Juli 2017



Kendal, EdukasiOnline- Beberapa pemuda Kendal mengelar launcing pemutaran film Reksa di pendopo kabupaten Kendal pada minggu (30/7) lalu. Film yang di persembahkan untuk ulang tahun kabupaten Kendal ke-412 mengangkat seputar realiatas TKI di Kendal.

Film yang di gawangi oleh Rumah Kreatif Film kendal ini menceritakan sebuah konflik keluarga yang dihadapkan pada problem ekonomi di perdesaan. Dengan menghadirkan Wahyu Zulfahmi sebagai Reksa, cerita film tampak begitu memekau. Film yang berdurasi sekitar 40 menit ini juga menggambil seting tempat di desa Kakung Kendal.

Dalam penggarapannya, film yang naskahnya di tulis oleh Saipul Hadi ini menggandeng beberapa komunitas di Kendal. “Ada komunitas Jarak Dekat, anak Random Band, Stand Up Comedi Indonesia Kendal dan lain sebagainya” tutur Ulin Nuha produser dalam sambutannya.


Namun disayangkan, fim ini kurang mendapat apresiasi dari pemerintah Kendal. “Pemerintahnya kurang apresiasi” ucap Gopang, pengunjung acara launcing tersebut. (Edu_On/ ziz)       


Semarang, EdukasiOnline- Suasana gegap-gempita menyambut sejumlah wajah di Kampus III, UIN Walisongo Semarang. Pasalnya, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang melepas sebanyak 256 Sarjananya.

Dalam acara tersebut Dekan FITK menghimbau kepada para lulusan untuk mengamalkan ilmunya kepada masyarakat. Seperti yang dikutip dalam presss releas “ilmu yang didapatkan selama kuliah sudah saatnya dibagikan kepada masyarakat” tutur Raharjo.

Raharjo juga menyampaikan bahwa tahap ini masih terbilang awal, namun gelar tersebut sudah bisa digunakan untuk melamar pekerjaan yang layak. “Maka patut disukuri, tapi untuk menimba ilmu perjalan masih jauh” ucap pria kelahiran kendal tersebut.

Ia juga berharap bahwa para lulusan mampu berkiprah di masyarakat dan mampu menghadapi tatangan yang nyata di masyarakat. “Kalau selama studi kalian diajar di dalam laborat akademik, kini saatnya kalian kembali kemasyarakat, menuju laborat alam yang sesungguhnya” tegasnya. (Edu_On/ Ziz)      


Doc.Edukasi


Semarang, EdukasiOnline-- Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan & Taiwan Education Centre menyelenggarakan agenda Education Exhibition. Acara tersebut bertempat di American Corner perpustakaan pusat UIN Walisongo Semarang, yang dihadiri sekitar 50 peserta dari wilayah Semarang dan sekitarnya, (20/7).

Menurut Aris Setiawan, tujuan Seminar ini merupakan upaya untuk mengajak mahasiswa supaya melanjutkan jenjang pendidikan ke luar negeri. Khususnya di negeri Taiwan. “PPI Taiwan ingin berbagi pengetahuan tentang beasiswa sekaligus kehidupan di Taiwan, kami berharap ada generasi penerus dari kami yang belajar di Taiwan,” ujar Aris, sapaan akrabnya.

Kemudian, hadir pula Muhibbin selaku Rektor UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa acara tersebut patut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, ia juga berharap nantinya ada mahasiswa dari UIN Walisongo Semarang yang melanjutkan jenjang pendidikan ke Negara Taiwan. “saya sangat berharap ada generasi penerus PPI Taiwan dari UIN Walisongo Semarang,” ujarnya.

Diakhir seminar, pihak PPI dan TEC membuka stand dari berbagai kampus di Taiwan. Sehingga, mahasiswa yang belum sempat bertanya pada sesi diskusi, bisa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pelajar Taiwan di stand tersebut. (Edu_On/ Ozy)


Doc. Edukasi


Semarang, EdukasiOnline-- Badan Layanan Umum (BLU) menyelenggarakan survei pengguna layanan di kampus UIN Walisongo. Agenda ini diikuti oleh 31 mahasiswa dari berbagai fakultas untuk mengisi kuesioner yang telah dirumuskan oleh tim researcher dari Institut Pertanian Bogor (IPB). “Survei ini dilakukan oleh pihak luar agar hasilnya objektif,” kata salah satu researcher, Mutiara, di gedung rektorat lantai 3 kampus I, Kamis (20/7).

