagi kalian mungkin. Percayalah, tugas yang diberikan itu sudah melalui diskusi panjang dan alot selama setahun lebih untuk menentukannya. Demikian itu, tugas itu adalah bentuk kegelisahan kakak-kakak kalian terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Jadi jangan sampai kalian tidak membawa dan mengerjakan tugas tersebut. Mereka menyuruhmu membeli buku bacaan. Belilah, meskipun kalian tidak tahu kejelasannya. Meskipun mungkin kalian juga tidak membutuhkan buku yang sudah kalian beli—ada yang menyediakan buku-bukunya juga, jadi jangan kesusahan untuk membeli. Ingat, apapun yang diinstruksikan harus dilaksanakan.   

Kawan-kawan mahasiswa baru yang emesshh, seperti yang sudah diumumkan oleh kakak-kakak yang kerennya sampai tujuh turunan, kalian diharuskan membawa tulisan artikel. Kerjakanlah tugas menulis artikel yang diberikan oleh pejabat kampus yang mulia. Meskipun mungkin kalian tidak memahami tugas tersebut. Maklumilah, yang memberikan tugas adalah intelektual kampus yang warbyasah.  Jadi jika kalian tidak memahaminya itu menjadi suatu hal yang lumrah. Tapi saranku, kalau kalian tidak paham tugas tersebut, tanyakanlah dahulu kepada mereka, ajak mereka berdiskusi tentang tema yang diberikan kepada kalian. Setelah kalian paham apa maksud dari tugas tersebut, minta contoh tulisan yang telah dibuat oleh pemberi tugas. Kalau tidak bisa memahamkan dan mereka juga tidak punya contoh tulisan mereka sendiri, lebih baik kamu jangan mengerjakan—meskipun pertaruhannya, kalian akan diasingkan dan dianggap subversif.  Atau kerjakan tugas tulismu itu dengan copy paste. Kalian cukup mengetikkan kata kunci di Dewa Google, nanti akan dicarikan Dewa Google artikel yang serupa. Setelah itu kalian tinggal copy paste, jadilah artikelmu. Itu lebih baik, berarti kamu termasuk orang yang patuh. Meskipun itu patut disayangkan, karena secara tidak langsung, kalian melakukan tindakan plagiasi, budaya yang sebenarnya diperangi di dunia akademik.

Kalian harus maklum, bagi kakak-kakak super sangar itu, kalian adalah kerbau-kerbau yang bisa diatur dan lahan bisnis paling menjanjikan. Pecayalah, sebenarnya kakak-kakak kalian juga melakukan hal yang sama ketika jadi mahasiswa baru. Akibatnya sampai sekarang menjadi mahasiswa, mereka juga melakukan hal tersebut, dari ketakutan, plagiasi dan sebagainya. Mereka pada awal masuk takut kepada kakak-kakak unyuuu. Ketika di perkuliahan takut pada presensi, dosen dan birokrat kampus. Dengan hadirnya kalian, adalah kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sama. Kalian adalah pelampiasan yang mutlak --sama halnya pelampiasan seorang jomlo yang baru putus dari pacarnya.

Bagi kakak-kakak supermu itu, menakutimu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan merupakan obat mujarab. Layaknya penguasa, kepatuhan adalah hal yang selalu diidealkan. Kalian patuh membeli buku, menulis artikel dan kepatuhan-kepatuhan yang lain. Itu adalah sesuatu yang diinginkan. Barangkali benar kata Soe Hok Gie:

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.

Apabila kalian ketakutan, berarti kakak-kakak unyu itu sukses. Tujuannya telah tercapai yaitu membuat kamu takut. Percayalah, kalian ketika takut bisa dengan mudah diatur. Karena, bagi mereka, ketakutanmu adalah koentji. Semakin kalian takut, semakin mudah kalian untuk diatur. Maka takutlah kalian, dengan begitu, kakak-kakakmu itu akan merasakan kepuasan yang haqieqie. Akan tetapi jika kalian merasa sebagai pemuda, beranilah. Karena kata Pramoedya Ananta Toer, kalian pemuda kalau kalian tidak punya keberanian sama saja dengan ternak, karena fungsi hidupnya hanya beranak diri.

Mengakhiri surat terbuka ini, kusarankan kepada kawan-kawan mahasiswa baru yang dikasihi Tuhan, jika kalian merasa sebagai pemuda generasi penerus bangsa, cobalah melawan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya. Karena menjadi manusia seutuhnya yang merdeka dan berani adalah tjita-tjita. Sesuai kata Multatuli, tugas manusia itu menjadi manusia. Maka, jika kalian diperlakukan seperti kerbau—bukan manusia, alangkah lebih baiknya, kalian lawan mereka yang menganggapmu kerbau itu.

Dari mahasiswa biasa yang belum lulus sampai semester dua digit. AhmadAam