Desember 2017
Doc. LPM Edukasi



Tema: “Pendidikan Islam Nusantara; Nilai Teologis dan Tradisi Lokal Bangsa”


Islam adalah agama yang universal, sempurna, dinamis, lentur, elastis dan selalu dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ajaran universal Islam mengenai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan terwujud secara substansial, tanpa menekankan simbol ritual dan tekstual. Sebagai agama Rahmatan Li al-‘Ālamīn, agama Islam mampu mengakomodasi semua kebudayaan dan perabadan manusia di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, sebagai salah satu negara mayoritas Islam terbesar di dunia awalnya tidak serta merta masuk begitu saja. Melalui tokoh-tokoh yang dikenal sangat kental dengan tradisi dan budaya di Indonesia saat itu, mampu mengakulturasikan budaya lokal dan Islam. Hal inilah yang menjadikan Islam dapat diterima dengan baik di Indonesia.
Namun, belakangan ini mulai bermunculan gerakan-gerakan Islam garis keras yang mencoba merusak tradisi Islam lokal yang diwariskan tokoh-tokoh terdahulu. Mereka menganggap hal sedemikian tidak dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, kemudian dianggapnya sebagai Bid’ah. Selain itu, sebagian golongan ada pula yang menentang konsep Negara Kesatuan Repulik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan pada Pancasila. Menurut mereka, Indonesia yang mayoritas muslim haruslah bersistem negara Islam.
Dengan berbagai problem tersebut, disini peran pendidikan tentu sangatlah penting, agar gerakan-gerakan Islam yang menentang dapat ditanggulangi. Salah satunya yaitu Pesantren. Sebagai akar pendidikan Islam Nusantara, pesantren tidak hanya mengajarkan masalah keilmuan saja, namun disana peserta didik (santri) diajarkan secara konkrit nilai-nilai agama dan kebangsaan melalui sosok ‘kyai pesantren’.
Berdasarkan uraian diatas, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi UIN Walisongo Semarang mengundang mahasiswa, santri, guru, akademisi, peneliti, pemerhati pendidikan dari berbagai disiplin ilmu untuk berkumpul mendiskusikan tema yang kami angkat, yaitu Pendidikan Islam Nusantara; Nilai Teologis dan Tradisi Lokal Bangsa”
Kami menanti abstrak berbahasa Indonesia atau Inggris maksimal 300 kata yang dikirimkan melalui email cfpedukasi2018@gmail.com selambatnya tanggal 12 Februari 2018. Para pemakalah tidak dikenakan biaya, dan mendapatkan seminar kit, prosiding, sertifikat, snack, makan siang, doorprize, dan jurnal LPM Edukasi berISSN. Pemakalah yang berasal dari luar kota diharapkan menyediakan akomodasinya sendiri. Para pemakalah dengan tulisan-tulisan terbaik akan diterbitkan dalam Jurnal LPM Edukasi berISSN.

Tanggal Penting 
1.Pengumpulan abstraksi : 29 Desember 2017 – 12 Februari 2018 
2. Penjurian : 13 – 15 Februari 2018 
3.Pengumuman abtraksi yang diterima : 16 Februari 2018 
4. Pengumpulan full makalah : 17 – 28 Februari 2018 
5. Pelaksanaan seminar (Presentasi makalah)  :10 Maret 2018

Ketentuan Penulisan Makalah 
1.Makalah sesuai dengan substansi tema yang diangkat oleh panitia 
2. Makalah merupakan karya orisinil dan belum pernah dipublikasikan pada media penerbitan apapun 
3.Panjang makalah antara 10-15 halaman, dan bukan merupakan karya yang memuat unsur-unsur plagiarism. 
4. Format makalah bisa dalam bentuk file word (RTF) maupun pdf 
5.Font yang digunakan yaitu Times New Roman 11 dengan spasi 1,5 pada kertas ukuran A4 dengan margin kiri 2,5 cm atas, bawah dan kanan 2 cm. 
6.Data diri (CV) dilampirkan saat mengirimkan makalah kepada panitia


Sekretariat: Gedung PKM Lantai 2 Kampus II UIN Walisongo Jl Prof. Dr. Hamka Km. 01 Ngaliyan 50158 IG: lpmedukasi Twitter: @LPM_edukasi. FB: LPM Edukasi Website: www.lpmedukasi.com

