November 2017


Doc. Internet


Muhammad Istiqomah Djamad alias Is vokalis payung teduh itu, sebentar lagi akan hengkang. Dalam kanal Youtube: Beritagar ID, Is mengungkapkan merasa tereksploitasi oleh panggung bersama Payung Teduh. Ada apa dengan Is, apakah ia tidak ingin benar-benar tenar dan mengeruk kekayaan yang melimpah dari cara bermusiknya?

Ada anomali dari sikap Is dalam jagat hiburan. Ketika semua artis berlomba-lomba mencari panggung bahkan sampai-sampai membuat sensasi. Seperti gambaran kasar yang dituturkan Joost Smiers dan Marieke van Schijdel “kalau tidak manggung tidak eksis”. Namun Is memilih untuk tetap kungkum bersama masyarakat seperti dulu awal karir bersama Payung Teduh. Meskipun baru diungkapkan sebagai kerinduannya.

Idiealisme Band Indie

Setidaknya itulah yang digagas Payung Teduh sebagai band indie. Ini artinya, Band indie sama dengan independent. Mereka menghidupi cara bermusiknya dengan biaya sendiri dan mencari mangsa pasarnya sendiri. Selain itu, mereka juga berdiri sendiri dalam sebuah idiologi bermusik dengan melawan arus utama musik.

Dalam buku Revolusi Indie Label, sejarah band indie tidak lepas dari sebuah “pemberontakan” bermusik. Sebagai pengertian idenpendent berangkat dari evolusi musik di Inggris, yang semula Punk beralih dalam Post-Punk (1977-1986). Era itu pulalah, merupakan era pancaroba permusikan di Inggris. Era Punk dengan musik suara keras terlawan dengan istilah anti-rock atau musik yang stylish.  Alasannya wajar, karena perubahan mood pendengar saat itu. Dimana musik punk terasa begitu klise. Hingga “pemberontakan” itu terjadi. Pola dari sikap inilah juga melahirkan model musik sebagai counter-culture terhadap arus utama.

Pada sisi lain, kelahiran sebuah musik indie juga memberi wacana politik dalam permusikan pada saat itu. Yakni memberi kesan feminim akan musik underground yang mempunyai keharusan Keras, Macho, Cerdas dan Gahar. Gaya ini memungkinkan bahwa musik pemberontak tidak harus rock and roll. Namun juga tida berdagang lirik asamara melulu, tapi tetap di imbangi dengan kepedulian sosial dalam bermusik. Seperti Belle and Sebastian dalam “marx and Engels” misalnya, meskipun mempunyai corak asmara tapi masih ada balutan kepekaan sosial dan politik.

Begitulah dengan Is sang vokalis Payung Teduh. Ia ingin mengembalikan kesan “memberontak” terhadap arus utama permusikan Indonesia yang terkesan “mehek” dalam bermusik. Meskipun diakui atau tidak, viralnya Payung Teduh saat ini akibat lagu Akad. Tapi itu bukan berarti kita menghukumi payung teduh sebagai band yang mempunyai lirik “mehek”.

Apakah kita pernah menyimak Cerita Tentang Gunung dan Laut? Dalam liriknya terkesan mengkampanyekan soal pemanasan global. Contohnya dalam penggalan lirik puitis:

 /aku pernah berjalan diatas bukit/ tak ada air/ tak ada rumput/ tanah terlalu kering untuk di tapaki/ panas selalu menghantam kaki dan kepalaku//

Seolah menggambarkan sikap yang luar biasa oleh Payung Teduh. Atau lagu-lagu memotivasi dari Banda Neira dan kawan-kawan indienya, merupakan gambaran “pemberontakan” dalam bermusik.

Melawan Pasar dan Zaman

Bagaimanapun idealisme akan tetap mempunyai tantangan. Jadi teringat ungkapan aktifis di kampus saya, logika tanpa logistik: anarkis. Begitulah dalam logistik bermusik, yang di peroleh melalui panggung, dan apa yang dihadapi Payung Teduh hari ini adalah sebuah pasar yang besar. Pasar yang tidak bisa dikontrol begitu saja. Dunia maya telah membuat namanya membumbung. Sadar tidak sadar Payung Teduh mendapat promosi dari beberapa cover lagu Akadnya.

