Oktober 2017
Photo: Edu/Aziz

Semarang, EdukasiOnline-- Satpam Kampus II, UIN Walisongo Semarang, Minggu dan Sabtu kemarin (15-16/10) tidak memeberikan kartu parkir kepada para pengendara motor yang masuk  kampus. Kartu yang harusnya diberikan sebagai wujud pengaman dan antisipasi atas pencurian kendaraan, ternyata urung di berikan oleh Satpam. Bahkan, saat jam kerjapun Satpam sering kali tidak memberikan kartu parkir dengan dalih "kartu habis ".

Salah satu mahasiswa Kampus II, Muhamad Syafi'i sangat menyayangkan hal ini, ia merasa penanganan kartu parkir mulai menurun setelah minggu pertama pemberlakuan kartu parkir. "Di minggu awal sudah berjalan lumayan lah, tapi setelah itu mulai kendor tak ketat lagi.  Dan biasanya hari sabtu minggu ndak ada kartu parkirnya, keluar masuk di biarkan saja" ungkapnya.

Terkait kejelasan alasan mengapa Satpam tidak memeberikan kartu parkir, kedua Satpam Kampus II yang sedang "berjaga" menolak memberikan keteranagan kepada kru LPM Edukasi saat hendak di wawancara. "Ndak usah wawancara mas, sudah sering yang wawancara " ungkap salah satu Satpam tersebut. (Edu_on/Yat)

Foto: Edu_On/ Ziz



“....Dia tidak puas. Dia terus mencoba. Sampai halaman itu penuh dengan gambar-gambar wajah. Dia agak kesal. Dia berjanji setelah membunuh pembunuh Bapak kelak, dia akan melukis. Dia akan gambar banyak-banyak pembunuh Bapak....” 


 
Ini adalah kutipan dari cerpen berjudul Menggambar Pembunuh Bapak, cerpen tersebut seolah menghadirkan perlakuan sadis dari seorang penulis terkait dengan apa yang ada di benaknya. Karena arti pengarang menurut Rene dan Austin dalam Teori Kesussastraan adalah, mereka yang menuliskan kegelisahannya, mengganggap kekurangan, dan kesengsaraan menjadi tema besar dalam karyanya. Dengan begitu, seorang penulis akan lebih intim berbicara pada kita (red: pembaca) melalui tulisannya.


Dari pendapat ini, kita bisa melihat bahwa fungsi sastra seolah tak ada habisnya menjadi medium tersendiri dalam menorehkan gagasan. Menjadi medium yang tidak ingin melupakan peristiwa kecil begitu saja. Beginilah Perempuan Pala karya Azhari menunjukkan pada kita, bagaimana sastra tetap berdiri pada seni bertutur dan menonjolkan diri sebagai medium perekam peristiwa.


Buku yang di klaim sebagai serumpun kisah lain dari negeri bau dan bunyi ini memuat sebanyak 18 kisah. Asumsi saya, mungkin saja klaim negeri “bau” adalah Nusantara. Ruang kemungkian itu merujuk pada sanjungan Giles Milton saat membuka paragraf bukunya yang berjudul Pulau Run Magnet Rempah-Rempah Nusantara Yang Di Tukar Dengan Mahattan. “Pulau itu benar-benar tercium. Sebelum ia terlihat. Ada aroma segar dalam udaranya dalam jarak sepuluh mil sebelum sampai pada pulau itu. Ucapnya. Kebetulan atau tidak, kedua buku ini mempunyai sisi yang sama, yakni membahas perihal Pala.


Namun, ruang kemungkinan itu bisa jua terbentuk dari narasi penulis dalam meletakkan “bau” sebagai bagian dari cerita ini. Seperti dalam cerita Hikayat Asam Pedas, hampir semua cerita menyajikan suguhan sebuah kata “bau”. Ini disebabkan karena konsep cerita sendiri bertutur menggunakan medium makanan. Sedangkan dalam cerita lain, dalam Kupu-Kupu Bermata Ibu terdapat kutipan “....baunya yang macam-macam itu mengingatkanku dengan dapur kita...”. 

 
Lepas dari klaim tersebut, buku ini mempunyai visi lain yang ingin disampaikan yaitu perlawanan terhadap kekuasaan senjata. Meskipun, cerita semacam ini telah banyak di teriakkan oleh beberapa penulis. Contoh saja Afrizal Malna dalam puisinya, Mitos-Mitos Kecemasan. Ia berteriak dengan lantang tentang sebuah kisah dengan ancaman senjata “kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat-saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis di situ....”.


