Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Literasi Media: dari Seminar ke Karikatur

4/10/2018

DOC. LPM Edukasi

Semarang, EdukasiOnline--Banyak persebaran hoaks mendorong beberapa pihak memberi edukasi kepada masyarakat.  Salah satunya melalui acara Seminar dan Pameran Seni Rupa: Literasi Media, Senin (09/4), di Audit II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Seminar ini diadakan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng yang bekerja sama dengan UIN Walisongo. Namun sisi menariknya, seminar ini tidak hanya melalui oral, melainkan dibarengi dengan kartun. Ketua KPID Jateng , Budi Setyo Purnomo menuturkan media ini dianggap sebagai bentuk  praktis untuk menjelaskan kepada masyarakat.

 “Melalui seminar ini, kata-kata bisa dijelaskan dalam satu frame dan masyarakat dapat menafsirkan dengan mudah,” ujarnya.

KPID Jateng menginisiasi untuk mengadakan sosialisasi literasi media baik dari kalangan pelajar maupun lini masyarakat yang lain. Selain itu, literasi media bertujuan untuk membuat masyarakat agar cerdas dan kritis dalam menganalisa media. Ketua KPID juga menambahkan bahwa  kepentingan industri yang semakin berkembang membuat masyarakat harus cerdas dalam memahami dan mengamati media. Seperti televisi maupun radio yang notabene banyak ditunggangi oleh kepentingan industri tertentu.

 “Tahun-tahun politik seperti sekarang ini, media sangat berperan dalam mengemas iklan dengan baik,” tegas Budi Setyo Purnomo. Hal serupa juga  dikatakan oleh Abdullah Ibnu Tolhah, bahwa media yang baik itu harus mengutamakan sifat estetis, informatif, baru kemudian bersifat sebagai penghibur. “Sebenarnya televisi masa kini sudah gagal dalam hal tersebut,” tuturnya.
Sisi negatif  itulah yang ditangkap Ibnu Tolhah dalam media yang dicontohkan dengan  eksploitasi perempuan. “Perempuan menjadi komodifikasi yang bernilai ekonomis, menjadi target pasar, dan bukan ditonjolkan dari sisi kecerdasan intelektualnya,” ucap dosen UIN Walisongo tersebut.

Dalam pandangan Ibnu Tolhah media juga seakan-akan mengonstruksi kecantikan wanita masa kini. “Sekarang, cantik itu seperti harus yang badannya tinggi, putih, dan langsing. Berbeda zaman dahulu, dimana perempuan  cantik itu yang berbadan gemuk," kata Ibnu Tolhah. Dia juga berpesan bahwa perempuan harus punya posisi tersendiri, jangan mau dibentuk oleh media.

Masyarakat harus bersama-sama mengawal konten media,” terus ketua KPID Jateng.  Ia melanjutkan, minimal  menjadi agen literasi media yang menularkan hal tersebut kepada lingkungan terkecil dulu seperti keluarga. “Dengan memahami literasi media, masyarakat akan pandai memilih acara televisi maupun media-media lain,” tutupnya. (Edu_On/Nia)