Juni 2017



Semarang, EdukasiOnline.com Meriahkan bulan suci Ramadhan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang akan menggelar agenda “Gebyar Ramadhan”, Selasa, (13/6). Rangkaian acara tersebut meliputi Khataman Al-qur’an, pembacaan Maulid Dziba’, Tausiyah pendidikan, buka bersama, sholat maghrib berjama’ah, sholat tarawih berjama’ah, Pagelaran pentas dan Talk Show pendidikan.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FITK, Ridwan Abdul Maliki mengungkapkan bahwa “Gebyar Ramadhan” merupakan hasil kerjasama antar lembaga intra di FITK. “Semua lembaga di FITK akan andil dalam acara ini,” ujarnya.“Gebyar Ramadhan” tersebut akan berlangsung pada Rabu, 14 Juni 2017 bertempat di lapangan TSC kampus 2 UIN Walisongo Semarang. Mulai dari pukul 15.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB.

Terakhir, Ridwan berharap acara ini mampu menumbuhkan sikap kekeluargaan antar lembaga, birokrasi, serta civitas akademika UIN Walisongo Semarang. “Dengan menjalin silaturrahmi seperti ini harapan saya adalah antara birokrasi dan mahasiswa bisa saling membantu untuk memebenahi persoalan-persoalan yang ada di kampus,” pungkas Ridwan. (Edu_On/ Nil)



Doc. Edukasi
Malam semakin larut, jam besuk rumah sakit sudah ditutup. Hanya terlihat beberapa petugas rumah sakit yang masih terjaga. Diantara petugas tersebut ada Ivang dan Agus yang berjaga di bagian kamar mayat rumah sakit


Semarang, EdukasiOnlineTerdengar suara sirine ambulan melengking dari arah Utara pintu rumah sakit, ketegangan mulai terjadi, pengunjung rumah sakit dibuat gelisah oleh suara melengking keras dari ambulan pengantar mayat gadis remaja yang baru saja meninggal akibat kecelakaan di jalan. “Jalanan selalu mengerikan, banyak orang mati disana,” ujar Agus dengan nada keras mengerikan.

Dengan sigap, Ivang teman jaga Agus malam itu segera mendatangi mayat baru tersebut kemudian membersihkan dan menjahit kepala yang retak akibat kecelakaan di jalan. Dengan kegembiraan entah kebanggaan Ivang merawat mayat tersebut dengan sabar dan penuh ketelitian. Ia bersihkan darah merah kental yang melumuri tubuh gadis berumur 17-an tahun itu dengan kain bersih. Setelah bersih, ia masukkan mayat baru tersebut ke dalam ruang mayat bersama dengan mayat-mayat yang lain.

Waktu menunjukkan pukul setengah satu malam, keadaan rumah sakit mulai lengang. Namun tidak dengan Ivang dan Agus. Mereka berdua tetap siaga dalam tugasnya, menjaga mayat-mayat yang sudah mati dengan berbagai latar belakang kematian yang berbeda-beda.

Lalu, datang seorang wanita muda mengenakan jaket, sepatu dan tas mahal melekat pada tubuhnya. Ia panggil penjaga kamar mayat berkali-kali, sampai bertemulah dia dengan Agus dan juga Ivang penjaga kamar mayat tersebut. Namanya Vampir, kedatangan Vampir malam itu adalah untuk meminta surat kematian palsu untuk neneknya. Surat tersebut nantinya akan digunakan sebagai syarat pembagian harta warisan untuk keluarganya. Begitulah gambaran singkat pementasan teater Metafisis dengan naskah “Nekrofilia”, yang berlangsung di Audit I Kampus I UIN Walisongo Semarang, Jum’at (9/6).

Daya Kejut

Kesan horor telah melekat sejak awal pertunjukan digelar. Dengan mengambil judul “Nekrofilia” dan konsep rumah sakit misalnya. Namun pada kenyataannya kesan itu luntur seketika saat pertunjukkan dimulai. Kejenakaan hadir pada beberapa adegan, mulai dari tingkah si Ivang sampai pada puncaknya yakni munculnya tokoh gila bernama Selamet.

Exploitasi adalah tema besar pertunjukkan malam itu. “Mayat kami simbolkan dengan segala hal, bisa bumi atau langit yang terus di exploitasi,” tutur Mugis sebagai sutradara pementasan teater malam itu. Ia juga menambahkan bahwa judul tersebut hanyalah umpan, untuk perspektif lain penonton bisa memaknainya sendiri.