Maka kisah ini semakin menggenapkan pekikan-pekikan dalam perlawanan terhadap senjata. Cerita dari tahun 2001-2015 dengan beberapa perbaikan ini menonjolkan berbagai bentuk bercerita yang sederhana, namun tetap memukau dengan menggunakan mata kata yang dimiliki pengarang. Seperti cerita-cerita Air Raya, Perempuan Pala, Yang Dibalut Lumut dan lain sebagainya yang tak henti memainkan peran dalam masing-masing halamannya, guna menegaskan kepada pembaca: Begitulah yang terjadi pada kami.


Ada Yang Tersembunyi

Peran itu akan jelas ketika kita membaca penjelasan sekilas dalam buku ini. Dalam pengantarnya, buku dengan tebal 134 halaman tersebut seolah ingin menerangkang realita yang ada di Aceh, dalam menghadapi sebuah penolakan terhadap pemerintah Indonesia. Kemudian, pada prespektif lain kita menyebutnya dengan “konflik” Gerakan Aceh Merdeka (GAM).


Fakta itulah yang disembunyikan dalam kisah-kisah yang ada. Dalam Kupu-Kupu Bermata Ibu misalnya. Kisah yang bercerita tentang kehilangan atas semua lelaki dirumahnya dan traumatiknya seorang ibu atas kehilangannya.


Dan disanalah sang ibu memulai kisah menunggunya. “Aku menunggumu entah menunggu bapakmu” begitulah narasi itu di buka. Dengan kedatangan kupu-kupu di gorden membawa tokoh ibu menerbangkan banyak cerita. Mulai dari tentang kehilangan semua lelaki, hingga traumatik yang begitu melekat pada tokoh sang ibu.


“Cuma aku sangat marah mengingat kematian abangmu mati dengan cara begitu. Dengan cara yang tak pernah ku bayangkan. Tapi kini aku dapat membayangkan matinya abangmu dapat saja menimpa siapa pun. Juga kau. Juga bapakmu.” 

  
Rasa tragis juga dihadirkan dengan cara bertutur yang baik oleh Azhari. Dan rasa kehilangan itu pada akhirnya kita mengetahui sebabnya pada paragraf selanjutnya. Yakni “kautau, buahnya yang hendak kupipihkan itu: buah sebutan orang kampung kita kini untuk mengganti nama peluru”.


Kisah lain juga menampilkan hal yang serupa: Sebuah kesengsaraan perang dan penculikan. Cerita Yang Dibalut Lumut berkisah tentang mayat yang dibunuh dan diapungkan ke sungai tanpa ada alasan yang jelas. Dengan membuka narasinya  “ada yang mengapung bagai keranjang Musa” dan hampir mendekati pamungkas cerita. Narasi tiba-tiba semakin di perkuat di akhir cerita “hari-hari selanjutnya kami melihat tubuh-tubuh yang dibalut lumut yang mengapung bagai keranjang Musa bertambah banyak”.


Kisah yang mengambil sudut pandang aku itu juga bercerita soal pencarian anak terhadap seorang ayah. Melalui mayat-mayat yang terapung di sungai. Dengan menunjukkan narasi:

“mari mencari bapakmu..kata kakek beberapa hari kemudian. Kakek mengajakku ke sungai tempat biasa....di sungai kita mencari bapak” 

Juga seperti pada cerita Kupu-kupu Bermata Ibu, pada akhirnya Azhari menempatkan sebab-musabab terbunuhnya mayat-mayat itu diakhir. Dengan narasi yang lebih tegas “Ranie sendiri yang mengeksekusinya ketika fajar sempurna”.


Agar Lebih Dekat

Dan seperti yang ditulis dalam pengantar kisah ini- James T. Siegel, Bahwa ia merengkuh semua yang sulit itu guna mengemakan efek dari konflik itu sendiri. Menghadirkan kisah dari negeri bau dan bunyi yang lebih sensitif dari pada catatan mata kita. Visi itulah yang hendak dilempar ke pembaca dengan prespektif yang sangat sempit. Dari permainan sudut pandang orang pertama hingga ketiga, namun masih sangat personal. Lantas kita akan “mengeluh” bahwa ini sangat dekat dari biasanya.