            Dalam kuesioner tersebut terdapat beberapa poin yang harus dinilai dari skala 1-5. Angka 1 menunjukkan sangat tidak puas, 2 tidak puas, 3 cukup puas, 4 puas dan 5 sangat puas. Terdapat enam aspek dalam penilaian kepuasan dan kepentingan layanan tersebut. Pertama, penerimaan mahasiswa baru, registrasi, beasiswa. Kedua, proses belajar mengajar, dosen dan fasilitas gedung. ketiga, iklim dan kehidupan kampus. Keempat, kegiatan, kemahasiswaan dan ekstrakulikuler. Kelima, layanan administrasi akademik. Keenam kebersihan, keindahan dan keamanan.

             Staf BLU, Ardian, mengatakan, selain melakukan survei dengan kuesioner, mereka juga telah melakukan Indept interview pada manajemen terkait pengelolaan dan progres keuangan UIN Walisongo.  “BLU juga telah melakukan survei on the spot di di kampus II dan III UIN Walisongo, untuk melihat fasilitas seperti kantin, perpustakaan, dan lain-lain apakah telah sesuai untuk mahasiswa” jelasnya.

            Ardian juga menambahkan, survei dilaksanakan untuk melakukan kroscek apakah data kinerja layanan yang telah diberikan UIN Walisongo sesuai dengan data hasil survei. “Kuesioner tersebut akan dirumuskan, sejauh ini saya lihat sekilas UIN telah sesuai,” pungkasnya. (Edu_On/ Fit)

Doc. Internet


Ardyon Steville

“Aku seharusnya tidak pernah menceraikanmu.”

 Satu kalimat mengambang yang tak pernah selesai. Satu malam yang mengubah hidup amburadulku menjadi makin tak karuan. Satu situasi yang memahamkan jika aku tidak sendirian terpuruk dikehidupan meski nyatanya aku merasa menjadi yang paling terpuruk. Menjadi tak berharga disisa usia, luput dari perhatian lalu menjadi samar dan terlupakan.

Hujan lebat sekali malam ini, suara petir saling menyambar seakan langit mau runtuh. Waktu sudah menunjukan tengah malam, tidak ini sudah pagi, ini sudah jam satu lebih. Orang sinting macam apa yang mengetuk pintu dijam segini, jika tujuannya untuk bertamu maka sialan sudah orang itu mengganggu tidurku yang bahkan belum genap satu jam. Sempoyongan ku cari saklar dan menghidupkan lampu, melihat cermin sebentar memastikan rambutku tidak begitu berantakan.

Akan aku bukakan pintu untuknya sekaligus ku damprat karena tak tahu etika bertamu. Belum lagi aku sempat bersuara hanya mangap-mangap saja mulutku karena si tamu sialan berbicara duluan saat pintu baru ku buka separuh.

“Aku seharusnya tidak pernah menceraikanmu.”

 Hah bicara apa si sialan ini, mataku belum melek sempurna tak bisa mencerna perkataannya dengan baik. Bicara tak karuan sambil menundukkan kepala, orang ini memang sinting. Ku suruh dia memperjelas perkataannya dan menunjukan wajah sementara aku berusaha membuka mata sepenuhnya, dan astaga aku terkejut setengah mati melihat siapa yang berdiri dihadapanku sekarang.
“Boleh aku masuk? Hujan semakin deras dan petir ini seakan mau menyambarku.”

Sisa-sisa keterkejutanku masih ada tapi aku paham yang dia mau, tamu ini sudah tidak jadi sialan jadi aku memperbolehkannnya masuk. Dia duduk begitu saja disofa dekat rak buku, masih sama rasanya, katanya.

