Mei 2018
Doc. internet


Semarang, EdukasiOnline--Calon Mahasiswa Baru (Camaba) UIN Walisongo Senin (28/5) , lakukan  verifikasi jalur SPAN-PTKIN 2018 di gedung Kopertais, kampus I.  Agenda tersebut merupakan lanjutan dari  Kegiatan Lapor diri yang dilaksanakan seminggu sebelumnya (23/5). Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya tempat verifikasi yang biasanya diadakan di Audit 1 , tahun ini dipindah  di gedung Kopertais . Pindahnya tempat dikarenakan guna memudahkam koordinasi antara panitia dan pihak birokrasi. "Misalkan ada yang tidak bawa SKL, nanti bisa langsung di koordinasikan ke kami", tutur Ahmad Fathoni, Kasubag Administrasi Akademik UIN Walisongo. 

 Menurut data yang didapatkan, tahun ini FITK  menerima  mahasiswa sejumlah 583 dari jalur SPAN-PTKIN . Hingga saat ini terhitung hanya terdapat 295 Camaba yang baru melakukan Lapor diri dan verifikasi. Ahmad Fathoni mengungkapkan  angka ini merupakan angka terbanyak dibanding fakultas lain. “Dari jalur SPAN-PTKIN FITK terhitung  terbanyak dari fakultas lain ” tegas Toni sapaan akrabnya . Akan tetapi jumlah diatas masih sementara dikarenakan jadwal lapor diri dan registrasi masih berlangsung hingga hari rabu. " Jadi tidak menutup kemungkinan jumlah Camaba yang verifikasi semakin bertambah", pungkasnya.

Toni menambahkan, bahwa Camaba yang melakukan registrasi setelah di terima mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Saat pertama kali di berlakukannya sistem UKT , hanya sekitar 40% Camaba yang melakukan registrasi dari total mahasiswa yang diterima. "Kalau lihat dari data mengalami kenaikan, bahkan tahun kemarin dari jalur SNMPTN lebih dari 60% Camaba melakukan verifikasi " jelasnya. (Edu_On/Ift)


Doc. Edukasi

“Kundera juga bertanggungjawab dengan memberi pencerahan-pencerahan filosofis yang terkadang sulit dipahami. Ia menyajikan filsafat dalam percakapan-percakapan antar tokoh sehingga terdengar jujur dan tidak menggurui. Selain itu, masalah-masalah pribadi yang terdengar sederhana namun begitu kompleks dengan alur yang terkadang melompat.”

***

Apa yang terlintas di benak jika mendengar kata sederhana? Sepele? Remeh-temeh? Mungkin sesuatu yang kecil dan tidak penting akan terpikirkan. Sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap apa pun. Pernah membayangkan sesuatu yang remeh menjadi sesuatu yang menarik?

Milan Kundera menyajikan keremeh-temehan ini dalam sebuah novel terbarunya. La fête de l'insignifiance atau diterjemahkan sebagai Pesta Remeh-Temeh berisi sekumpul lelucon-filosofis-sarkas yang menghibur. Meminjam perkataan Eka Kurniawan, mungkin novel ini cocok untuk Anda yang tidak dianggap.

Sepele yang Serius
Cerita digerakkan oleh Alain, Caliban, Charles, dan Ramon yang masing-masing menghadapi permasalahannya masing-masing. Kundera menyuguhkan hal yang lazim dilupakan oleh orang-orang, seperti pusar. Apa yang terlintas ketika mendengar kata pusar dan payudara? Mana yang lebih ‘menantang’ Anda?

Saya berani bertaruh kata kedua membuat Anda merenung lebih lama, bahkan lebih dalam. Berbeda dengan Anda, Kundera, melalui Alain menjadikan pusar sebagai suatu daya tarik. Satu bahan perenungan menggelitik yang tak terpikirkan oleh kita. Ketika kita telah dewasa dan mengetahui bahwa semua pusar sama saja, lalu apa sisi menariknya? Pertanyaan yang harus Anda jawab dengan membaca buku ini.