Berbeda bila kita membandingkan buku ini dengan karya Phutut EA. Kisah Seekor Bebek Yang Mati di Pinggir Kali-nya yang menawarkan prespektif  banyak. Permainan sikap bercerita dari orang golongan menengah sampai sikap golongan bawah, tentu membuat kelebihan sendiri. Atau posisi seorang pembaca sebagai pendengar yang baik, itu adalah teknik yang sangat sulit. Tetapi tidak bisa mendekatkan peristiwa yang dibawanya lebih menyentuh saya, seperti apa yang di lakukan Azhari.


Namun tetap saja kedua buku ini ingin melempar cerita yang sama dengan visi yang sama pula, tentu berbeda latar peristiwa. Semisal pada cerita Doa Yang Menakutkan hampir sama dengan Kupu-kupu bermata Ibu, yakni menunjukkan traumatik yang di akibatkan karena konflik. Saya merekam bahwa kisah-kisah semacam ini, tidak ingin menanggalkan peristiwa sekecil apapun dalam perlawanan terhadap sejarah kekuasaan dengan senjata.

  
Dalam buku Perempuan Pala semua hampir sempurna. Kecuali saya menerima bahwa saya harus kehilangan dua halaman cerita. Namun terlampau sempit jika kita hanya mengutuki kehilangan itu. Yang terpenting adalah usaha Azhari yang mengingatkan kepada saya perihal ketidakadilan dan otoritas yang menghamba pada kekuasaan senjata. Selamat membaca.

Judul: Perempuan Pala
Pengarang: Azhari
Tebal: 134 halaman
Penerbit: Mojok
 Resensator: Aziz Afifi
Pembukaan Harlah PAI ke-47 di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo Semarang. (12/10)

Semarang, EdukasiOnline--  Wakil Dekan (Wadek) bidang kemahasiswaan dan kerjasama Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Wahyudi memberikan sambutan dalam acara hari lahir (Harlah) jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ke-47 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PAI di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo Semarang, pada Kamis pagi, (12/10).

Dalam sambutanya yang mewakili dekan FITK, ia mengemukakan bahwa yang paling utama bagi seorang calon guru PAI haruslah memiliki sikap yang agamis, disamping juga sikap progresif dan inovatif.

"Sebagai calon guru PAI sikap religiusitas harus diutamakan" ucapnya di depan puluhan mahasiswa PAI.

Ia melanjutkan, sebagai calon guru PAI tidak diperbolehkan mengikuti suatu ajaran secara membabi buta tanpa di dasari ilmu atau lazim disebut taqlid. Tetapi, seorang calon guru PAI harus mampu beritiba' atau mengikuti dengan adanya dasar. Hal ini bukan tanpa alasan, karena menurutnya orang yang taqlid akan mudah terprovokasi.

"Nabi Muhammad adalah leader, kita pengikutnya, kita harus  ittiba' bukannya taklid, karena orang taklid akan mudah di provokokasi" jelasnya.


Fenomena Mahasiswa Bercadar

Dalam wawancara dengan Wahyudi, tim redaksi menanyakan perihal fenomena mahasiswi yang mengenakan cadar. Ia menyatakan bahwa keeksklusifan dalam beragama lambat laun akan hilang dengan sendirinya.

"Agama itu sesuai fitrah manusia, sesuai kemampuan manusia. Kalau beragama kemudian aneh-aneh, menurut pandangan saya itu tidak akan bertahan lama" jawabnya.

Mengenai cara bersikap terhadap mereka, Wahyudi juga mengungkapkan kepada tim redaksi bahwa hal tersebut merupakan hal yang biasa, kedepan akan berubah sesuai dengan fitrahnya.

"Biarkan saja, nanti pelan-pelan akan berubah sendiri. Karena agama yang tidak sesuai dengan fitrah pasti akan berubah" pungkasnya. (Edu_On/ Yat)
Doc. Internet

1. Iftahfia Nur Iftahani
2. Diah Novi Karisma
3. Chilyatul Masruroh
4. Asifatun Hidayah
5. Anis Fitria
6. Asas Danial M
7. Zamrud Naura Orchida
8. M. Khirzul Umam
9. Nafilatun Nafiah
10. Agung Sulistiyo Julianto
11. Anna Muhimah
12. Ela Maryam Saraswati
13. Atiqoh Salma Rusyda
14. Moh Khoirul Anam
15. Zulhanum Salsabiela
16. Mochammad Choirul Imam
17. Nurul Afrida Izzah
18. Riska Dwi Kurniawati
19. Nur Wahidatun Nafisah
20. Asmahan Aji Rahmania
21. Hanifa Nur Hasni Nabila
22. Ulfia Ummahatin
23. Burhanuddin Chusnul Chuluq
24. Ela Agustina
25. Fitria Rachim
26. Ambar Wati Emira Putri
27. Lulut Dwi Ratna
28. Achmad Agung Prayoga
29. Ilma Rufaidah Zahro ( Lulus Bersyarat )
30. Noor Wahyunita ( Lulus Bersyarat )
31. Muhammad Kainul Hadad ( Lulus Bersyarat )
32. Ahmad Nurul Ulil Muttaqin ( Lulus Bersyarat )
33. Mazidah ( Lulus Bersyarat )
34. Adelya Aisah ( Lulus Bersyarat )
35. Nazimatul Muizza ( Lulus Bersyarat )