Imbas dari kecepatan gerak informasi hari ini juga membuat Payung Teduh sering tampil. Pada titik tertentu inilah yang membuat Is goyah dan mengeluarkan statement bahwa harusnya banyakin karya bukan manggungnya. Saya tiba-tiba melonjak dan hendak berteriak “sepakat”. Seolah ada pukulan kepada diri saya “banyakin nulisnya, bukan cetaknya”.

Is mungkin hanya takut silap terhadap apa yang di perolehnya hari ini. Is hanya takut bahwa yang membawanya ke atas adalah sebuah karya bukan hanya masalah manggung yang banyak. Ketakutan lain Is bagaimana menjaga sebuah idealisme bermusik tetap utuh dan semakin kreatif, juga tidak lupa menyajikan kepekaan terhadap sekitar, setelah hasil manggung begitu nikmat nantinya.

Memang tidak mudah mempertahankan idealisme tanpa logistik, tapi sulit bukan berarti mustahil. Kalaupun hanya memburu sebuah pasar, pada zaman secepat ini akan memberi keuntungan sendiri bagi kita. Seharusnya prinsip pasar yang memburu kitalah yang kita terapkan, tentu dengan cara membuat karya yang berkesan bagi para penikmatnya. Karena sebuah ekpresi seni yang kuat yang kita lihat, dengar, dan baca akan meninggalkan jejak kuat pula dalam pikiran kita. kata Josst Smiers dan Marieke van Scijjndel dalam bukunya Dunia Tanpa Hak Cipta

Dan permisi, saya akan mendengarkan lagu Payung Teduh lagi sebelum mereka bubar karena banyak manggungnya.

Oleh: Aziz Afifi


Tumpukan sampah kardus di samping Auditorium 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang

“Sampah lebih buruk dari tinja.” – Eri Santosa
 
Semarang, EdukasiOnline-- Kamis siang (16/11) seorang perempuan bernama Anjar (18) duduk bersila di depan kelas D8, ia terlihat sedang kebingungan mengerjakan tugas listening dari dosennya. Beruntung mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) semester I Ini bersedia menjawab pertanyaan–pertanyaan yang diutarakan oleh tim redaksi LPM Edukasi terkait dengan sampah yang ada di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang. “Kotor,” jawabnya singkat. “Sampah daun kering memenuhi Taman,” imbuhnya lagi.

Selain sampah daun kering, ada faktor lain yang mengakibatkan lingkungan FITK terlihat kotor. Kesadaran mahasiswa terhadap kebersihan adalah salah satunya. “Anak – anak yang duduk di taman membuang sampah tidak pada tempatnya. Padahal, ada banyak tempat sampah di area taman, ujar Anjar lagi.

Tanggapan Petugas Kebersihan

Di ruang sempit bawah tangga gedung N, diantara kepulan asap rokok dan suara bising gerinda, tim redaksi berhasil mewawancarai petugas kebersihan, Rabu (15/11). Di sore yang sedikit mendung kami menghampiri bapak-bapak paruh baya Ruli, nama salah satu petugas kebersihan kampus.

“Menurut bapak, bagaimana kesadaran mahasiswa FITK terkait kebersihan?,

“Kesadaran minim, bahkan tidak ada. Makan di kelas, padahal itu tidak boleh. Dan yang jualan–jualan itu sampahnya menganggu,” ujar bapak berumur 40 tahun ini.

Meski sudah difasilitasi tempat sampah di sudut-sudut kampus, namun rupanya masih banyak mahasiswa FITK meninggalkan sampah yang diprodukasinya di tempat. Ada yang di kelas, di taman, atau di tempat duduk area kampus.

“Tempat sampah sudah ada, yang menjadi masalah adalah kesadaran mahasiswa saja,” keluh Ruli sambil mengeluarkan kepulan-kepulan asap rokok dari mulutnya.

Bagi Ruli, dengan tumbuhnya rasa kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan kampus akan sangat membantu pekerjaannya sebagai petugas kebersihan. “Saya terus berharap, mahasiswa ikut menjaga kebersihan kampus, itu saja,”.

Peran Bank Sampah Walisongo (BSW)

Bank Sampah Walisongo atau biasa disingkat BSW merupakan sebuah organisasi yang mewadahi pengelolaan sampah secara terintegrasi. Selain pengelolaan terhadap sampah, BSW juga berperan dalam memberikan ide, penawaran, serta solusi terhadap permasalahan sampah di wilayah kampus.

