Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tangga Menuju Ilmu Laduni dalam Kacamata Imam Al-Ghazali

4/21/2018
Doc. Edukasi



Semarang,EdukasiOnline-- Asumsi yang berkembang dalam masyarakat mengenai ilmu laduni selama ini adalah mereka mempercayai bahwa ilmu laduni ada pada diri seseorang yang berdarah biru dan dimiliki tanpa melalui proses. Komunitas pondok pesantren dan Islam santri, ilmu laduni cukup populer dan menjadi fenomena sosial di bidang pengetahuan Islam. Kehadirannya tidak saja membuat mereka terpesona, mereka meyakini dengan memiliki ilmu laduni seolah mereka menjadi figur yang serba bisa. 
Untuk meluruskan kembali asumsi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (BEM FITK) mengadakan diskusi publik terkait bedah tesis “Konsep Pendidikan Islam Menurut Al-Ghozali”. Diskusi ini diisi  oleh Dr. Agus Sutiyono, M.Ag, M.Pd di Taman Revolusi Kampus II UIN Walisongo Semarang.

Ilmu Perlu Proses
Dalam kitab Ta'lim Muta’allim dijelaskan bahwa dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesabaran dan juga waktu yang panjang. John Dewey pun memiliki teori bahwa pendidikan adalah sebuah proses tanpa akhir, "Education is a process without end". “Salah satu hadist nabi menyatakan bahwa  mencari ilmu dimulai dari ayunan sampai liang lahat, uthlubu al ilma minal maghdi ila al lahdi. Maka sebagai calon pendidik kita perlu waktu yang panjang untuk memaksimalkan ilmu kita.”, tutur Agus pada hari Kamis, (19/04).

Dosen tersebut juga mengingatkan kepada mahasiswa FITK bahwa sebagai calon pendidik, nantinya tanggung jawab pendidik bukan hanya melakukan “transfer of knowledge”, tetapi juga “transfer of value”, yaitu memberikan nilai-nilai karakter kepada peserta didiknya. “Pendidik harus paham bagaimana metode yang tepat untuk  menyampaikannya.”, tegas dosen itu.

Konsep-konsep pendidikan tersebut ternyata dalam realitanya tidak diterapkan hingga memunculkan istilah ilmu laduni (ilmu yang tanpa proses). Orang meyakini bahwa ilmu laduni adalah ilmu yang didapatkan tanpa harus melalui proses panjang di atas. “Kita harus meluruskan hal tersebut. Dalam kacamata Imam Al-Ghazali, ilmu ialah sebuah penggambaran tentang jiwa. Sehingga orang akan melakukan perbuatan baik secara reflek ,dikarenakan ilmu tersebut sudah mendarah daging”, katanya.

Proses Mencapai Ilmu Laduni              
Agus  Sutiyono juga menegaskan bahwa dalam perspektif Al-Ghozali, terbukanya jalan menuju kebahagiaan akhirat itu dengan melakukan mujahadah dan muraqabah. Muraqabah berarti mendekatkan diri dan yakin bahwa allah itu mengawasi kita. Maka, kita harus menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, sebab kita percaya bahwa Allah itu selalu mengawasi kita. mujahadah dan muraqabah menghantarkan kepada musyahadah (menyaksikan gerak gerik hati) sehingga mendatangkan ilmu-ilmu hati yang pelik-pelik dan tinggi. Inilah sesungguhnya kunci pintu ilham dan mata air yang memancarkan kasyaf (terbukanya ilmu pengetahuan).

Ilmu laduni itu bukan haknya orang yang berdarah biru saja, tetapi semua orang asalkan mampu melewati proses-proses seperti tazkiyatun nafs (menyucikan jiwa), belajar (menuntut ilmu), dan mau berusaha sungguh-sungguh. “Tentu saja dalam melalui proses tersebut tidak mudah, tidak semua orang mampu melaluinya.”, tutur Agus. Ilmu laduni dapat dipahami sebagai ilmu yang dapat diterima dengan mudah dan nyaman. Ada pancaran hikmah yang terselip dalam diri mereka, apabila tiga hal tersebut sudah dilalui. (Edu/On_Nia)