Kundera juga menyajikan olok-olokan terhadap rezim Soviet. Entah nyata atau maya, kelakar Stalin yang tertulis pada memoar Khruschev cukup bodoh. Keberhasilan Stalin membuat para kameradnya jengkel dan mengamuk di hadapan urinoir bukanlah lelucon yang mirip seperti D’Ardelo lakukan di hadapan orang lain— moralis, optimis, santun— melainkan lelucon receh yang oleh kameradnya dianggap omong kosong.Tidak ada yang tertawa terhadap lelucon ini kecuali Stalin sendiri. Kisah soal Kaliningrad— kota kelahiran Kant yang namanya diambil dari nama seorang kamerad Stalin, Kalinin. Padahal, nama Kalinin lebih remeh ketimbang nama Pushkin, Chekov, dan Tolstoy. Lalu apa alasan Stalin memilih nama Kalinin?

Namun, dibalik segala kelakar yang tertulis di novel ini, Kundera juga bertanggungjawab dengan memberi pencerahan-pencerahan filosofis yang terkadang sulit dipahami. Ia menyajikan filsafat dalam percakapan-percakapan antar tokoh sehingga terdengar jujur dan tidak menggurui. Selain itu, masalah-masalah pribadi yang terdengar sederhana namun begitu kompleks dengan alur yang terkadang melompat.

Saya tidak akan menyajikan yang lebih dari ini. Jika ingin tahu, lebih baik Anda segera membeli satu dan membacanya. Atau tidak sama sekali. Toh, novel ini hanya upaya merayakan kehidupan yang begitu remeh-temeh.

Judul                           : Pesta Remeh-Temeh
Penulis                        : Milan Kundera
Penerjemah                 : Lutfi Mardiansyah
Tahun terbit                : 2017
Penerbit                      : Trubadur
Jumlah halaman         : 131 halaman
ISBN                           : 978-602-50034-7-9
Peresensi                   : A.A. Prayoga
Doc. Internet

 Ardyon Steville*



Aku gagal untuk tak mencintai, jadi kucintai dalam pengertian demikian.
Aku jungkal saat menghindari benci, jadi kubenci dalam kesederhanaan demikian.
***
Beberapa orang terlihat bahagia melalui media sosialnya disertai tawa untuk meyakinkan kebahagiaannya. Beberapa yang lain tak segan menunjukkan kesedihannya disertai tangis untuk membuktikan betapa pilunya perasaan mereka. Ada pula yang mencoba menghibur diri dengan emoji tawa yang disertai kata yang mengatakan betapa sedihnya mereka.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan, orang terpaksa atau memaksakan diri sebagai pengamat hanya bisa berasumsi dengan foto yang telah terunggahkan ke dunia maya.

Dia, adalah seseorang yang berbeda dengan realitas yang berjalan berdampingan di sampingnya. Mereka tidak akan pernah tau. Mereka hanya akan memandangnya sama seperti udara yang hanya akan berlalu lalang tanpa sekelebat bayangan. Dia meletakkan senyuman yang hangat dan lebar di setiap sudut ruang pengelihatan. Dia memamerkan segala keteguhan dan kegigihannya dalam setiap perkataan namun tidak dalam pemikirannya. Keahliannya yang paling tidak dapat dipungkiri adalah untuk melakoni setiap tindakan yang ia lakukan bagi mereka tanpa memperlihatkan adanya noda. Mereka tersenyum, mereka tertawa, mereka tidak tahu.

“Permasalahannya adalah puisi itu kau baca?” Sanggahnya dengan nada tinggi.
“Ha, berhenti memelototiku, matamu hampir keluar tahu!” 
Sambil membenahi duduknya, Zam tetap bersikeras dengan argumen mentahnya, barangkali dia masih belum bisa menerima segala sesuatu mentah harus ada bumbunya dan syarat upaya sehingga segalanya jadi matang.