Kejutan lain kembali hadir di akhir pementasan. Pada awalnya, jika penonton menduga pementasan malam itu mengangkat lakon horor, dugaan itu seolah diputar balikkan pada ending cerita. Dimana dihadirkan seorang mata-mata (Red: Vampir) yang membuka kedok transaksi jual beli organ manusia oleh seorang oknum rumah sakit. (Edu_On/Wir, Ziz)
Ilustrasi: Aziz Afifi


 “jangan lupa kirim pesan kalau kau tiba dengan selamat dirumah”, katamu.
Mendengar risik kotamu
Terpisah trotoar berumput
Dan uap-uap rindu yang membumbung kelangit

Kata berkelakar disudut-sudut terminal
Mendesak keluar dari jendela berdebu
Yang tak lagi kekar

Awan yang sejak pagi bergumul akhirnya muntah
Tampaknya tak mau lagi menemani
Jadi sajak ini harus disudahi

Bus mendadak goyang ketika kubayangkan nyala matamu menderu
“jangan buat aku lupa kalau kita bukan siapa-siapa”, balasku.



Terima kasih, pesan singkat yang kau kirim sudah sampai kemarin
Tapi aku tak membalas sampai hari ini
Aku sedang kena macet
Seperti suatu sore saat buru-buru kau jemput ditempat itu

Tapi memang aku tak menulis apa pun akhir-akhir ini
Lebih suka membayangkan kau bonceng sepanjang Semarangan
Dan jeda diwarung dahar seberang kampus

Kau tak lagi seperti dulu, mengiyakanku?
Bayangkan kalau nanti kita kesana lagi
Dipesan singkat itu ada siluet senja berujung disebuah toko buku tua
Tempat kita suka lupa waktu
Membincang yang ingin kita lewati : kau ada yang tak pernah di ada-ada

Aku suka membayangkan pesan singkat itu memuat gambarmu
Sepah dari keacuhan sikapmu dulu


Tahu kenapa waktu tak ijinkan air mata mengalir dipipimu
Sebab hari ini kita akan pergi bersama
Kau pergi ketempat paling jauh dari punggungku
Aku pergi ketempat paling jauh dari punggungmu

Dan aku tiba diperbatasan antara alismu dan rindu


Karya:  Ardyon Steville
Doc. Edukasi


“Sistem yang dibuat untuk menjadi alat berubah menjadi Tuan. Manusia mau tidak mau harus menjalankan sistem. Hingga manusia lupa akan kemanusiaannya. Menjadi generasi iklan. Kehilangan. Masihkah keakuanmu ada dalam tubuhmu?”
Semarang, Edukasi.Online-- Suara itu terdengar melengking dalam pembukaan pentas teater ASA yang ke 74, dengan mengangkat lakon Berbiak Dalam Asbak, pada Rabu, (7/6). Setelah itu panggung gelap, disertai dengan musik rancak yang bertalu-talu. Kemudian, muncul pula tujuh aktor diatas panggung beserta kotak-kotak yang mereka panggul. Lalu membuat suara berjalan ditempat melalui kotak-kotak yang mereka bawa.

“Mau kemana kamu?” suara itu muncul dalam diri seorang aktor, namun mendapat jawaban yang simpang siur. Jawaban itu semacam “kantor” “kerja” “supermarket” dan lain sebagainya. Hingga kebingungan menghampiri semua tokoh dengan suara yang gaduh. 

Disanalah tokoh aku menjerit “bebaskan aku dalam kesimpang siuran ini, aku takut... berjuta generasi yang selama ini hanya akan mengerang dalam angan-angan, aku tidak mau generasi tumbuh dari penipuan media, bangkit dari kehirupan kota-kota menuju kebangkitan tikus....”, kebingungan itu akhirnya memuncak diselingi lengkingan “beri aku aku”.

Tidak lama kemudian, terdengar teriakan “Mari kita bunuh diri”. Seruan itu datang dari beberapa tokoh. Akhirnya, semua telah mati dengan menunjukkan simbol gerbang lingkaran yang dibakar. Kemudian, musik bertalu sangat pelan, membawa aroma kedamaian. Adegan seolah menjadi menurun temponya dan bergerak agak santai. Namun, tidak lama mereka disergap kebingungan kembali dan di pungkasi dengan teriakan “aku tidak sanggup jadi manusia”.

Naskah Lama

Berbiak Dalam Asbak merupakan naskah karya Zak Surga pada era tahun 90’an, yang didaur ulang sesuai perkembangan zaman. “Naskah ini bercerita soal hidup, kebermaknaan, juga tentang ke-aku-an seseorang yang seolah-olah luntur” tutur Umar Hanafi selaku sutradara. 