Eri Santosa, selaku ketua BSW menyatakan bahwa sosialisasi terkait dengan sampah maupun pengelolaannya sudah dilakukan bersama dengan teman-temannya di momen-momen tertentu. Kemudian melalui media sosial serta kerjasama dengan pihak lain seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Koperasi Mahasiswa (KOPMA). Kalau semisal KOPMA ada acara kita sosialisasi disana, sosialisasi kita sesuaikan dengan agenda-agenda yang ada, jelasnya.

Namun, hal tersebut rupanya belum memberikan pengaruh besar terhadap kesadaran mahasiswa dalam membuang sampah pada tempatnya. Apalagi dalam pengelolaan sampah yang ada.

Hari sudah semakin sore, sebelum sesi wawancara berakhir, mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi (PB) semester IX ini kembali mengeluhkan bahwa tidak hanya di kampus, bahkan masyarakat secara umum juga masih buta dalam pengelolaan sampah secara baik. “Banyak diadakan program pembenahan Mandi Cuci Kakus (MCK) di desa–desa, namun belum ada program bagaimana mengelola sampah dengan baik. Padahal sampah lebih buruk dari tinja,pungkas Eri. (Edu_On/ Agung, Anam)

Doc. Internet

Sisa-sisa tumpahan air langit masih terasa. Semerbak tanah bermandikan hujan masih begitu mudah terserap indra penciuman, kegelapan cakrawala perlahan terganti oleh terang dari sang mentari yang malu-malu menampakkan diri. Halte yang awalnya penuh sesak dari orang berteduh mulai kembali sepi.

“Gila!  Dingin banget Bro.” Ujaran itu terdengar bergetar.

 “Yaelah, baru juga lo kehujanan beberapa jam yang lalu, udah ngerekek aja lo!” Dengan santai, ‘Bro’ menyahut, Suaranya terdengar berat dan lelah karena termakan usia. 

“Emang lo udah berapa lama nongkrong di sini Ki?

Em, mungkin dua bulanan Sep.” Dengan malas, Kiki menjawab. Matanya berjalan-jalan menyoroti sekelilingnya. Di seberang sana ada halte yang tadi begitu ramai. Sedangkan di samping kanan dan kirinya hanya ada tumpukkan tak terurus dan begitu bau.

“Ki....”

“Hmm....”

“Tubuh lo kenapa cacat gitu?” Sesep menatap Kiki seraya melontarkan tanya.

Weiy! santai Bro, gue Cuma tanya doang, jangan natap gue kek gitu.” Tubuh Sesep yang masih basah kuyup, tiba-tiba merasa terbakar oleh mata panas Kiki.

Gue kecelakaan, tiga bulan lalu. Keponakan majikan nabrak gue.” Matanya menerawang, membayangkan kilasan waktu yang telah terlewat.

“Parah! terus lo kagak dibawa buat berobat gitu?”

“Ya dibawa lah, yang nabrak gue langsung tanggung jawab saat itu juga, ngebawa gue ke dokter terbaik. Sekitar seminggu di sana, tubuh gue dibedah sana-sini. Sampai akhirnya dokter nyerah, dan kaya gini gue sekarang.” Sesep manggut-manggut, mencoba mencerna ucapan yang keluar dari teman dadakkannya beberapa jam yang lalu.

“Lah terus kenapa lo bisa sampai sini?” Kiki menatap dalam Sesep, menyelami mata yang menurutnya masih polos. Sesekali matanya mengamati tubuh Sesep, membuat yang punya tubuh merasa risih ditatap demikian. Sesep takut pertanyaannya salah lagi, dan membuat Kiki tersinggung.

“Ehem, ya lo liat dong Ki, tubuh gue udah renta gini, cacat pula, siapa lagi yang mau mempekerjakan gue? sedih sih waktu pertama kali nerima keaadan kaya gini, tapi mau gimana lagi? Mungkin ini udah takdir gue.”

Gue turut sedih Bro, maaf mengungkit masa lalu lo.”

Sejenak suasana hening, hanya ada suara kendaraan berlalu lalang, dan juga lalat yang beterbangan.

Ish! udah sih, nggak usah melow gitu, santai aja... kalo lo sendiri, kenapa bisa sampai sini, lo kelihatan masih muda, dan tubuh lo oke, nggak kaya gue?”

