Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Sajak Gelisahku

4/11/2018


Sajak Gelisahku:
Arteria Dahlan, Seruanmu Itu Berkata Bangsat
: Ubaidillah Achmad

Hai, Arteria, kau itu siapa, berkata bangsat, kursimu yang kau hiasi kata bangsat, bahkan kau tidak mengira apa itu arti kata bangsat! Partaimu PDIP tidak mengira, kau itu berkehendak apa kok berkata bangsat. Kau kotori rakyat yang memilihmu dengan suaramu suara bangsat. Kau serukan di tengah Rapat Komisi III DPR RI bersama Jaksa Agung, Rabu, 28/03/2018, dengan kumandang bangsat. Suaramu ada kata bangsat menandai ruang komisi III DPR RI, adalah peristiwa gemuruh bangsat hingga terdengar telinga rakyat negeri ini,

Siapa yang menjadi korban kotoran mulut suara bangsat? Wajahmu yang bermulut suara bangsat? Sidang komisi yang agung yang mengundangmu untuk bersuara bangsat? Ingat, suara bangsat itu dari lisanmu, yang terdengar suara bangsat! Lisanmu itu, telah menyematkan kata bangsat sebagai wujud energi negatif yang keluar dari dirimu.

Hai, Arteria, haruskah seorang politikus itu biar berwibawa harus bersuara bangsat? Haruskah untuk bisa mengatakan bangsat musti harus menjadi DPR RI? haruskah untuk bersuara bangsat itu, harus menginap di perumahan Rakyat yang dibangun megah untuk kata penting yang engkau serukan dengan seru kata bangsat?

Hai, Arteria, tidakkah engkau melihat rakyatmu, yang membanting tulang dan memeras keringat, namun kau kotori dengan suara bangsat. Partaimu yang menjadi harapan rakyat, kau kotori dengan harapan dan kehendak bersuara bangsat. Bahkan, bangsa kita, Indonesia, kau perdengarkan dengan contoh pendidikan untuk berkata kotor: katamu itu berkata bangsat atau bangsat itu berkata katamu!!

Hai, Arteria, ingatlah, negeri kita, Indonesia telah diperjuangkan oleh para pahlawan yang gugur di medan perang untuk mempertahankan karakter bangsa, etika bangsa, nilai luhur bangsa dan adat serta tradisi yang mulia, namun apa katamu, yang kini mewakili hati rakyat, ternyata kau isi dengan kata kata, yang bukan kata kata seorang bangsawan dan negarawan atau yang bukan didikan dari suara suci ibu pertiwi.

Jika katamu berkata bangsat, kau suarakan sendiri di tengah sepi dan kesunyian, tentu tidak berarti bagi bangsa ini, namun karena kau katakan pada sidang suci, di tengah kau harus berkata baik, berkata jujur, dan berkata untuk rakyatmu. Ternyata, sebaliknya, hanya satau kata katamu berkata bangsat, telah menghapus ketulusan rakyat yang baik hati dan mulia.

Hai, Arteria, katamu berkata kata bangsat atau bangsat itu kata katamu berkata? Ingat kata bangsat itu bukan kata kata yang luhur dan mulia, tidak sikap, perilaku dan kata kata seorang anggota DPR RI. Katamu itu berkata bangsat, adalah tidak teladan bagi rakyat.

Hai, Arteria, Katamu itu menodai Majelis Kehormatan DPR RI, karena kau bagian dari keanggotaan DPR RI. Badan legislatif itu mulia bagi rakyat, namun menjadi ruang mengecewakan berdasar kata katamu dari kata bangsat.

Rakyat Sudah Tidak Peduli

Hai, Arteria, kini rakyat tidak peduli, apakah kau akan minta maaf atau tidak, minta maaf dengan mengaku salah atau tidak, mengaku salah tanpa minta maaf atau tidak, adalah sudah tidak menjadi adegan yang ditunggu tunggu, karena apa arti kata bangsat sudah dilupakan rakyat dan masyarakat. Katamu dengan kata bangsat itu sudah tidak bernilai bagi rakyat, meski ibarat kata berkata bangsat bernilai bagimu, tetap saja rakyat lebih memilih seseka air dan sesuap nasi untuk anak anak mereka yang sehari belum makan atau makan dengan penuh keterbatasan.

Hai, Arteria, kini rakyat sudah tidak peduli, apakah kamu malu atau tidak dengan kata katamu berkata bangsat? rakyat tidak peduli, apakah kamu malu atau tidak punya malu dihadapan anak, istri, orang tua, tetangga, masyarakat dan partaimu? rakyat sudah tidak peduli, apakah kamu itu akan memasang fotomu dengan katamu yang berkata bangsat menjadi berubah, "jangan berkata kata bangsat". Apa sajalah yang akan kau perbuat, kau punya hak membiarkan katamu berkata bangsat atau mencabut katamu berkata bangsat.

Hai, Arteria, rakyat juga sudah tidak mau tahu, apakah ada penyesalan hingga sedih menggoncang akibat kata katamu berkata bangsat, atau kau berjalan dan berhias senyum yang pernah berkata bangsat. Rakyat juga sudah tidak akan memperdulikan perkembangan kedewasaan dan upaya kamu belajar dari pengalaman berkata kata bangsat.

Hai, Arteria, ingatlah, kata katamu bangsat akan menetaskan buah, karena seringkali kita dengarkan,"siapa yang menanam biji akan memetik buahnya". Jika biji itu baik, maka buahnya akan baik. Jika biji itu jelek, maka buahnya akan jelek. Pintaku, anak negerimu, tanamlah biji bijian yang baik di negeri ini, jangan engkau tanami tanah negeri ini, dengan biji dari kata katamu berkata bangsat.


Ubaidillah Achmad, Penulis Buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, tinggal di desa Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang

Sumber ilustrasi: dokumen LPM Edukasi