Contact Person: 081575600770 (Luthfi), 
                            08568773674 (Riza)


Para mahasiswa yang menunggu giliran mencoblos di depan Gedung N (doc. Edu/Ris)

Semarang, EdukasiOnline –Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa), pada hari Selasa (19/12) resmi dilaksanakan. Di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) acara tersebut dimulai pukul 08.30 WIB yang dibuka oleh Wakil Dekan III, Wahyudi. Setelah acara berlangsung selama 30 menit, taman Revolusi yang menjadi Tempat Pemungutan Suara (TPS) terguyur hujan, dan TPS pun dipindah ke Hall gedung N.

Banyak mahasiswa yang mengeluhkan dipindahnya TPS tersebut. Muhammad Iqbal El Asykuri, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) merasa hall gedung N bukanlah tempat yang kondusif untuk melakukan pencoblosan. “Pemindahan di Hall gedung N ini tidak kondusif karena tempatnya yang minimalis dan tidak cukup menampung banyak mahasiswa FITK”, papar mahasiswa semester tiga tersebut.

Sama yang dikeluhkan Iqbal, Nur Ita juga menganggap pemindahan ke Hall gedung N ini tidak kondusif karena tempatnya kurang luas. “Pemindahan di Hall gedung N ini tidak kondusif karena tempatnya kurang luas dan antrian yang nggak jelas menambah sempitnya tempat ini”, jelas mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut saat dihubungi tim redaksi.

Ketika pukul 14.00 WIB, Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) menutup acara Pemilwa. Namun, niatan tersebut diprotes oleh beberapa mahasiswa yang menolak penutupan tersebut. Alasan mahasiswa melakukan penolakan karena mereka menganggap banyak mahasiswa FITK yang belum mencoblos. “Banyak mahasiswa yang belum menggunakan hak pilihnya, padahal mereka sudah menunggu sejak lama”, terang seorang mahasiswa saat kejadian tersebut berlangsung. Akan tetapi setelah melakukan sedikit perundingan, TPS tetap ditutup dan mahasiswa yang protes dibubarkan. (Edu_On/Ris)
Doc. LPM Edukasi
Fenomena intoleransi akhir ini tidak boleh dipandang sebagai isu sederhana, namun sudah mempengaruhi keragaman bangsa Indonesia. Misalnya, model kebijakan pemerintah bersumber dari tekanan masa berbasis agama yang merugikan hak berserikat dan berkumpul sesama warga negara Indonesia. Hal ini, sudah banyak dimuat diberbagai media masa dan hasil penelitian para akademisi, praktisi media, catatan kejadian demi kejadian intoleran yang dilakukan sekelompok orang atau masyarakat.

Selain kasus ini, telah terjadi bom bunuh diri meledak di depan Mapolres Surakarta, di dekat Masjid Nabawi, di Madinah, di Konsulat Amerika di Jeddah, Istanbul, Dhaka, Baghdad dan Libanon. Sehubungan dengan fenomena ini, pemerintah terbaca belum tuntas menyelesaikan kekerasan kaum intoleran, baik secara verbal maupun non verbal. Meskipun demikian, sudah terbaca keseriusan pemerintah menekan laju perkembangan gerakan Intoleran dan radikal di bumi Indonesial Mengapa seseorang bersikap intoleran dan radikal? Bagaimana jawaban Mbah KH. A. Syahid terhadap intoleransi dan radikalisme?

Menjaga Keutamaan Hidup


Kekhasan teks sufistik yang menjadi acuan pembacaan Mbah KH. A. Syahid, adalah kitab Minhajul Abidin. Semasa penulis nyantri kepada beliau, kitab ini dibaca sesudah pembacaan aurat dan shalawat dari beliau, yang di baca mulai ba'da Al magrib hingga pukul 20.30 dilanjutkan shalat Isya' berjamaah. Sesudah Shalat Isya' ini, para santri yang ikut kajian teks Minhajul 'Abidin langsung masuk ke ruang Mbah KH. A. Syahid.