“Majikan gue orang berada, dia ngangkut gue dari tempat oke dan berkelas. Gue nggak tau kenapa dia ngebuang gue, padahal sesuai kata lo, tubuh dan usia gue masih oke buat dipekerjakan.”

“Menurut gue, majikan lo bosen kali.” Kiki menerka-nerka alasan majikan membuang Sesep.

“Mungkin iya kali, soalnya tadi pagi sebelum gue dibuang ke sini, gue lihat ada yang nganter pengganti gue. Tapi kalo gue boleh jujur ya, gue sedih gitu.... kenapa gue dibuang gitu aja, padahal gue itu mahal loh.”

Kiki bingung, melihat Sesep yang seolah begitu terluka, dia memberikan waktu sejenak untuk Sesep bernostalgia dengan majikannya. Kiki merasa lebih beruntung, karena ia dibuang disaat yang tepat, saat usianya sudah setua ini dan tak mempu bekerja lagi. Sementara Sesep? Sungguh malang nasibnya, tentu saja itu pasti menyakitkan. Kiki tahu rasanya, di buang itu menyakitkan.

“Sudah ah, yang lalu biarin aja berlalu. Gue yakin ada hikmahnya nanti.”

“Iya Ki, ngomong-ngomong gue sudah nggak dingin lagi nih, nggak terlalu basah kan gue?”

“Yoi”

Mereka mengalihkan topik pembicaraan seraya menikmati bau menyengat dan juga padatnya lalu lintas kota. Sesekali mereka tertawa, karena gurauan yang mereka anggap lucu.

“Ibu! Adek nemu sepatu!” lengkingan keras dari bocah kecil dihadapan mereka, membuat percakapan mereka seketika terhenti.

“Wah, masih bagus banget Ibu! Adek nggak usah beli sepatu lagi, uangnya buat obat kakak yang lagi sakit aja Bu” Tangan lusuh gadis itu memegang tubuh Sesep, bola matanya bersinar seolah mendapatkan berton-ton emas.

“Ih! Ibu dengar nggak sih?” mata gadis itu terarah pada seorang wanita paruh baya, yang nampak mengais-ngais tumpukkan sampah. Dia menuntut sahutan dari ibunya.

“Apa nak? Ibu sedang mengumpulkan botol-botol bekas ini.” Nampaknya karena terlalu asyik dengan pekerjaannya, si ibu malas untuk menoleh barang sejenak.

“Hadap sini dulu Ibu.”

Tak tega mendengarkan rengekkan meminta perhatian dari anaknya, si ibu membalikkan badan, tersenyum lembut ke arah puterinya.
 
“Apa?”

“Ini?” Tubuh Sesep diangkat tinggi-tinggi oleh gadis kecil itu. Kiki yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan memberi isyarat pada Sesep bahwa Sesep telah menemukkan majikan baru.

“Alhamdulillah, dapat sepatu baru, bagus lagi, siapa yang buang ya nak?” karena tertarik dengan penemuan anaknya, Ibu itu langsung menghampiri anaknya dan melontarkan tanya.

“Nggak tahu, yang penting ini kan sudah dibuang bu, nggak ada pemiliknya lagi, berarti Adek boleh bawa pulang ya Bu? Buat sekolah, ya... ya... ya?” Melihat binar kebahagiaan dari anaknya, ibu itu tersenyum dan mengangguk membuat sang anak bersorak gembira.

Kiki turut tersenyum memandang kebahagiaan anak itu, dia mengangguk ke arah Sesep yang nampaknya juga bahagia karena memiliki majikan baru. Dalam senyum Kiki dia menyimpan banyak tanya. Kenapa banyak manusia yang cepat bosan? banyak yang konsumtif? dan banyak yang tidak mensyukuri atas rezeki yang Tuhan berikan? Bukankah ada juga dari mereka yang masih membutuhkan bantuan? kenapa harus berfoya-foya? Ah! sudahlah memikirkan itu membuat Kiki makin pusing. Lebih baik dia memberikan salam perpisahan pada Sesep.

Sesep memang pantas dimiliki kembali karena dia masih benar-benar layak pakai. Sementara dirinya? Hanya seonggok kipas tua yang sudah cacat dan tak bisa digunakkan lagi. Jadi? Biarlah dia menikmati masa tuanya di tempat kumuh ini.