Keterangan :
Bagi calon Crew Magang, baik yang lolos tanpa syarat maupun bersyarat, wajib mengikuti Diskusi pra-PJD setiap hari Senin dan Diskusi Pendidikan di hari Rabu.
Bagi calon Crew Magang yang lolos bersyarat wajib hadir di kantor LPM Edukasi pada hari Selasa 17 Oktober pukul  16.00 WIB.


Bagi calon Crew Magang yang belum selesai interview bisa menghubungi panitia untuk mengikuti interview susulan paling lambat hari Senin 16 Oktober 2017.
Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) wajib diikuti oleh semua calon Crew Magang LPM Edukasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 28-29 Oktober 2017.


Doc. Internet

//Kepada para mahasiswa yang sedang merindukan kejayaan/Kepada rakyat yang kebingungan dipersimpangan jalan/Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan/Sebuah catatan kebanggan dilembar sejarah manusia/Wahai kalian yang turun kejalan/Wahai kalian yang rindu kemenangan/Demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta//


Lirik lagu yang bisa dikatakan wajib dinyanyikan oleh mahasiswa ketika turun ke jalan. Sebuah lagu yang menjadi satu komando demi mewujudukan tujuan bersama. Namun, apakah sebenarnya lagu ini benar-benar merasuk kedalam sanubari pewaris peradaban yang turun ke jalan? Atau jangan-jangan lagu ini hanya menjadi satu suara bersama yang tidak mengandung apa-apa. Layaknya sekawanan bebek teriak bersama-sama tanpa tahu maksudnya. Yang hanya menyisakan suara sumbang tidak ada artinya sama sekali.


Karena turun aksi identik dengan aktivis mahasiswa. Dari sini kemudian timbul pertanyaan, Apakah yang perlu dibanggakan dari keaktivisan mahasiswa zaman sekarang? Atau apa sebenarnya makna aktivis itu? Dua pertanyaan ini menjadi landasan dasar dari tulisan ini. Penulis menganggap ada yang perlu di dekonstruksi pemikiran mahasiswa sekarang ini mengenai aktivis mahasiswa.


Membaca sejarah pergerakan (baca : aktivis) mahasiswa, tentu kita akan disajikan sebuah tindakan-tindakan heroik yang dilakukan oleh mahasiswa masa-masa dulu yang kemudian lambat laun menjadi mitos dan mendogmakan diri. Pasti permulaannya adalah kemerdekaan Indonesia, penurunan Soekarno, kemudian penurunan Soeharto. Tiga catatan besar inilah yang selalu menjadi kebanggaan yang diceritakan setiap penerimaan mahasiswa baru. Bahwa turun ke jalan kemudian bisa menumbangkan rezim yang berkuasa adalah sebuah catatan kebanggan pewaris peradaban. Apakah sampai sekarang ini, kita masih selalu mengagungkan cerita-cerita tersebut? Tanpa tahu makna dibalik peristiwa yang telah terjadi.

  
Sebelumnya, kembali lagi, kita harus bertanya siapakah atau apakah aktivis itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online disebutkan arti dari aktivis adalah orang-orang yang melakukan aktivitas. Dari sini, berarti siapapun yang melakukan aktivitas bisa dianggap sebagai aktivis. Entah itu aktivitas tidur atau aktivitas demonstrasi. Semua bisa dianggap sebagai aktivis. Dengan pemaknaan yang luas ini menjadikan semua mahasiswa adalah aktivis. Baik yang berorganisasi maupun yang tidak berorganisasi. Baik yang demonstrasi maupun yang tidak demonstrasi. Namun, tentu secara definitif harus ada pembedaan. Karena dengan adanya pembedaan akan lebih jelas, apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh seorang mahasiswa atau aktivis mahasiswa.