Kata kunci yang selalu ditekankan beliau selama memaparkan materi kajian kitab ini, adalah membangun semangat kemanusiaan (al-ruh al-insaniyyah). Dalam pandangan KH. A. Syahid, prinsip kemanusiaan merupakan pijakan yang memiliki keutamaan langsung dari Allah. Karenanya, semua manusia tidak boleh mengabaikan prinsip keutamaan memuliakan seluruh anak cucu Adam, sehingga harus menjaga persaudaraan kemanusiaan dan menjaga tatanan sosial yang damai dan harmonis.

Penekanan KH. A. Syahid tentang manusia ini hendak menunjukkan kepada para santri, bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Artinya, dengan mengabaikan kemanusiaan, maka sama artinya mengabaikan ajaran kenabian yang bersumber dari Allah. Jika seseorang mengabaikan prinsip yang bersumber dari Allah, maka sama artinya mengabaikan Allah. Dari sini, juga dapat dipahami adanya relasi suci antara Allah dan manusia serta hal hal yang terkait dengan kelangsungan hidup manusia, yaitu lingkungan hidup yang harmonis.

Prinsip yang terus berjalan yang terefleksi dari pandangan dan perilaku Mbah KH. A. Syahid ini dapat dirasakan oleh para santri dan masyarakat. Hal ini membuktikan, keberadaan KH. A. Syahid, adalah sudah menjadi teks atau tanda yang menandai arti penting makna kemanusiaan. Makna kemanusiaan ini, tidak boleh diabaikan dalam ajaran agama dan sistem kekuasaan. Karenanya, kehadiran KH. A. Syahid sangat dibutuhkan zamannya untuk menjawab krisis kemanusiaan yang kerap menjadi sasaran utama kelompok ekstremis.

Kelompok ekstrimis memiliki keterbatasan pemahaman tentang keislaman dan gairah yang meluap untuk mencari jati diri dan identitas. Karena keterbatasan pemahaman kelompok ekstrimis ini, maka mereka ini mudah dicekoki oleh paham-paham transnasional yang dapat mengancam solidaritas kebangsaan. Sebagai contoh adanya beberapa isu yang dilontarkan oleh kelompok ekstrimis, seperti gerakan anti NKRI dari aktivis yang ingin mendirikan khilafah.

Kelompok ekstrimis ini menolak kebebasan dan kemerdekaan seseorang dalam berfikir dan menentukan keyakinannya. Dalam kelompok ini tidak mengenal artikulasi pemikiran keislaman kontemporer yang konstruktif dan mampu menjawab beberapa problem kemanusiaan.

Berbeda dengan kelompok ekstrimis, KH. A. Syahid mampu menunjukkan komitmen penghargaan pada keragaman dan kebudayaan. Beberapa contoh penghargaan beliau terhadap keragaman, di antaranya: pertama, bersikap adil (ta'adul) dan tetap mejaga keseimbangan (tawâzun) di tengah kehidupan masyarakat. Sikap ini telah ditunjukkan KH. A. Syahid setiap menerima informasi dan berita, beliau selalu menimbang dan meniti kebenaran dan keutamaan yang datang dari siapa pun secara objektif.

Kedua, bersikap moderat (tawassuth) dan toleransi (tasâmuh) terhadap paham dan keyakinan masyarakat yang berbeda. Prinsip yang kedua dapat menjadi fundasi gerakan Islam Nusantara melakukan perbaikan (ishlâhîyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka ishlâh al-ummah (perbaikan umat). Sehubungan dengan kedua prinsip ini, telah menjadi keutamaan yang sudah membentuk kekhasan Ulama Nusantara dan menjadi nilai dasar kepribadian para santri kemadu (mabadi` asasiyyah). Prinsip ini, juga menjadi panduan KH. A. Syahid kepada dalam memberdayakan potensi keberagamaan masyarakat.

Menekan Sikap Intoleransi

Perlu penulis tegaskan, selama penulis berada dalam asuhan beliau, belum pernah mendengarkan Istilah intoleransi dari beliau. Mengapa saya jadikan cakupan ide dan pandangan yang menjadi tema penelitian ini? Hal ini karena adanya sifat dan sikap kaum intoleran yang mengakukan diri dan klaim kebenaran yang bersumber hanya dari dirinya sendiri seara berlebihan. Sifat dan sikap yang seperti ini yang sering disebut Mbah Syahid sebagai bentuk sifat dan sikap "Ananiyah". Dalam mengkaji kitab Minhajul Abidin, penulis pernah mencatat satu kata "ananiyah" dari beliau.