Karya: Neng S 


(Desain/ Fahmi)


Tulisan ini dibuat untuk menyambut haul Mbah KH. A, Syahid Kemadu, pada tanggal 18 Rajab. Tulisan ini dilatarbelakangi, adanya kondisi bangsa Indonesia, yang telah menghadapi berbagai ujian, yang salah satunya adalah menghadapi sikap intoleran dan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Adanya gerakan intoleran dan radikalis ini, seperti memperjuangkan prinsip kebenaran. Pada awal kemunculan gerakan ini, terbaca sebagai salah satu gerakan agama yang "lurus", namun karena ada dukungan dari bebagai pihak, akhirnya kelompok intoleran dan radikal, telah berani menunjukkan sikap mengaku paling benar.

Jika diamati dalam kontek kesejarahan, gerakan intoleran dan radikal sering memanfaatkan konflik keberagamaan dan kekuasaan. Gerakan ini tidak murni kehendak pribadi atau ketidaktahuan pelakunya terhadap keutamaan hidup. Misalnya, keutamaan ajaran wahyu yang suci yang mengajarkan kasih sayang dan keutamaan keragaman.

Kaum intoleran dan radikal, telah banyak menciptakan konflik keberagamaan untuk membangun kepentingan, kecemburuan, dan persaingan memperebutkan pengaruh terdepan mengawal agama masyarakat. Demikian juga, dalam konteks kekuasaan, kaum intoleran lebih banyak terfokus pada bagaimana upaya memperebutkan kursi panas yang harus mempertaruhkan darah dan kemanusiaan. Kawasan rawan konflik ini akan menghalalkan transaksi jual beli agama yang dibungkus dengan dalil dalil kewahyuan dan akan melakukan transaksi jual beli pengaruh hasil jarahan dari konflik keberagamaan dan kekuasaan.

Sehubungan dengan kemunculan fenomena intoleransi dan radikalisme, maka seperti telah membuang prinsip kewahyuan dan kebenaran di tempat sampah konflik yang diciptakan kaum intoleran dan radikal. Fenomena ini telah mencekam nilai nilai universalitas kebenaran di tengah arus utama kekuasaan dan kepentingan yang menyusup pada imajinasi kehendak kuasa seseorang di tengah keberagamaan. Tidak sedikit kejadian aneh dihadapan mata kita, yaitu yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan.

Karenanya, pada tema kajian ini, penulis menganggap perlu menghadirkan kembali karamah Mbah KH. A. Syahid Kemadu untuk menyinari suasana gelap model keberagamaan yang diselimuti gelap malam gulita intoleransi dan radikalisme atas nama agama.

Penulis mengenal Mbah Syahid kali pertama dikenalkan ayahanda, KH. A. Tamamuddin Munji sejak usia belasan tahun. Tidak lama kemudian, setelah mengalami berpindah pindah, keluar masuk sekolah MTs sampai lima kali, penulis seperti nomaden dalam menuntut ilmu, akhirnya penulis dimasukkan oleh ayahanda di Pesantren Mbah Syahid, dengan harapan dapat memetik hikmah bersama beliau dan tidak lagi menjadi nomaden dalam menuntut ilmu.

Dalam kesempatan setiap pertemu Mbah Syahid, penulis selalu mendengarkan kalam tahmid beliau dan sering nderek beliau menghadiri undangan ta'ziyah. Bermula dari pendampingan Mbah Syahid, penulis melanjutkan di pesantren Futuhiyyah Mranggen hingga kuliah di UIN Walisongo Semarang. Di Futuhiyyah, penulis menuntut Ilmu kepada Mbah KH. MSL. Hakim Muslih dan Mbah KH. Muthahhar Abdurrahman.

Kehadiran Mbah KH. Syahid Kemadu dan Mbah KH. MSL. hakim Muslih membuat penulis lebih fokus pada pembelajaran di lingkungan pesantren NU. Hal ini menjadi titik awal untuk menekuni khazanah klasik tradisi pesantren dan budaya serta  keragaman masyarakat nusantara. Bagaimana petikan kisah Mbah KH. Syahid menempuh perjalanan mengikuti jejak kenabian? Jawaban ini akan dapat dijadikan modeling keberagamaan bagi santri dan masyarakat.