Dalam pementasan tersebut, tokoh yang di hadirkan hanya Aku, Mereka satu sampai lima dan si Bisu.  Dalam pengakuan sang sutradara, Bisu ini sebagai simbol orang yang dipaksa diam. “Orang yang dibisukan adalah penggambaran orang-orang yang disuap” tegasnya.  

Hal menarik lainnya dalam pementasan tersebut adalah adegan bunuh diri yang dipentaskan dengan lingkaran terbakar. “ Lingkaran itu saya tafsirkan sebagai bumi dan bunuh diri adalah kiamat” pungkas Umar sapaan akrab Umar Hanafi, dalam diskusi. 

Selain itu, pementasan yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut dapat merefleksikan kehidupan melenial seperti yang terjadi pada masa sekarang. Dimana manusia sering terkontaminasi pada pemikran-pemikiran yang ada dan menjadikan manusia seolah-olah seperti robot yang sudah dikendalikan oleh sistem. (Edu_On/ Ziz)



doc. Internet



Semarang, Edukasi.Online—Pada pementasan yang pertama di tahun 2017, teater Metafisis UIN Walisongo Semarang bakal pentaskan naskah lama tahun 2004 dengan judul “Nekrofilia”, Kamis, (8/6). Pementasan tersebut akan berlangsung pada tanggal 9 Juni 2017 mendatang, bertempat di Audit I lantai I UIN Walisongo Semarang.

Yudhi, penyelenggara acara menyampaikan bahwa setelah melalui beberapa tahap pemilihan naskah, “Nekrofilia” dianggap sebagai naskah yang paling sesuai untuk dipentaskan pada hari Jum’at mendatang. “Beberapa teks telah kami seleksi, diantaranya adalah naskah Pion, Komit, dan Nekrofilia,” ujarnya.

Terakhir, untuk pembelian tiket bisa dipesan lewat Yudhi (085741051612) atau Khafid (08562677741) dengan harga presale 8.000 rupiah dan 10.000 rupiah untuk tiket on the spot. (Edu_On/ Wir)
doc. Internet



“Untung saja bulan dan bintang berada di atas yang tak terjangkau tangan manusia. jika tangan manusia mampu menjangkau ludeslah semuanya”

Gambaran itu merupakan salah satu kutipan dalam buku Dongeng Tentang Kaum Adigang Adigung Adiguna karya Damarurip, dimana menggambarkan keserakahan manusia.  Disinilah akan dibahas mengenai pernyataan sederhana itu.

Buku yang berangkat dari ketertarikan penulis terkait sorotan Ronald Wright atas lukisan dari Paul Gauguin ‘D’ Ou Venons Nous? Qeu Sommes Nous? Au Allons Nous? Yang mengupas tuntas pertanyaan terakhir dari Paul Gauguin. Kalimat berbahasa prancis itu adalah dari mana kita, siapa kita, kemana kita menuju. Penulis mencari langkah berbeda, dengan meramu ketiga pertanyaan itu sekaligus dan mengupasnya secara beruntut.

Pengemasan bahasan dalam buku ini dibuat seperti dialog dengan mendatangkan lawan bicara. Penulis sengaja membuat buku ini seolah-olah normal atas ke-abnormalannya. Penulis terinspirasi dari penyakit Schizophrenia, dimana orang yang mengidap penyakit ini sering berhalusinasi dengan suara-suara, seolah ada orang yang berbicara. Disinilah lawan bicara yang dihadirkan adalah sesosok suara yang akan memulai bercerita, “mendogeng”.

Desain Cerita

Dongeng pertama adalah Ikhwal mereka dan drama yang dimainkan. Dogeng pertama ini cukup menjawab pertanyaan dari mana kita berasal? Berawal dari sosok suara yang menceritakan legenda seorang bernama Dakmenang yang tidak puas akan apa yang ia miliki hingga terus-terus meminta lebih. Keinginannya untuk mendirikan istana, menjadikan ia berbuat menebang pohon-pohon yang di milikinya selama ini untuk memenuhi penghidupannya. Setelah ia menebang pohon itu, baru ia sadari ternyata terik matahari sangat menyengat lantas ia tidak lagi mempunyai bahan makanan. Akhirnya ia berpikir untuk menanam lagi tumbuh-tumbuhan, akan tetapi ternyata tanah sudah tak sesubur dulu sebab ia sering membakar potongan kayu untuk ia makan. 

Ia mengeluh meminta hujan untuk menyuburkan tanahnya kemabali. Namun, akibat dari seringnya ia membakar kayu-kayu untuk memuaskan perutnya. Ia tak sadar jika gas dan uap yang ditimbulkan dari pembakaran tersebut menyebabkan pencemaran udara. Bertambahnya konsentrasi gas di udara menjadikan panas matahari tersekap diatmosfir bumi. Dan menjadikan keadaan bumi ini semakin panas.