Dalam pembahasan sub bab ini, sifat dan sikap ananiyah penulis masukkan pada katagori seseorang yang bersikap intoleran. Jadi, yang mengkaitkan istilah ananiyah dengan Intoleran, adalah merupakan pengembangan dari penulis. Dengan demikian, jika ditemukan kata intoleran dalam studi terhadap KH. A. Syahid, merupakan istilah dari penulis yang perlu mendapatkan pendampingan sebagaimana mereka yang disebut Mbah Syahid sebagai bentuk dari sifat ananiyah.

Berikut ini, model atau cara KH. A. Syahid menekan sikap intoleransi yang timbul di tengah keberagamaan: pertama, adanya pemahaman dan kayakinan sebuah kelompok yang menganggap paling benar sendiri. Pemahaman dan keyakinan kelompok lain yang berbeda, adalah salah. Dalam menjawab sikap intoleran yang pertama ini, KH. A. Syahid menegaskan, perlunya memahami Islam dari akhlak Nabi Muhammad, sehingga umat Islam tidak memahami Islam, dari dasar penegakan hukum secara formal (Fiqh) dengan tanpa memahami nilai nilai historis pengembangan risalah kenabian.

Cara yang kedua, umat Islam perlu bersama sama mewaspadai kehendak kuasa kelompok kepentingan, baik bersifat individual maupun komunal. Ciri kelompok ini selalu bersifat emosional. Dengan kewaspadaan yang kuat, kelompok ini tidak akan mudah merusak keragaman dalam perspektif Islam. Ciri pandangan dan sikap emosional, adalah lebih banyak mengedepankan fanatisme terhadap keyakinannya saja, namun mengabaikan pemahaman yang menyeluruh dari ajaran agama dan sistem kekuasaan.

Dari pemaparan di atas, perlu dimulai dari para subjek dampingan untuk merajut pola keberagamaan yang benar benar mengajarkan kebaikan antar sesama umat manusia dan saling mrmberikan pertolongan kepada sesama serta bersikap adil terhadap siapa pun yang sedang berselisih. Karenanya, sebagaimana pesan KH. A. Syahid perlu memberikan dampingan kepada masyarakat korban, agar tidak bisa bersikap eksklusif di tengah keragaman agama dan budaya. Dalam konteks tertentu sikap beragama yang eksklusif ini memilih konflik berhadapan dengan keyakinan yang berbeda.

Berbeda dengan mereka yang suka ananiyah, yang penulis sematkan dengan kaum intoleran, Mbah Syahid lebih sering memandang pihak lain sebagai sebuah proses perjalanan yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan demikian, tidak perlu merendahkan dan menghinakan pihak yang lain, sebab semua cucu Adam telah dimuliakan Allah Jalla Jalaluhu, semua harus saling menghargai dan menghormati harkat dan martabat umat manusia.

Dalam konteks keindonesiaan, kaum intoleran bergerak semakin meluas. Mereka ini berkedok sebagai pengikut Aswaja, sebagai mana prinsip ajaran yang diambil warga NU. Mereka ini, mengaku sebagai gerakan yang ingin mengembalikan atau menegakkan kembali Piagam Madinah dan mengganti konstitusi UUD 1945, falsafah Pancasila dan semboyang Bhineka Tunggal Ika. Meskipun demikian, kita semua akan merasakan membaca ide dan pandangan Ulama Nusantara dibandingkan dengan ungkapan kaum intoleran.

Ubaidillah Achmad, Dosen UIN Walisongo Semarang dan Khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyyah Sidorejo Pamotan Rembang
doc. Edu_On/Ris

Semarang, EdukasiOnline – Beralaskan adanya gerakan mahasiswa yang mati suri, salah satu panelis Debat Kandidat pada Jumat (15/12), Yayan Royani menanyakan solusi untuk masalah tersebut. “Sebagai calon Dema, bagaimana Anda menghadapi gerakan mahasiswa yang mati suri?” tanya Yayan Royani kepada para kandidat.  