Kehadiran Mbah KH. A. Syahid

Pada zamannya, Mbah KH. A. Syahid tercatat sebagai sufi besar dalam sejarah gerakan sufistik. Kesufian beliau berhasil mempengaruhi model keberagamaan para santri dan masyarakat pada zamannya. Berbagai kalangan dan profesi, telah merasakan kehadiran beliau, adalah kehadiran yang membentuk kesadaran kehambaan di hadapan Allah dan kesadaran keummatan pada jejak kenabian, Nabi Muhammad.

Mbah KH. A. Syahid memiliki jalur kenasaban dengan Mbah Syambu, seorang yang dikenal wali besar pantura yang dimakamkan di samping Masjid Jami Lasem. Mbah Syahid muda seperti layaknya santri yang lain, menuntut ilmu dari para Kiai di tengah lingkungan pesantren NU di Rembang. Beliau sangat mendalam dan memberikan pemahaman kepada para santri tentang ilmu kalam, ilmu fiqh dan ilmu tasawuf.

Kekhasan beliau selama memberikan pembelajaran, lebih menekankan kepada para santri untuk mendalami kitab kuning yang dasar. Alasannya, untuk menguasai kitab besar, harus menguasai dan memahami hingga mendasar yang bersumber dari kitab yang dasar. Kitab dasar ini, yang telah meringkas pembahasan: pertama, kajian khazanah klasik atau kajian abad pertengahan. Kedua, kajian karya dari para Ulama Nusantara.

Dalam suasana pembacaan kitab Minhajul Abidin, penulis yang saat itu duduk di depan, Mbah KH. A. Syahid bertanya kepada para santri yang sedang memaknai atau mengabsahi kitab Minhajul Abidin: bagaimana pemahaman kalian terhadap makna zuhud? mendengarkan pertanyaan ini, para santri belum ada yang menjawab, beliau melanjutkan penjelasannya, bahwa zuhud itu bersihnya hati diri dari selain Allah, termasuk bersihnya hati dari semua bentuk sikap dan perbuatan yang mengandung dosa. Beliau menambahkan, model zuhud yang seperti ini sulit dipahami dan dilakukan seseorang. Karenanya, beliau memberikan langkah praktis mempraktekkan makna zuhud, yaitu menjadikan pandangan dan sikap kita supaya tidak terikat pada harta, tahta, wanita, dan pemenuhan kebutuhan biologis yang tidak sesuai dengan prinsip kewahyuan.

Maqam zuhud harus dimulai dari proses perbersihan hati (tazkiyah an nafsi), seperti mengkosongkan hati dari sikap dan perbuatan tercela, lalu menghiasi hati dengan sifat sifat yang terpuji (mahmudah) dan masuk pada kesadaran relasi suci yang terintegrasi antara Allah dan Nabi Muhammad. Sikap dan perbuatan zuhud ini, harus dikuatkan pula dengan jalan selalu mengharapkan RidlauNya, merasakan cemas dan kekhawatiran berada pada jarak yang kian menjauh dari Allah.

Bersamaan dengan kedua prinsip ini, perlu dikuatkan dengan sikap selalu menjaga cinta kepada Allah. Sikap Mencintai Allah, bermakna tidak menduakan Allah dengan yang lain. Hati hanya tertuju kepada Allah. Menjaga hati, agar tidak tercerabut dari hakikat cinta kepada Allah. Hal yang mencerabut cinta hakiki, seperti cinta kepada makhluk, karena cinta kepada makhluk tidak dapat dipersatukan dengan cinta kepada Allah.

Zuhud perspektif Mbah Syahid ini, dalam pandangan penulis sangat menarik. Karenanya, di beberapa kesempatan penulis selalu mengutip perspektif beliau. Zuhud perspektif Mbah KH. A. Syahid: pertama, menyimpan pengalaman yang menandai cakupan makna zuhud yang terefleksikan dari perjalanan sufistik beliau (suluk). Kedua, tentang cinta kepada Allah harus fokus ke Allah tanpa tergantung pada hal hal yang lain yang akan menjadi pembatas (hijab) manusia dan Allah.