“Tapi puisi ini, kalau tidak kita baca terus bagaimana kita dapat tahu dan memaknainya? Bagaimana kita dapat mengartikan dari satu bait ke bait yang lain dan bagaimana kita harus menyikapinya jika kita tidak melihat dulu alias membaca puisi itu.”
“BISA!”
 Nadanya meninggi sejurus dengan tanggapanku mengenai sebuah argumen yang mengatakan bahwa engkau tak akan bisa paham isi puisi soalnya kau baca puisi itu. Kata-kata yang diciptakan oleh isi kepalanya sendiri. Zam yang memang bebal dan kepala batu tidak bisa menerima begitu saja argumen tak bereferensi itu, dia yang sebelumnya baru saja mencoba menceburkan diri ke dunia sastra tidak mau begitu saja disanggah oleh orang meskipun itu teman ngompolnya sewaktu kecil.

“Oke oke tidak usah sampai berteriak begitu. Bilang padaku dengan apa kau pahami puisi kalau begitu?”
“Orang-orang memberitahuku. Jadi aku tidak usah repot-repot membaca mendalam, menafsirkan atau apalah itu.”
“Orang-orang? Apa yang kau maksudkan Zam?”
“Sebenarnya begini, aku menulis puisi lalu aku share tulisanku itu pada akun media sosial yang aku punya, lalu orang-orang mengomentari puisiku, jadi aku memaknai melalui itu.”

Aku manggut-manggut mencoba memahami serta meresapi apa yang dikatakan oleh Zam, menimang-nimang. Sulit memang, tapi apa yang disampaikan olehnya menurutku jenaka dan ada benarnya sedikit. Bukankah mulut orang adalah cerminan diri kita?
 Sembari menyeruput kopi Zam bertanya, “Memangnya apa yang membedakan antara kita membaca puisi itu ataupun tidak?” tanyanya mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Sepertinya akan ada perdebatan yang alot.

“Begini Zam, biar ku utarakan sedikit pendapatku,”
“Biar ku selatankan,” sahutnya menyela.
“Apa?”
“Hehehe, bukan apa-apa, lanjut lanjut.”
 “Menurutku yang harus kita lakukan adalah berteman dengan kata itu dan melebur bersamanya untuk bisa menyelam lebih dalam dan menemukan kesejatian makna.”
“Tapi kukira semakin kita berusaha untuk menguasai kata, kita malah tidak akan mendapat apa-apa.”
            Aku diam. Kalimat Zam barusan terasa dalam sekali, seperti ada yang memegang tanganku lalu aku dibawa dalam ketenangan.

Sosial media, dunia maya, bisa mendekatkan mereka yang telah terjarakkan, bisa pula menjarakkan mereka yang sempat berdekatan. Antar mata yang kemudian menjadi antar udara, hingga antar dunia yang melalui sepenggal tulisan doa. Mereka dulu yang sempat berbagi tawa ketika duduk berdampingan di depan emparan pertokoan, kini telah kesulitan untuk bertegur sapa meskipun melalui layar perangkat mereka.