Tanpa menunggu waktu lama, kandidat nomor urut dua diberi kesempatan menjawab pertama kali. “Seiring perkembangan zaman, mahasiswa cenderung hedonis, pragmatis dan individualis,”  jawaban dari  Ahmad Sajidin selaku calon wakil Dema nomor urut 2.

Dari jawaban lelaki yang sering disapa Ajid tersebut, mati surinya gerakan mahasiswa menurutnya ada kaitannya dengan  gerakan literasi. “Dalam negeri ini gerakan literasi masih sangat minim,”  ungkapnya.

Demi kembali menghidupkan gerakan mahasiswa, optimalisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) adalah salah satu langkah yang dipilih pasangan Fahmi-Ajid tersebut. “Agar bisa mengembangkan potensi mahasiswa, UKM seperti lembaga-lembaga pers mahasiswa harus dioptimalkan” tandas Ajid di depan banyak peserta debat.

Beda dengan cara yang dipilih kandidat nomor urut 1, Ilyas-Hanif. Bekerjasama dengan UIN mengadakan konsolidasi mahasiswa se-Jawa Tengah, adalah langkah yang didpilih pasangan tersebut. ”Solusi dari kami, adanya konsolidasi mahasiswa se-Jawa Tengah bisa menyikapi isu-isu lokal maupun nasional” jelas Calon Presiden nomor urut 1, Muhammad Ilyas.

Demi mengangkat marwah UIN ke kancah Nasional, pasangan yang diusung oleh Partai Mahasiswa Berkemajuan (PMB), Muhammad Ilyas dan Hanif Mustofa meminta dukungan dari seluruh mahasiswa UIN Walisongo. “ Karena itu kami  mengharapkan semangat dari teman-teman” ajak Ilyas saat dihubungi tim redaksi. (Edu_On/Anf)


doc. Edu_On/Ris


Semarang, EdukasiOnline –Mendekati Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) di hari Selasa (19/12) nanti, Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) mengadakan debat kandidat Calon Presiden (Capres) dan calon wakil preiden (cawapres) (Dewan Eksekutif Mahasiswa) DEMA UIN Walisongo Semarang. Acara berlangsung pada hari Jumat (15/12) di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo.

Acara tersebut dibuka dengan sambutan Mukhlisin sebagai ketua panitia KPM dan  dilanjutkan Presiden DEMA, Afit Khomsani. Dalam sambutanya, Afit berpesan bahwa dalam Pemilwa mahasiswa harus menjunjung tinggi asa-asas demokrasi. “Pemilwa hari ini harus menjunjung tinggi asas-asas demokrasi”, papar lelaki tinggi tersebut.

Setelah acara dibuka oleh Wakil Rektor III, Suparman Syukur, calon nomor urut 1 yang diusung Partai Mahasiswa Berkemajuan (PMB) mencalonkan Muhammad Ilyas yang berpasangan dengan Hanif Mustofa. Dengan visi “Mewujudkan DEMA UIN Walisongo sebagai lembaga yang sinergis, positif dan partispatif demi terangkatnya marwah UIN Walisongo baik ditingkat Nasional maupun Internasional” pasangan tersebut dengan lantang.

Disusul calon nomor urut 2, pasangan Fahmi-Ajid yang diusung Partai Mahasiswa Demokrat (PMD) berkoalisi dengan Partai Pembarun Mahasiswa (PPM), melantangkan suaranya dalam menyampaikan visi dan misinya. Dengan visi “Terwujudnya DEMA UIN Walisongo yang berkarakter, berintegritas terhadap almamater dan berkontribusi untuk Indonesia” pasangan tersebut merasa percaya diri dengan apa yang disampaikannya.

Berlangsungnya acara debat, dipenuhi sorak sorai dari para peserta pendukung antara dua calon. Yel-yel untuk calon urut nomor 2 “Fahmi-Ajid nomor dua” yang kemudian dibalas para pendukung nomor urut 1 “Nomer satu Maknyuss” memenuhi aula kampus tersebut. Saaat, mengakhiri acara tersebut masing-masing calon menyampaikan closing statementnya dan disusul tepuk tangan dari seluruh peserta yang ada. (Edu_On/Ris)