Jadi, model pembelajaran Mbah KH. A. Syahid benar benar bersifat terbuka dan menunjukkan sikap serta perilaku Sang Salik yang ramah dan santun dalam meretas pemahaman yang demokratis. Sikap ramah ini terbaca dari model pembelajaran Mbah KH, A. Syahid, yang dalam konteks tertentu bersikap serius dan konsisten bagaimana mempotensikan para Santri. Misalnya, ketika mengkaji teks klasik sering memulai dengan memancing pertanyaan kepada para santri.

Kesemua model pendampingan Mbah KH. A. Syahid ini, telah menandai perkembangan sejarah tasawuf seorang salik mengelola batinnya dan bathin para santri untuk menyuburkan aspek spiritual ajaran Islam. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Mbah KH. A. Syahid, adalah bagian dari ajaran tasawuf. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan para santri dan masyarakat dari bahaya nestapa manusia modern. Misalnya, kerusakan keseimbangan psikis dan keretakan eksistensial manusia. Fenomena yang lebih buruk dari keretakan eksistensi manusia pada aspek kecerdasan spiritual, emosional, intelektual, dan sikap.

Kisah Mbah KH. A. Syahid memberikan pembelajaran kepada zamannya dan zaman sesudahnya, bagaimana menghidupkan potensi empat unsur kecerdasan manusia: spiritual, emosional, intelektual, dan sikap. Perjuangan Mbah KH. A. Sahid, adalah
sisi lain dari perjuangan Ulama Nusantara untuk menerangi gelapnya dunia kemanusiaan pada zamannya hingga hari ini: bagaimana mewujudkan kerukunan dan keseimbangan hidup manusia secara lebih sempurna? Upaya Mbah KH. A. Syahid ini bukan hanya pada tataran permukaan tapi telah sampai ke akar-akarnya.

Jadi, kehadiran Mbah Syahid menunjukkan bukti, bahwa dalam perkembangan sejarah tasawuf mengalami perjumpaan dengan kehidupan nyata yang rasionalis, empiris, saling terkait dan dinamis. Hal yang dapat dirasakan dari ilmu tasawuf, adalah memberikan jawaban bagi permasalahan kemanusiaan secara umum, tidak sebatas hanya problem keumatan (Islam). Doktrin yang dikembangkan para sufi memiliki derajat universalitas yang memadai bagi upaya mengatasi problem kemanusiaan.

Sikap dan perilaku sufistik Mbah Syahid memiliki kekhasan di antara para sufi yang lainnya. Ciri umum yang penulis temukan, adalah sikap dan perilaku Mbak Syahid yang terlibat dalam gerakan pembebasan dan pencerahan kepada masyarakat: menjawab persoalan masyarakat dan menata tata kehidupan serta budaya masyarakat, sehingga menjadi masyarakat yang memiliki kasih sayang dan saling menghormati antar sesama manusia. Hal ini selalu didasarkan pada prinsip Mbah KH. A. Syahid yang selalu menegaskan kemuliaan anak cucu Adam.

Mbah KH. A. Syahid, selalu mengingatkan kepada para santri untuk terlibat membangun tatanan masyarakat yang berbudaya sesuai tuntutan risalah kenabian Nabi Muhammad dan jejak para Ulama. Penulis teringat pada saat beliau mengupas makna zuhud, beliau mengutip kisah Syekh Ibrahim Bin Adham yang akhirnya harus kembali ke tengah hiruk pikuk masyarakat mengajarkan keutamaan dan kebaikan kepada Masyarakat. Jadi, dari sini makna zuhud dapat dipahami, adalah bukan sikap dan perbuatan yang “menarik-diri” dari banjir kehidupan duniawi yang alienatif dan manipulatif.

Dengan kata lain, fenomena pembelajaran Mbah KH. A. Syahid dapat dipahami, bahwa mendekati Yang-Hakiki dapat dilakukan dengan cara menjaga relasi suci manusia dengan Allah dan menjaga relasi suci antar manusia dengan sesama makhluk Allah.  Jadi, manusia atau mereka yang telah menjadi salik, adalah mereka yang bukan mengedepankan sikap individualis dan sarat kepentingan pribadi. Sang Salik, adalah sosok yang tak mudah silau dengan gemerlap dan gebyar arus keduniawian yang dangkal dan dipenuhi fatamorgana.