Penulis tidak tahu awal mula mengapa mahasiswa bisa menyandang sebagai agent of change, agent of intellectual,agent of iron stock, dan entahlah siapakah yang merumuskan ini.  Anggap saja itu adalah konsepsi yang sudah usang dan kita menyepakatinya. Meskipun konsepsi tersebut juga absurd. Melakukan perubahan yang bagaimana dan pertanyaan-pertanyaan lain yang belum terjawab.


Namun permasalahannya adalah bukan soal tersebut. Akan tetapi ada persoalan lain. Persoalan yang selalu didapati di dunia mahasiswa, dimanapun kampusnya. Masalah tersebut adalah masalah fanatisme golongan yang membuat satu golongan superior dan golongan lain inferior. Dengan superioritasnya menindas golongan inferior.  Atau ada golongan yang merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah yang paling benar dan yang lain adalah salah. Kemudian ada yang menganggap bahwa mahasiswa kuliah pulang kuliah pulang adalah contoh mahasiswa yang tidak memiliki kemampuan lain selain dibidang akademik dan dia termasuk mahasiswa-mahasiswa yang merugi. Sedangkan mahasiswa yang berorganisasi adalah termasuk golongan-golongan mahasiswa yang luar biasa. Akhirnya beranggapan bahwa ketika berada diorganisasi maka sudah bangga bahwa dia adalah aktivis mahasiswa. Masihkah relevan pengertian ini?

  
Aktivis mahasiswa adalah mahasiswa-mahasiswa yang berorganisasi. Menjadi presiden BEM, menjadi Ketua HMJ, menjadi pengurus diorganisasi-organisasi. Menjadi mahasiswa yang setiap harinya tidak berhenti beraktivitas. Pagi berangkat kekampus, sore ada diskusi atau rapat, malamnya ada rapat atau diskusi lagi. Membuat suatu acara besar yang menghadirkan tokoh terkenal. Peserta yang menghadiri acara tersebut membeludak. Kemudian supaya lebih sangar, ada intel-intel yang mondar-mandir mengawasi acara tersebut. Mengeluarkan sebuah karya yang membuatnya terkenal sampai go international dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.  Atau bahkan punya kontak orang-orang terkenal pemerintahan dan punya banyak jaringan. Kemudian responsif dengan keadaan sekitar, selalu ikut turun kejalan dimanapun kapanpun dan masalah apapun. Membaca dan mengoleksi banyak buku kemudian membincangkannya. Apakah ini yang dinamakan aktivis?


Penulis tidak tahu jawaban kebenaran. Namun, sepanjang dari perjalanan yang penulis rasakan. Penulis tidak sepakat dengan mahasiswa aktivis adalah seperti mahasiswa diatas. Semuanya sangat percuma jika berorganisasi hanya untuk melatih dan mengembangkan soft skill dan tetek bengek yang lain. Semua sangat percuma kalau menjadi BEM hanya untuk melatih kepemimpinan, semua sangat percuma ketika membaca dan mengoleksi buku hanya untuk kepentingan pribadi saja. Semua sangat percuma kalau menulis dan menerbitkan karya tidak tahu maksud dari mengapa menulis dan menerbitkan karya. Semua sangat percuma kalau pendidikan hanya sebagai investasi masa depan. Kalau mahasiswa hanya sebagai tenaga-tenaga yang akan mengisi perusahaan-perusahaan. Semuanya menjadi sangat percuma jika ternyata kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa hanya menjadi kegiatan yang sifatnya ritualistik. Kegiatan yang tidak diketahui alasan dasar mengapa kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan.


Bagi penulis, aktivis adalah seorang mahasiswa yang sadar bahwa dia dibelenggu dengan sesuatu. Kemewahan yang dimiliki seoarang pembelajar atau mahasiswa adalah sebuah kesadaran. Sepakat dengan apa yang dirumuskan oleh Paulo Freire bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk suatu kesadaran. Sangat percuma jika ternyata bertahun-tahun kita berada di instansi pendidikan atau organisasi namun kita tidak sadar bahwa ada satu kekuasaan yang telah membelenggu. Terlebih, sampai pada akhirnya membentuk pandangan kita. Dan kita terbawa dengan sistem yang membelenggu tersebut.