“Apa yang kau lakukan pagi buta begini dan apa yang aku lakukan, membukakan pintu di pagi buta begini,” sumpah demi apapun tak pernah ada dipikiran bahwa yang akan datang adalah dia.

“Aku kembali lagi ketempat ini. Semua masih sama, suasananya aroma buku-buku lama , goresan pada kaca jendelanya, hanya ubin-ubinnya yang semakin kuning, kurasa. Dan hei, itu lukisan yang aku beli dulu kan sewaktu berlibur bersama teman-teman kuliah dipadang kan?”

Aku tidak ingat ini sudah tahun keberapa, sudah berapa peristiwa terlewati, dan hampir tidak ada yang berubah. Bajunya selalu polos, Kalau tidak biru ya abu-abu. Rambutnya selalu rapi, Kalau tidak cepak ya sedikit berponi. Hanya, garis-garis wajahnya menyuratkan tidak sedikit hal yang dia lalui tahun-tahun belakangan ini. Astaga, kenapa aku mengingat dan memperhatikannya secara detail.

Melihatnya pada situasi seperti ini aku jadi teringat sesuatu. Ah, laki-laki berwajah sendu ini bertahun-tahun lalu entah apa yang merasukinya datang menemui ibuku. Buk bolehkah aku meminta anakmu untuk ku jadikan istri, aku lelaki baik-baik, aku ramah tidak mudah marah, aku punya pekerjaan dengan gaji yang mumpuni untuk menyewa rumah sendiri, dan aku cinta kepada anakmu. Seperti itu kiranya yang dia pinta kepada ibuku, saat itu aku hanya bisa curi-curi dengar dari dapur sambil menyeduh teh. Aku dilamar Ya Tuhan, aku akan menikah dan hamil, aku akan bangga menjawab pertanyaan siapakah yang mengantarmu bekerja, suamiku.

Aku jadi sibuk berpikir adat apa yang nanti akan kami pakai diresepsi pernikahan kami, aku Jawa dan dia dari Padang. Rumah ibuku tidak begitu luas, bagaimana nanti keluarga besarnya datang kesini, mau disuruh tidur dimana. Mas kawin apa yang nanti diberikan untuk meminangku. Kami harus pemberkatan digereja dekat rumah atau yang dipusat kota, sepertinya yang dipusat kota bagus, kami biasa datang ke pernikahan kawan-kawan kuliah.

Sampai akhirnya kami benar-benar menikah. Keluarganya datang banyak sekali dari Padang, mungkin ada dua puluhan orang. Rumahku benar-benar tidak muat dan meminjam rumah tetangga sebelah untuk tempat menginap mereka sementara. Dihari pernikahan itu pula pertama kali aku bertemu orang tuannya, yang sebentar lagi akan menjadi mertuaku, selama ini kami-aku dan orangtunya-hanya bertukar kabar lewat whatsapp atau skype. Ibunya memberiku kalung perak yang katanya itu warisan keluarga, diberikan kepada menantu dari anak tertua. Aku bahagia sekali, keluarganya menerimaku tanpa menuntut apa-apa, tanpa mempermasalahkan suku kami yang berbeda.

Satu tahun berjalan. Pernikahan kami bahagia layaknya pasangan yang lain. Persis seperti yang diangan-angankan, dia menyewa rumah untuk kami tinggali bersama, setiap hari dia mengantarku ke tempat kerja sebelum dia sendiri pergi bekerja. Pada hari-hari libur kami pergi mengunjungi ibuku dan mampir ke toko buku kecil disana, membeli satu-dua buku atau hanya sekadar melihat-melihat. Tidak ada masalah yang berarti.

Sampai tahun ke dua. Aku hamil. Tidak seperti suami muda lain yang sumringah mendegar kabar bahwa istrinya hamil, laki-laki ini malah mengernyitkan alis. Benar-benar tidak wajar, mungkin pikirannya tengah ruwet tentang pekerjaan atau masalahnya lainnya tapi ini istrinya hamil. Ini hal yang paling dinanti dalam perkawinan kan, hal yang aku nantikan selama ini. Begitu sampai dua bulan usia kandungan, responnya tetap dingin dan acuh. Perhatiannya semakin berkurang padaku, mengajakku bicara hanya soal keperluannya saja.