Maka dari itu untuk berteman dengan kata, kita harus membaca, begitupun puisi, sastra, kita mulai dengan membaca puisi agar kita dapat paham dari tiap bait.
“Apalah kau ini dari tadi menyuruhku baca-baca. Lalu kau sendiri sudah baca belum puisi terbaruku?”
“Sudah kau unggah ke sosial media?”
“Ha’ah, sana cepat lihat dan kau baca benar-benar. Ku tulis puisi itu untuk kau tahu, untuk kisah percintaanmu yang tidak beruntung, hahaha.”
            Ku lakukan apa yang dikatakan Zam, benar juga, sialan kau Zam. Hahaha.
***
“Bagus sekali puisimu kali ini.”
“Iya? Bagaimana penafsiranmu?”
“Haha, kau selalu saja bertanya hal itu, padahal kan kau yang buat puisinya.”
“Katakan saja, seperti biasannya.”
“Seperti ayat tuhan yang mengatakan bahwasanya apa yang baik menurut kita belum tentu yang terbaik, namun apa yang diberikan tuhan, itulah yang terbaik walaupun menurut kita masih kurang.  Memang sifat kita sebagai manusia merasa serba kurang, ada yang lebih malah minta dilebihkan. Tuhan kan pemberi kecukupan bukan pemberi berlebihan, dan sama halnya, seperti kita berusaha memiliki sesuatu, justru itulah yang paling sulit didapatkan, dan apa yang menurut kita sudah paling cocok, justru itulah yang paling berlawanan.”

 *Penulis adalah kru Edukasi angkatan 2016 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris


Doc. Edukasi

Semarang, EdukasiOnline-- Selasa, (22/5) bersamaan dengan diadakannya Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UMPTKIN) pengecekan STNK guna keamanan kampus semakin diperketat. Sampai-sampai terjadi antrian panjang di sepanjang gerbang masuk yang disebabkan adanya mahasiswa yang tidak membawa STNK. Padahal ada beberapa calon mahasiswa baru yang harus mengantri setelah selesai melakukan lapor diri di Audit 2 kampus III.  Saat ditanya perihal kemacetan yang timbul, satpam kampus III mengatakan bahwa ia hanya melakukan tugas dari atasan(read: wakil rektor). Para satpam juga sudah mengadu perihal kemacetan yang terjadi, namun dari atasan ngotot tetap melanjutkan pengecekan STNK apapun yang terjadi. “Mau gimana lagi, ini perintah langsung dari pimpinan rektor ” ungkap Syaifulloh, salah satu satpam di kampus III.

Syaifulloh juga mengaku bahwa para satpam sudah memaksimalkan agar kemacetan bisa di minimalisir. Namun karena minimnya anggota yang bertugas ditambah dengan cangkupan area yang terlalu luas. Ia hanya menawarkan solusi terbaik ialah dengan adanya barrier gate yang rencananya akan selesai pada pertengahan bulan puasa. “ Setiap hari hanya ada 2 shift, terus kampus III kan banyak ada 5 fakultas” sanggahnya.

Saat reportase di lapangan, kru menemukan beberapa pengendara yang dibiarkan lewat tanpa melewati pengecekan STNK. Saat kami tanyakan, Syaifulloh menjelaskan bahwa ada beberapa pengendara yang dibiarkan karena dianggap sering bolak-balik kampus. “Yang sering bolak-balik kampus memang kami biarkan, soalnya biar ngga nambah kemacetan” jelasnya.  

Pengecekan STNK merupakan salah satu cara yang diterapkan untuk memperketat keamanan di UIN Walisongo setelah beberapa waktu lalu kasus pencurian motor makin marak. Sambil menunggu selesainya pembangunan barrier gate di area kampus II dan III pengecekan STNK akan terus dilakukan.(Edu_On/Tis)



Doc. Edukasi

Semarang, EdukasiOnline-- Hari ini Selasa, (22/5) UIN Walisongo adakan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UMPTKIN) yang diadakan serentak se- Indonesia. Untuk tahun ini Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) menjadi fakultas dengan peminat terbanyak di antara delapan fakultas yang ada di UIN Walisongo. Namun untuk peminat jurusan, Pendidikan Agama Islam (PAI) masih berada di bawah Perbankan Islam. Saat diwawancarai di tempat, Fatah Syukur selaku ketua penyelenggara UMPTKIN di FITK mengatakan bahwa tahun lalu  peminat terbanyak masih dipegang oleh PAI. Namun tahun 2018 PAI menjadi jurusan kedua dengan peminat terbanyak di bawah jurusan Perbankan Islam. “ Tahun lalu PAI nomer satu, tapi tahun ini dipegang  Perbankan Islam” terangnya.