Dalam hal ini, bagi penulis tipologi mahasiswa dapat dibagi menjadi empat. Pertama, mahasiswa yang sadar kalau dirinya berada di sistem dan tidak mengikuti sistem tersebut. Kedua, mahasiswa yang sadar namun tetap mengikuti sistem tersebut. Ketiga mahasiswa yang tidak sadar, namun juga tidak mengikuti sistem. Terakhir mahasiswa yang tidak sadar dan mengikuti sistem tersebut.
Melihat tipologi ini, jelas bahwa yang menjadi perbedaan antara mahasiswa satu dengan mahasiswa yang lain adalah mengenai kesadaran. Jika ternyata mahasiswa sudah berorganisasi tidak sadar dengan pilihannya. Atau mahasiswa yang tidak berorganisasi juga tidak menyadarinya. Maka penulis beranggapan, kita telah gagal menjadi mahasiswa.


Jadi, organisasi hadir bukan hanya sekedar menjadi wahana belajar dan mengembangkan diri selain di kelas. Organisasi hadir adalah sebagai jalan lain untuk membangun sebuah kesadaran. Kalimat yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam pembukaan bukunya, Jejak Langkah “didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”. Kalimat ini mempunyai maksud bukan hanya soal berorganisasi saja, tapi ada tujuan lain yang lebih penting yaitu membangun sebuah kesadaran nasional. Dalam roman ini, Pram jelas menunjukkan ada sebuah pembentukan kesadaran ketika sudah membuat suatu organisasi. Awalnya ketika Sarikat Priyayi yang dibuat oleh Minke nyatanya tidak bisa membangun sebuah kesadaran akan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh Belanda. Karena anggota dari organisasi ini berasal dari priyayi-priyayi yang secara tidak langsung melakukan tindakan penindasan. Lambat laun, Sarikat Priyayi bubar karena tidak ada progress apapun, lahirlah Sarikat Dagang Islamiyah (SDI) yang beranggotakan bukan hanya seorang priyayi saja.


Dari SDI inilah kemudian kesadaran itu lambat laun tumbuh dan berkembang.  Titik pijakan organisasi adalah mendidik rakyat supaya sadar dengan tindakan penindasan yang dilakukan oleh Belanda.  Jika bukan karena kesadaran nasional, tentu tidak akan ada kemerdekaan. Begitupun dengan mahasiswa-mahasiswa yang dicatat sejarah panjang Negara ini. Melakukan perlawan karena didorong oleh kesadaran bersama bahwa ada yang salah dalam pemerintahan saat itu. Inilah yang seharusnya menjadi agenda wajib setiap organisasi yang mengklaim dirinya sebagai organisasi yang besar atau organisasi yang hebat. Organisasi yang mengklaim diri besar dan hebat itu, tanpa ada pembentukan kesadaran, organisasi itu lebih baik mati dan dihancurkan saja. 


Maka, perlu ada dekonstruksi terhadap pemahaman mahasiswa. Dekonstruksi adalah tindakan menghancurkan semuanya kemudian membangun lagi, meskipun dengan materi-materi yang sudah dihancurkan. Anggapan bahwa aktifis mahasiswa adalah mahasiswa yang berorganisasi. Yang aktifis adalah yang turun ke jalan. Yang aktifis adalah yang setiap hari rapat. Anggapan itu harus diganti. Aktifis bukan sekedar ikut organisasi, turun jalan. Aktifis mahasiswa adalah yang sadar posisinya sebagai mahasiswa dan tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan ini, judge secara sepihak para ‘aktifis organisasi’ bahwa mahasiswa yang kuliah pulang-kuliah pulang (kupu-kupu) atau yang lain dianggap sangat menyedihkan, perlu ditinjau ulang. Karena belum tentu mahasiswa yang kupu-kupu tidak sadar dengan apa yang dipilihnya. Kemungkinan sebaliknya, mahasiswa yang aktif organisasi-organisasi ternyata tidak sadar alasan dasar dia berorganisasi. Ini lebih ironis daripada mahasiswa yang sadar, meskipun dia tidak mengikuti organisasi manapun. 

 
Aspirasi yang Mati dan Tulinya Pemerintah

Perbincangan yang sering dinyinyirkan antara segolongan mahasiswa adalah persoalan turun ke jalan  (aksi demonstrasi). Ada yang sangat nyinyir terhadap mahasiswa yang turun aksi, begitupun sebaliknya. Dalam hal ini, kita perlu merefleksikan ulang, apa makna demonstrasi bagi kita. Seperti yang kita ketahui bersama dalam demokrasi Negara kita. Ada berbagai cara untuk menyampaikan aspirasi. Salah satunya adalah dengan demonstrasi. Dari sini sudah jelas, menyuarakan pendapat umum diatur oleh undang-undang. Jadi sah-sah saja, kalau mahasiswa melakukan turun aksi sebagai jalan untuk menyampaikan aspirasi. Yang menjadi permasalahan adalah ketika mahasiswa yang turun aksi tidak tahu alasan yang jelas mengapa dia turun aksi. Turun aksi hanya karena didorong oleh mahasiswa-mahasiswa tua untuk turun aksi. Turun aksi hanya untuk menunjukkan eksistensi diri. Bahkan turun aksi karena ada pesanan saja. Inilah yang perlu dipertimbangkan ulang.