“Ini sudah dua bulan sejak terakhir kali kita memeriksakan kandunganku,” kami hanya sempat sekali datang ke dokter, itu saat ku kira aku sakit karena selalu muntah-muntah saat makan tapi ternyata aku hamil dan sudah tiga minggu.

“Aku sedang banyak pekerjaan, kau bisa pergi sendiri ke dokter.”

“Aku tidak mau, aku mau suamiku yang mengantarkanku.”

“Tapi aku sibuk,” dia menatapku dengan tatapan kosong dan kalimat yang menggantung.

“Astaga! Istrimu sedang hamil muda dan kau hanya perlu menemaninya pergi ke dokter, itu saja, bukankah semua suami melakukan itu?”

            Aku tidak tahan lagi dengan situasi dan sikapnya yang seperti itu, aku mungkin harus mengabari mertuaku, ya memang keluarga disana belum tahu kalau aku hamil hanya ibuku saja yang ku beri tahu. Kedua mertuaku senang sekali mendengar berita bahwa aku hamil, sekaligus menyayangkan sikap anaknya yang seperti itu, mereka mengatakan bahwa sudah menduga akan ada hal semacam ini dan aku semakin tidak mengerti.

            Ibu mertuaku menceritakan saat dia sedang mengandung anak terakhir-yang tidak pernah dilahirkan- dia sakit karena bawaan janin, begitu berlarut-larut sampai usia lima bulan. Badan ibu menjadi kurus kering, ibu tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya berbaring, tidak bisa mengurus keluarga dengan baik tidak doyan makan apapun, ibu seperti mayat hidup. Ayah mertua, suami, dan kedua adik iparmu jadi terlantar karena kondisi ibu yang begitu. Suamimu terutama, dia menjadi sedih sekali dan lalu tidak mau berbicara banyak dengan ibu, dia mengatakan dia tidak suka melihat ibu hamil, aku tidak mau melihat ibu hamil dan dia tidak suka orang yang sedang hamil. Aku melipat dahi, jadi hal itu terjadi karena trauma masa lalu. Dia mungkin merasa khawatir aku akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami ibunya, dan pula sikapnya berubah karena tidak suka melihat orang hamil. Situasi ini menjadi semakin sulit untukku.

            Jadi ku putuskan untuk mencari waktu yang tepat untuk memberikan pengertian kepada suamiku, sampai suatu malam dia terlebih dulu mengajakku bicara. Masih dengan sikap dinginnya yang menjadi semakin dingin, rasanya ruang keluarga kami beku. Hal gila yang sama sekali tak pernah terlintas dibenakku selanjutnya terjadi. Kau tanda tangani saja surat ini, aku tidak bisa bertahan dalam kondisi seperti ini lebih lama lagi.

 Aku lalu tidak begitu mengerti apa yang terjadi seterusnya, kepalaku pusing sekali dan mungkin aku tertidur semalaman. Yang aku tahu saat bangun darah mengalir dari selangkanganku dan noda merah besar ada diseprai ranjang.
                                                                        ***
“Aku memang tidak pernah berada disisimu, tapi aku tahu semua yang kau alami tahun-tahun belakangan ini. Aku tahu kau pindah pekerjaan, aku tahu kau berganti gaya rambut tiga kali, aku tahu nenekmu meninggal, aku tahu kau kesulitan merawat anak-anak kucingmu.”

“Ya karena tidak punya anak jadi aku merawat anak kucing.”

“Aku senang kau sehat. Aku minta maaf membuatmu kehilangan anak dalam kandunganmu.”

 “Siapa yang memberitahumu kalau aku disini?”

“Tetangga sebelahmu, aku meminta bantuannya.”

”Bagaimana?”

“Aku menemukan memo dipintu kulkas. Dirumah kita berdua dulu, aku mencarimu kesana.”

“Aku.. aku ..”

“Aku menyesali semuannya, aku minta maaf?”

“Sebenarnya ada yang belum kau tahu.”

“Apa?”

“Aku seharusnya tidak pernah mengiyakan permintaanmu untuk bercerai.”