Itulah awal cerita buku ini yang membuat tertarik untuk terus dibaca. Sebab penulis benar-benar menggambarkan keadaan orang-orang milinium ini yang penuh dengan kepongahan dan keserakahannya.  Inilah desain cerita dengan realita sekarang yang sekedar mencari kepuasan. Seperti contoh meratakan hutan atau ladang pertanian untuk pabrik-pabrik baru yang dikira lebih menguntungkan dengan memberikan pundi-pundi uang. Lagi-lagi menghamba pada materi, hinga muncul kata-kata kapitalis.

Penulis mencoba menyeret lebih jauh pada pembahasan Adigang, Adigung, Adiguna yang bukan lain adalah judul dari buku ini. Adigang adalah mereka yang mengandalkan kekuatannya. Adigung bentuk mereka yang mengandalkan kekuasaan dan Adiguna yakni mereka yang mengandalkan kepandaian. Disini makna dari ketiga kata tersebut tidak diartikan secara terpisah namun lebih diartikan menjadi satu kesatuan dengan membaca Adigangadigungadiguna dalam satu tarikan nafas. 

Menurut penulis makna dari adigangadigungadiguna yakni semua sifat yang timbul, ditunjukkan atau dimiliki sebagai akibat dari pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan. Jadi kesimpulan pemaknaan tiga kata yang melebur jadi satu itu mengunggul-unggulkan, mengagung-agungkan, serta menomor satukan manusia di atas makhluk lainnya, bahkan di atas pelanet bumi sekalipun. Dimulai dari situlah pembahasan mulai melebar pada sejarah terbentuknya bumi serta kehidupan makhluk-mahluk di awal-awal sejarah kehidupan dimulai.

Peradaban Baru
 
Mengenalkah akan teori big bang Yang dikatakan banyak orang bahwa itulah awal mula terbentuknya bumi, meletusnya gunung Krakatau dan semua proses kehidupan yang menjadikan pembentukan-pembentukkan bumi baru. Pun peradaban-peradaban baru yang turut serta menyertai kehidupan yang terus berkembang. Semua itu dibahas secara rinci dibuku ini sampai peradaban industri yang sedang kita jalani sekarang. 

Peradaban industri diramalkan bahwa bertitik pada perekonomian, nyaris bebas sama sekali dari aturan-aturan politis maupun adat. Jadi kalau orang di peradaban industri merujuk pada perdagangan bebas, itu berarti mereka menginginkan makanan dan kebutuhan hidup dijual dengan harga yang paling menguntungkan bagi produsen tanpa memperdulikan kebutuhan orang-orang miskin dan mereka yang kelaparan. 

Cukup masuk akal kalau prioritas ekonomi didahulukan di atas tanggung jawab sosial. lihat saja sekarang, nyatanya memang benar begitu adanya bukan? Mereka sempoyongan untuk menghidupi dirinya sendiri mengejar kesejahteraan masing-masing dan akhirnya menghiraukan keberadaan orang lain. Seperti halnya kata pepatah Yang miskin semakin miskin yang kaya semakin kaya.
 
Memasuki peradaban industri ini alam menjadi sebuah minaitur yang diperebutkan untuk dikuasai dan dimiliki secara pribadi. Sehingga sah-sah saja jika dieksploitasi, diperkosa untuk menjadi pelayan pribadi bagi setiap orang. Hal itu terjadi sebab di era sekarang semua sudah terpengaruh oleh teknologi dalam industri pengerukan sumber daya alam.

Tidak jauh beda bukan cerita kita dengan cerita Dakmenang? Yang terus-menerus tak puas dan serakah tanpa mementingkan orang lain. Perlulah berkaca dari cerita Dakmenag sebelum lebih jauh melukai bumi terutama diri kita sendiri. Penyesalan itu datangnya diakhir. Tidak akan cukup semua ini untuk kita, ketika kita selalu berfikir “ini teralu sedikit”.

Membaca buku ini, kita seperti dibawa pada masa depan yang mengerikan akibat ulah dari manusia. Prediksi-prediksi dari para peneliti dunia dikupas tuntas untuk menghindari bahaya masa depan yang terjadi, akibat keserakahan manusia. Impian atas bumi merupakan planet ternyaman tidak akan terwujut, sebelum kita berhasil cara bagaimana merawat dan meruwat planet ini. Selamat membaca.

Judul                 : Dongeng Tentang Kaum Adigang   Adigung Adiguna
Penulis            : Damarurip
Tahun terbit  : 2014
Tebal halaman: 559 hlm
Resensator     : Riska Muyasaroh