Mewarisi Jejak Kenabian

Belajar dari petikan hikmah dari kisah perjalanan Mbah KH. A. Syahid menegaskan pemahaman kepada santri, pembaca, dan masyarakat yang sezaman dan sesudah zamannya, yaitu jalan sufi adalah jalan membangun kemerdekaan hidup di tengah bentangan kesemestaan, namun jalan kemerdekaan ini harus dibangun berdasar fundasi ketauhidan.

Fundasi ketauhidan bersumber dari dua bahan: syahadah tauhid dan syahadah Rasul. Syahadah Tauhid adalah syahadah yang menegaskan wujud muthlaq Allah yang meliputi semua makhluknya. Sedangkan, Syahadah Rasul adalah syahadah yang menegaskan wujud muthlaq sifat terpuji yang bersumber dari Allah, yang tercermin pada sifat terpuji Nabi Muhammad. Fundasi ketauhidan ini yang menjadi warisan yang tetap menjadi pegangan teguh Mbah KH. A. Syahid Kemadu.

Jadi, pengalaman sufistik Mbah KH. A. Syahid bersumber dari kebenaran wujud muthlaq Allah dan bersumber dari kebenaran wujud kebenaran hakiki yang tercermin dari tindakan dan perilaku Nabi Muhammad. Tindakan dan perilaku Nabi Muhammad ini mewarisi jejak kenabian sebelumnya. Karenanya, Nabi Muhammad sendiri menegaskan, bahwa para Ulama yang mewarisinya, adalah pewaris para Nabi sebelumnya. Ciri mereka yang mewarisi jejak kenabian, adalah mereka yang berpegang pada kedua syahadah dan menjalankan teks kewahyuan dan kerasulan. Selain itu, Ulama adalah mereka yang membenarkan ilmu Allah dan mewarisi pengalaman ruhaniyah para pewaris Nabi, yang bersumber dari ketentuan kebenaran yang bersumber dari Allah dan Wahyu.

Kehadiran Mbah KH. A. Syahid telah mampu meyakinkan kepada zamannya tentang keutamaan dan kebenaran jejak kenabian. Jejak kenabian, adalah jejak yang menjaga kearifan tradisi lokal dan menjaga prinsip kesucian hidup. Prinsip kesucian ini, sudah menjadi prinsip kesucian yang tidak boleh dinodai atau dikotori para khalifah Allah di bumi. Beberapa prinsip kesucian, berupa kebaikan, kemanfaatan, keutamaan, kemuliaan, kebenaran dan kasih sayang antar sesama makhluk Allah di muka bumi.

Jejak kenabian ini yang akan tercatat sebagai penanda kebaikan dan keutamaan, bertujuan untuk mengisi lembaran kisah perjalanan manusia. Jika manusia tidak sungguh sungguh berpegang pada janji suci bersama Allah di Lauhmahfudz, maka akan ada kemungkinan terjatuh pada kisah kisah yang menentang kenabian. Karenanya, sikap baik dan buruk manusia akan kembali kepada manusia: bagaimana manusia menandai kehidupan yang fana ini? Pertanyaan ini, adalah pertanyaan yang bukan mengada ada.

Hal ini seperti ditegaskan dalam pepatah, bahwa Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia wafat karena meninggalkan nama : seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatannya ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah tiada lagi.

Sebagai pertanyaan penutup, bisakah manusia membawa diri hingg kematiannya bersikap konsisten prinsip kewahyuan yang suci dan mulia? Sehubungan pertanyaan yang terakhir ini, Mbah KH. A. Syahid menegaskan kepada zamannya melalui para santri beliau, betapa berat menjaga istiqamah, karenanya agar para santri istiqamah mengamalkan aurat dan shalawat dan selalu memohon kepada Allah. Misalnya, memohon agar kita memperoleh kemenangan melawan nafs al amarah bissu' dan melawan pengaruh dari luar diri kita, baik yang berasal dari manusia dan anak cucu syaithan.

Mbah Syahid, kami kangen, rindu kami tidak terbatas ruang dan waktu semua unsur kesemestaan. kami berdoa kelak bisa bersama Mbah, guru kami, untuk memunajatkan cinta kepada Allah dan kekasih-Nya, bernama Nabi Muhammad: Al Fatikhah.

Oleh: Ubaidillah Achmad, Dosen UIN Walisongo Semarang Dan Pengasuh PP. Bait As Syuffah An Nahdliyyah Sidorejo Pamotan Rembang.