Selain itu, anggapan bahwa turun ke jalan adalah tindakan yang sangat percuma bagi mahasiswa yang nyinyir terhadap mahasiswa yang turun aksi juga perlu dinyinyiri. Teringat dengan tulisan salah satu teman, mengenai semut yang membawa air kemudian disiramkan ke api yang digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim. Jawaban semut itu ketika diperingatkan oleh kawannya. Dengan menyiramkan air minimal semut tersebut menunjukan dia berada dipihak mana. Jadi turun aksi betapapun tidak didengarkan oleh pemerintah, paling tidak menunjukan suatu sikap kita terhadap permasalahan tersebut. Selain itu, pasti lambat laun satu orang bergerak nanti akan memengaruhi satu dua orang yang lain.       


Meskipun persentasi aspirasi kita menjadi pertimbangan sebuah keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah nol persen. Pemerintah mungkin hanya tertawa ketika melihat rakyat dan atau mahasiswa melakukan aksi turun jalan untuk menyuarakan aspirasi. Bahkan mungkin sampai mati berpuluh-puluh orang, pemerintah tidak akan bergeming dalam mempertahankan keputusannya.


Dari sini, mahasiswa sebagai garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi rakyat (dibentuk karena kesadaran)tentu harus memikirkan ulang, bagaimanakah turun jalan ini menjadi sebuah ancaman dan menjadi pertimbangan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakannya. Mahasiswa dan rakyat menjadi macan yang mengaung dengan keras dan menakutkan, bukan kucing yang dibohongi oleh tikus-tikus. Bahkan kemudian ketika diberikan tulang ikan lari dan tertawa-tawa.


Gerakan turun jalan, seharusnya menjadi auman keras bahwa pemerintah harus mempertimbangkan ulang kebijakan yang telah dikeluarkannya. Namun nyatanya, pemerintah seakan tuli akan aspirasi rakyatnya. Banyak kebijakan-kebijakan yang seolah-olah itu adalah kebijakan yang paling baik untuk rakyat dan kemajuan NKRI. Padahal kebijakan tersebut hanya menguntungkan para investor dan kaum borjuis-borjuis. Sudah banyak aspirasi rakyat yang diabaikan. Suara-suara rakyat hanya menjadi ocehan orang gila yang tak pernah didengarkan. Pemerintah hanya mendengar suara-suara para pemegang saham, suara investor-investor, suara-suara Negara-negara asing yang menggoyah-goyahkan karakter bangsanya.


Apakah yang menjadi masalah utama? Penulis beranggapan permasalahan utamanya adalah soal kesadaran. Kesadaran dari pemerintah sebagai pemegang amanat rakyat. Pemerintah harusnya dalam  mengambil keputusan bukan hanya melalui sudut pandang bahwa kebijakannya adalah demi kemajuan bangsa. Bahwa kebijakannya adalah demi kemaslahatan bersama. Pemerintah harus lebih jeli dalam mengambil keputusan. Apakah keputusan tersebut menjadi kebutuhan primer yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Atau jangan-jangan itu hanya menguntungkan segolongan saja. Sebuah kebijakan yang hanya berlabelkan modernitas dan kemajuan kemudian semuanya sah-sah saja untuk diputuskan.


Jadi dalam hal ini, ketika ada penindasan, bukan berarti untuk melepaskan penindasan itu kita harus melakukan penindasan sebaliknya kepada para penindas. Akan tetapi kita harus menyadarkan para penindas tersebut. Lalu bagaimana membangun kesadaran? Jalan paling cepat adalah revolusi. Selain revolusi, jalur lain namun membutuhkan jangka panjang adalah melalui jalur pendidikan. Pemuda terlebih mahasiswa menjadi penanggungjawab utama dalam membangun kesadaran tersebut. Setelah itu berhasil, baru kita patut berbangga menyanyikan lagu yang penulis sebutkan diawal tulisan ini.


