Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Kartini Mati Lagi Karena Kaumnya

4/23/2018
Doc : Edukasi



Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Apa yang diingat kembali dari perayaan Hari Kartini? Mungkin tidak ada, selain perayaan tentang busana, masakan, tata rias, kecantikan dan hal-hal lain yang ‘dianggap’ sangat identik dengan jati diri perempuan. Jati diri perempuan digambarkan hanya persoalan wajah dan busana saja. Tidak ada yang lain. Selain hal itu, kita seperti melupakan. Padahal, pada masa Kartini hidup, cita-cita yang diingkannya bukan hal tersebut. Tapi semakin hari perayaan Hari Kartini adalah soal wajah dan busana saja.

Bahkan ada yang merayakannya dengan mengadakan kontes kecantikan. Bukankah itu sama saja dengan melakukan tindakan eksploitatif terhadap perempuan? Perempuan secara tidak langsung ditelanjangi oleh mata. Meskipun tidak dalam keadaan telanjang. Perempuan hanya dipandang persoalan kecantikan tanpa memedulikan kehidupannya.

Parahnya di lembaga-lembaga pendidikan—wadah yang diidam-idamkan oleh Kartini-- perayaan Hari Kartini juga dirayakan dengan tetek bengek kecantikan, tradisi dan sesekali mengutip dengan surat-surat yang telah ditulisnya. Sama juga, memakai pakaian kebaya dan berdandan. Yang sejak jauh-jauh hari sebelumnya sudah diributkan dengan gincu merek apa yang akan digunakan, di manakah salon yang akan dijadikan sebagai penata rias dan hal-hal lain yang bisa mempercantik diri. Perayaan Kartini seolah-olah adalah tentang budaya konsumtif perempuan masa kini saja.

Sementara para gadis-gadis di sekolah sibuk menyiapkan hal tersebut. Ibu-ibu muda yang baru saja menikah dan terpaksa harus keluar dari sekolah, menekuri nasibnya. Di rumah harus masak dan mencuci pakaian suaminya. Dan cita-citany a terpaksa harus padam.

Padahal sejarah sudah menunjukkan, bagaimana Kartini dipadamkan cita-citanya. Kawinkanlah. Pada masa Kartini, Belandalah yang mendesak orang tuanya untuk segera menikahkan. Dan strategi Belanda ampuh memadamkan cita-cita perempuan itu.

Akan tetapi sekarang ini, Belanda berubah menjadi orang tua-orang tua kita. Yang  terlalu kolot terhadap tradisi. Bahwa perempuan harus menurut dengan orang tua. Bahwa perempuan harus menikah sejak usia dini. Bahwa tugas perempuan hanya mengurusi soal macak, manak, masak. Lalu untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Kalau akhirnya juga tugasnya hanya soal itu-itu saja.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, angka pernikahan perempuan usia dini di Indonesia masih tinggi. Penyebabnya adalah faktor budaya dan ekonomi. Faktor budaya disebabkan oleh adanya paksaan dari orang tua untuk segera menikah, karena tradisi dalam keluarga. Sedangkan ekonomi disebabkan oleh kemiskinan.

Sementara perempuan yang lain dihadapkan dengan masalah budaya dan ekonomi, perempuan yang lain disibukan dengan budaya konsumtif. Barangkali benar dengan apa yang dituliskan oleh Soe Hok Gie, perempuan akan tertinggal jauh dengan laki-laki kalau persoalan yang diurusi adalah hanya gincu saja.  

Lagi-lagi, kita harus kehilangan Kartini. Yang mati lagi, Karena dibunuh oleh kaumnya sendiri. Di pendidikan yang diidam-idamkan, Kartini dibunuh dengan budaya konsumtif dan gincu. Sedang di sosial masyarakat, Kartini dipadamkan melalui pernikahan perempuan anak usia dini.

Lalu di manakah sekarang cita-cita Kartini bisa hidup kembali? Cita-cita itu bisa hidup di hati perempuan yang berpikir lebih dari zamannya. Tidak hanya sibuk mengurusi gincu saja. Karena bagi Kartini, “dari semenjak dahulu kemajuan perempuan itu menjadi pasal yang amat penting dalam usaha memajukan bangsa. Kecerdasan pikiran penduduk pribumi tiada akan maju dengan pesatnya, bila perempuan itu ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan jadi pembawa peradaban”.   

Oleh : Ahmad Amirudin