Jika diumpamakan, angka perbandingan antara peminat jurusan PAI dan kuota yang diterima berkisar antara 1500:100 . Tahun ini juga terhitung hanya 15 peserta yang tidak mengikuti ujian dari 360 keseluruhan peserta di FITK .

Salah satu peserta UMPTKIN bernama Arina mengaku memilih UIN Walisongo sebagai pilihan pertama masuk universitas. Gadis asal Kendal itu berminat masuk jurusan Komunikasi Penyiran Islam (KPI) UIN Walisongo. Ia juga mengatakan akan mengikuti jalur ujian mandiri jika kali ini tidak lolos dalam UMPTKIN. Saat ditanya mengenai motivasi masuk UIN, ia mengatakan ingin mengembangkan bakat dan minatnya di jurusan yang ia ambil. “Semoga ilmu yang didapatkan bermanfaat, karena sesuai apa yang saya inginkan” ungkapnya dengan tersenyum.  (Edu_On/Tis)





Doc. Internet

Pada rumah yang berisik itu
Aku menitipkan salam
Semoga kalian tidak kehilangan bau dapurnya
Aku suka atapnya
Melindungi seperti janin yang dipeluk rahim ibu
Kemarin rumah berisi orang marah-marah
Sekarang berisi orang beramah-tamah
Sebentar lagi berisi pengantin penuh gairah
Gembok adalah jalan mengintip rahasia
Pun dengan pintu, ia adalah lorong rasa-rasa
Terbuka bagi pecundang maupun pecinta
Rumah  merangkul manusia-manusia patah hati
Aku patah hati dan sedang menuju rumah

 _"Aku tiba di rumahku-bukan rumahku lagi-demi segala yang berlalu yang membuatnya demikian"_ (kutipan puisi Edgar Allan Poe)

Penulis : Nia

Doc. Edu


Semarang, EdukasiOnline-- Kasus pencurian motor masih saja terjadi di kampus UIN Walisongo.  Sejumlah aturan sudah diterapkan, namun semua itu belum juga mampu menyediakan keamaan kampus.   Minggu lalu peraturan baru kembali diterapkan. Pada Sabtu, 11 Mei 2018 tertulis di gerbang kampus II bahwa pada hari sabtu-minggu ojek online dilarang memasuki area kampus. Namun, saat diwawancarai pada Kamis, (17/5) petugas keamaan mengelak aturan tersebut. Suparman selaku koordinator kemanan kampus UIN mengatakan  peraturan tersebut hanya berlaku pada hari itu. "Saya masih perlu koordinasi dengan pihak UIN mengenai hal tersebut, elaknya. Ia menambahkan ojek online masih diperbolehkan masuk asalkan dengan identitas dan maksud yang jelas.

Peraturan lain juga tertulis bahwa gerbang kampus ditutup mulai pukul 18.00. Suparman mengelak bahwa sebenarnya peraturan tersebut sudah sejak lama diterapkan.  "Peraturan itu sebenarnya sudah lama, sama seperti di kampus I", katanya. Hal ini juga guna memperketat keamanan kampus.

Salah satu mahasiswa mengiyakan peraturan mengenai jam tutup gerbang kampus. Iqbal sapanya, mengatakan bahwa ramadhan ini sudah terdapat surat edaran mengenai peraturan tersebut. “Untuk hari biasa gerbang kampus tutup jam 22.00”, tuturnya pada Sabtu, (19/5). 