Berorganisasilah untuk membangun sebuah kesadaran. Dekonstruksi dan hancurkan organisasi tersebut kalau hanya menciptakan seoarang penindas-penindas baru!


Kemudian terkutuklah bagi kita yang selalu mendewakan kompetisi-kompetisi. Terkutuklah bagi kita yang menganggap kita adalah yang terbaik dan yang lain merugi. Terkutuklah bagi  kita yang merasa bahwa kita adalah orang hebat yang tidak akan ada tandingannya di generasi yang akan datang. Terkutuklah bagi kita yang merasa menjadi dewa, kemudian setiap perkataan adalah dogma-dogma yang harus dilaksanakan. Terkutuklah bagi kita semua!

AhmadAamAhmad
Orang biasa yang ingin jadi luar biasa
Calon kru magang LPM Edukasi 2017 sedang mengikuti Diskusi Edukasi (Disked) terkait dengan teknik penulisan berita yang baik dan benar, (09/10).

Semarang, EdukasiOnline–Sebelum mengikuti Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi bekali calon crew magang dengan pelatihan menulis berita pada Senin (09/10). Menjadi salah satu demisioner LPM Edukasi, Baihaqi dipercaya menjadi pemantik diskusi pada sore hari tersebut.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam ini menjelaskan beberapa hal mengenai berita. Mulai dari pengertian, unsur-unsur, ciri-ciri, macam-macam, teknik, adab, teknis, hingga struktur dalam berita. “Berita itu bermacam-macam, yakni straight news, indepth news, dan feature,” tuturnya dengan tangan yang menulis di papan sebelahnya.

Ia pun kembali menjelaskan perihal teknik penulisan berita. Dimana seperti yang dipaparkannya, berita menggunakan sistem piramida terbalik. “Maksudnya, sebuah berita dimulai dengan hal yang paling penting atau umum, kalimat selanjutnya hanya informasi tambahan,” jelasnya dengan raut wajah yang bersemangat.

Selanjutnya, Baihaqi menerangkan teknik penulisan berita. Menurutnya dalam menulis sebuah berita, jurnalis harus menentukan topik terlebih dahulu, kemudian outline atau kerangka, lalu menentukan narasumber. “Narasumber ada dua, primer dan sekunder,” ungkapnya.
Kembali Baihaqi melanjutkan bahwa seorang jurnalis harus menyusun draft pertanyaan, kemudian melakukan wawancara, menulis hasil reportasenya, dan melakukan editing tulisan dengan redaktur, hingga akhirnya tulisan tersebut dapat dimuat di media online.

Di akhir sesi diskusi, Baihaqi meminta semua calon crew magang yang hadir untuk menulis berita. Selama 30 menit, berita pun dikumpulkan dan diskusi tersebut di akhiri dengan menganalisis berita. (Edu_On/niL)




Semarang, EdukasiOnline-- Kelompok Pekerja Teater (KPT) Beta Fakultas Ilmu  Tarbiyah dan Keguruan (FITK) adakan refleksi untuk memperingati G30S PKI dan Hari Kesaktian Pancasila. Refleksi yang diselenggarakan dalam bentuk teatrikal ini diadakan di depan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FITK ketika jam istirahat tengah berlangsung, siang tadi (02/10).

Dalam refleksi ini, para aktor hanya memainkan gerak belaka sebari diiringi musik intrumental, dimana sebelum refleksi berakhir diputarlah lagu genjer-genjer, sebuah lagu 'haram' pada masa orde baru.

Sutradara acara refleksi ini, Muhamad Asror mengamini bahwa tadi KPT Beta memang memutar lagu genjer-genjer. "Tadi yang diputar adalah lagu genjer-genjer" ungkapnya.

Asror, nama akrab mahasiswa jurusan pendidikan matematika ini, menjelaskan bahwa lagu genjer-genjer dipilih untuk menyesuaikan dengan keadaan yang akan dilustrasikan oleh para pemain. "Saya ingin dari yang diilustrasikan identik dengan PKI" jelasnya.

Senada dengan asror, Bagus Prayoga pemegang tim ilustrasi menjelaskan bahwa dalam memilih lagu disesuaiakan dengan ilustrasi yang ada dalam film penghianatan G30S/PKI.

"Lagu genjer-genjer dipilih sebagaimana dalam film G30S/PKI yang saya tonton, dimana mengilustrasikam keadaan yang tegang" ungkap mahasiswa PIAUD ini. (Edu_On/Yat)