Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Membaca Kisah Petualangan Sebuah Bus

6/12/2018
Dok. Edukasi

"Ketika seorang anak kecil bisa menerbangkan sebuah bus gendut dan membuat puluhan bahkan ratusan ikan keluar dari kodratnya, apakah yang seperti itu ada dalam dunia nyata?"

Saya tidak langsung tertarik pada novel ‘Semua Ikan di Langit’ ketika saya melihatnya di salah satu rak di toko buku. Meski tahu novel ini merupakan pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2016, saya baru selesai membacanya di tahun 2018 setelah memutuskan untuk meminjam dari seorang teman di tahun yang sama.

Tanpa berpikir keras, siapa pun yang membacanya pasti akan langsung mengenali konsep ketuhanan yang dijadikan garis besar cerita dalam novel ini. Novel ini mengisahkan tentang sebuah bus Damri yang diajak jalan-jalan oleh seorang anak kecil dengan mantel yang kebesaran, yang ia sebut sebagai ‘Beliau’ bersama banyak ikan julung-julung. Mereka tidak berjalan di atas aspal, melainkan terbang. Ikan-ikan yang terbang? Ya, bahkan bus pun juga ikut terbang!

Konsep Ketuhanan

Novel ini mungkin terasa seperti kisah-kisah epik kuno seperti Odyssey atau bahkan Gilgamesh, namun harus dipaksakan jika novel ini harus disejajarkan dengan karya-karya epik tersebut. Novel ini memiliki unsur surealisme yang menjadi bahan bakar utamanya. Unsur penciptaan yang digunakan penulis bisa dikatakan telah terlepas dari unsur realisme. Ketika seorang anak kecil bisa menerbangkan sebuah bus gendut dan membuat puluhan bahkan ratusan ikan keluar dari kodratnya, apakah yang seperti itu ada dalam dunia nyata?

Meski memiliki konsep sureal yang bagus, konsep ketuhanan yang ada dalam novel ini sempit dan dangkal. Tidak perlu berpikir keras untuk mengenali adanya peminjaman kisah kaum nabi Luth, Lahul Mahfuz, dan kebangkitan Dajjal. Dengan mudahnya, pembaca akan mengetahui dari mana kisah-kisah ini diambil. Tentu terasa tidak mengejutkan, mengingat ada yang mengatakan sang penulis hanya menghabiskan tiga minggu untuk menyelesaikan novel ini.

Namun, terlepas dari itu semua, saya membaca novel ini dengan mengasingkan konsep ketuhanan di dalamnya dan menganggap karya ini adalah sebuah dongeng sureal yang memukau. Novel ini berhasil membuat saya berimajinasi dan berpikir tentang amanat yang ada di dalamnya meski terasa menggurui. Gaya bahasa yang disajikan pun tak berat, persis seperti dongeng yang biasa dibacakan seorang ibu pada anaknya. Nyaris tak ada perbedaan cara berbahasa pada tokoh-tokoh di novel ini. Tapi entahlah, karena saya tak paham dan masih tak paham tentang perkataan dewan juri Sayembara di sampul belakang.

Saya yakin, meski tanpa konflik yang memukau, novel ‘Semua Ikan di Langit’ pantas menjadi sebuah bacaan menghibur dan mengingat tentang Tuhan.


Judul : Semua Ikan di Langit
Penulis : Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie
Tahun terbit : 2017
Penerbit : Grasindo
Jumlah halaman : 262 halaman
ISBN : 978-602-37580-6-7
Peresensi : A. A. Prayoga