Suparman juga menghimbau pada mahasiswa agar memiliki kesadaran atas keamanan barang miliknya. "Pada saat sholat, barang-barang jangan ditaruh sembarangan, apalagi laptop. Ketika parkir motor juga harus dikunci ganda," tegasnya. (Edu_On/Nia)


Doc. Edu


Semarang, EdukasiOnline-- Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) adakan survei dan pendataan kasus pencurian motor yang terjadi di UIN Walisongo. Kementerian Dalam Negeri (KEMENDAGRI) Dema UIN Walisongo mengadakan survei tersebut terkait maraknya  kasus  pencurian motor yang menggemparkan area kampus  terutama area kampus I dan II. Dema  meminta pada seluruh mahasiswa yang mengetahui adanya pencurian motor di kampus untuk mengisi data. Mahasiswa dimohon untuk  memberikan keterangan mengenai merk motor, nomor plat, waktu  dan tempat kehilangan motor.  Data tersebut nantinya akan diberikan pada pimpinan birokrasi agar selanjutnya bisa diadakan audiensi. “ Pendataan ini bertujuan agar mendapatkaan bukti valid , sehingga bisa jadi bukti kuat saat audiensi” terang Ahmad Sajidin, selaku wakil ketua Dema ”. Tidak hanya itu, Dema  juga memberikan ruang  bagi  mahasiswa  untuk  menyampaikan aspirasi terutama terkait keamanan kampus.

Berdasarkan hasil survey sementara yang dilakukan sejak 11 Mei 2018 Pukul 15.00 WIB sampai pada hari Rabu, 16 Mei 2018 pukul 19.00 WIB, terhitung 6 kasus pencurian motor yang terjadi sejak Maret hingga Mei 2018.  Sedangkan total  data pencurian yang  masuk sejak bulan Agustus 2017  hingga Mei 2018 adalah 9 kasus. Laporan  tersebut  belum dipastikan lengkap dan menyeluruh, karena adanya kemungkinan kasus kehilangan motor yang belum tertulis dalam data ini. Survei tersebut mendapatkan responden sejumlah 1.055 mahasiswa/i secara umum.

Menurut Survei didapatkan 50,2 % responden dari keseluruhan jumlah  menilai bahwa kondisi kemanan di UIN Walisongo tidak aman. Sedangkan 85,9%  responden mengaku “Tidak” mendapat  fasilitas memadai dan jaminan keamanan sepeda motor .

Dema UIN Walisongo juga berusaha menampung aspirasi  mahasiswa terkait  keamanan  kampus.  Saran- saran tersebut ditampung dan terangkum dalam poin-poin di bawah ini:
a. Barrier Gate harus secepatnya dipasang untuk meminimalisir adanya pihak luar yang masuk kedalam kampus tanpa kepentingan yang berkaitan dengan kampus.
b.   Pengadaan CCTV secara maksimal, yang dipasang disetiap sudut kampus yang rawan dengan pencurian sepeda motor, khususnya dalam area parkir, gerbang kampus dan sekitar ruang kelas perkuliahan.
c.   Adanya  petugas  khusus  yang  mengawasi  CCTV  sehingga  dapat  menekan adanya tindakan pencurian.
d.   Perbanyak petugas keamanan (satpam) dan petugas parkir.
e.   Meningkatkan kedisiplinan di semua elemen kampus, mulai mahasiswa, dosen, tenaga administrasi/ pegawai untuk dapat mematuhi peraturan kampus dengan memberikan sanksi yang tegas.
f.     Tindakan preventif tidak hanya dilakukan saat terjadi kehilangan motor saja, tindakan sesuai dengan opsi diatas dapat dilakukan secara terus menerus dan menjadikannya  sebagai   sistem   yang  mengakar  di  UIN  Walisongo   guna mencapai visi dan misi Universitas.
g.   Menjalin kerjasama dengan pihak yang berwajib untuk mempercepat tindakan apabila terjadi tindak pidana pencurian.
h.   Adanya  asuransi  kehilangan/  memberikan  dana  bantuan  pergantian  sebagai wujud tanggung jawab dan meringankan beban korban sebelum adanya CCTV dan Barrier Gate.
Reporter : Nia dan Iftah